We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

PROLOG

36 7 22
                                        

Bau antiseptik memenuhi setiap sudut ruangan.

Mesin monitor berdetak pelan, memecah keheningan yang terasa begitu berat.

Bip... Bip... Bip...

Adrian Laurent duduk di sisi ranjang rumah sakit dengan kedua tangan yang masih berlumuran darah kering. Jas hitam mahal yang biasa selalu tampak rapi kini kusut dan robek di beberapa bagian.

Tatapannya tidak pernah lepas dari perempuan yang terbaring di hadapannya.

Wajahnya pucat.

Bibirnya kehilangan warna.

Selang infus, oksigen, dan berbagai alat medis mengelilingi tubuh yang selama ini selalu ia anggap kuat.

"Eleanor..."

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Adrian takut mengucapkan nama itu.

Takut karena ia tidak tahu apakah perempuan itu masih bisa mendengarnya.

Dokter baru saja keluar dari ruang operasi beberapa menit yang lalu.

Kalimatnya masih terngiang jelas.

"Kami sudah melakukan yang terbaik."

Kalimat yang terdengar sederhana.

Namun cukup untuk menghancurkan seluruh dunia Adrian.

Ia menggenggam tangan Eleanor perlahan.

Dingin.

Tidak seperti biasanya.

Dulu tangan itu selalu hangat.

Selalu menjadi tempat pertama yang menggenggamnya ketika ia kehilangan arah.

Selalu menjadi tangan yang menariknya keluar dari mimpi buruk.

Dan bodohnya...

Ia baru menyadari betapa berharganya tangan itu saat hampir kehilangannya.

"Aku di sini..." bisiknya lirih.

Kalimat yang dulu selalu diucapkan Eleanor kepadanya.

Sekarang ia mengembalikannya.

Terlambat.

Sangat terlambat.

Air mata yang selama bertahun-tahun berhasil ia tahan akhirnya jatuh begitu saja.

"Bangun..."

Tidak ada jawaban.

"Eleanor... tolong."

Suaranya bergetar.

"Aku belum sempat minta maaf."

Hening.

Ia menundukkan kepala, lalu mengecup punggung tangan Eleanor dengan sangat hati-hati, seolah takut perempuan itu akan semakin terluka.

"Aku salah."

Kalimat itu terasa seperti ribuan pisau yang menusuk dadanya sendiri.

"Aku pikir membencimu akan menyembuhkan semua luka yang mereka tinggalkan."

Ia tertawa pelan.

Tawa yang lebih mirip tangisan.

"Nyatanya..."

"Aku cuma kehilangan orang yang paling mencintaiku."

Tangannya gemetar ketika mengeluarkan sebuah buku kecil dari saku jasnya.

Sampulnya berwarna biru muda.

Sudut-sudutnya sudah usang.

Di bagian depan hanya ada satu tulisan kecil.

Eleanor.

Diary itu.

Diary yang selama ini tidak pernah ia tahu keberadaannya.

Diary yang baru sampai ke tangannya beberapa jam yang lalu.

Dengan perlahan Adrian membuka halaman terakhir.

Tulisan tangan Eleanor masih begitu rapi.

"Kalau suatu hari nanti kamu membaca halaman ini..."

Napas Adrian tercekat.

"Mungkin aku sudah tidak punya keberanian untuk mengatakan semuanya secara langsung."

Tangannya mulai bergetar.

"Aku tidak pernah menyesal bertemu denganmu."

Setetes air mata jatuh tepat di atas tinta.

"Kalau suatu hari kamu memilih pergi, aku harap kamu tetap hidup dengan bahagia."

Adrian menutup matanya rapat.

Dadanya sesak.

Ia tidak sanggup melanjutkan membaca.

Karena untuk pertama kalinya...

Ia sadar.

Perempuan yang selama ini ia kira adalah musuh...

Tidak pernah sekali pun membencinya.

Suara langkah kaki mendekat.

Seorang perawat berdiri di ambang pintu.

"Tuan Adrian..."

Adrian mengangkat kepala perlahan.

Perawat itu menunduk.

"Pasien mulai kehilangan tekanan darah."

Waktu seakan berhenti.

Adrian menggenggam tangan Eleanor lebih erat.

Jauh di lubuk hatinya, hanya ada satu kalimat yang terus berulang.

Kalimat yang seharusnya ia ucapkan sejak dulu.

"If we had more time..."

If we had more timeStories to obsess over. Discover now