Disebuah desa kecil di Jawa Tengah tepatnya di Desa Kupen, tinggallah seorang bocah laki-laki berusia 11 tahun bersama Ibunya yang sakit-sakitan, ayahnya yang suka mabuk-mabukan dan dua orang adik perempuan yang masih balita.
"Jon..uhuk..uhuk sini bantu Ibu mandikan adikmu dulu" suara serak Ibu yang memanggil Jono.
"Iya buk sebentar" jawab Jono sambil terburu-buru menyelesaikan pr nya.
Jono dan keluarganya tinggal disebuah rumah sederhana yang terbuat dari anyaman bambu dengan dua kamar yang hanya dibatasi sekat papan triplek dan sebuah dapur yang jadi satu dengan ruang tamu, yang hanya diterangi lampu teplok dimalam hari. Rumah itulah yang setidaknya menjadi harta satu-satunya yang mereka miliki walau dengan segala kekurangannya bahkan atapnya selalu bocor saat hujan tiba.
Walau hidup dalam kondisi yang serba terbatas, Jono tidak pernah mengeluh pada orangtuanya justru menjadikan Jono anak yang mandiri. Sebisa mungkin ia manfaatkan waktunya semaksimal mungkin. Waktu yang ada Jono manfaatkan untuk belajar sehingga ia selalu mendapatkan juara disekolah, Jono pergi kesekolah dengan berjalan kaki menyeberangi sungai kecil dan melintasi hutan bambu selama satu jam perjalanan dan sepulang sekolah Jono tidak langsung pulang kerumah, Ia bekerja sebagai kuli bata didekat desanya. Jono sadar akan keterbatasan ekonomi keluarganya maka dari itu ia pun berusaha mencari uang sendiri diusianya yang masih belia. Dari hasil bekerja mengangkat bata, Jono bisa mendapatkan upah 15 ribu per hari setidaknya bisa sebagai tambahan dan sebagian untuk ditabung.
Sehari-harinya Ibu Jono bekerja membuat kue wajik, klepon, cenil dan grontol untuk dititipkan diwarung dekat rumah lalu kemudian siang harinya pergi ke rumah saudagar kayu di Desa Kupen untuk bekerja sebagai tukang cuci sementara anak-anaknya dititipkan pada tetangga hingga Jono pulang dan menjemput adik-adiknya pulang kerumah lalu memandikan dan menyuapi mereka makanan. Sebaliknya, Ayah Jono yang sehari-harinya hanya tahu berjudi dan mabuk-mabukan tidak mau perduli dengan urusan keluarga hingga membuat mereka harus menanggung banyak hutang. Biasanya kalau kalah berjudi ayah Jono akan pulang dalam keadaan mabuk dan memukuli Ibunya, pemandangan itu sudah biasa dihadapi Jono namun apa daya ia tak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa menangis dibalik pohon belakang rumah. Ayah Jono mulai berubah menjadi sosok yang kasar sejak usaha tokonya dulu bangkrut.
Sedikitpun Jono tidak membenci ayahnya, karena bagi Jono seburuk apapun kelakuan sang ayah ia tetaplah ayahnya dan tanpa kedua orangtuanya ia tidak akan ada. Walaupun terkadang ia kesal dengan perbuatan sang ayah namun ia yakin suatu saat ayahnya dapat berubah. Jono adalah anak yang sangat berbakti, begitulah ia dikenal oleh para tetangga dan guru-gurunya. Disekolah Jono juga dikenal pandai matematika dan jago mengarang. Jono mempunyai cita-cita menjadi seorang dokter karena ia ingin dapat mengobati Ibunya selain itu Jono juga ingin menjadi seorang penulis terkenal karena ia juga gemar menulis bahkan beberapa kali hasil tulisan dan puisi nya diikutkan lomba oleh gurunya Bu Rini ke berbagai majalah dan radio.
Setiap punya waktu luang disiang atau sore hari Jono selalu cepat-cepat membereskan tugasnya sambil mendengarkan siaran radio dengan radio tua yang usang peninggalan kakeknya, Jono sangat suka mendengar radio karena ia bisa mengetahui dunia luar melalui program-program di radio, setelah itu ia baru bermain bersama teman-temannya.
Hingga suatu hari Jono diundang ke salah satu radio swasta di luar desanya untuk menceritakan kisah hidupnya atas rekomendasi gurunya yang terharu dengan kisah perjuangan hidup Jono.
"Hai..hai selamat pagi sahabat alam, kembali lagi bersama saya Tara di Alam FM dalam program "Inspirasi", nah sahabat alam kali ini saya tidak sendiri, hari ini kita kedatangan seorang anak laki-laki yang akan membagikan ceritanya bersama sahabat alam semua"ucap seorang penyiar membuka program acaranya.
"Selamat siang dik, kalo boleh kakak tahu siapa nama adik?"
