Matahari sangat terik siang ini. Ditambah, dengan lalu lalang kendaraan yang benar-benar membuat repot pernapasan.
Aku menyampirkan tas berwarna merah maroon pada bahu kanan milikku. Memeluk beberapa buku, dengan langkah yang terpaku pada jalanan trotoar di hadapanku.
Aku ingin pergi ke cafe, tempat dimana aku dan sahabatku selalu menghabiskan waktu bersama. Tapi, itu sudah tak terjadi lagi belakangan ini, mengingat kesibukan masing-masing yang selalu berbeda.
Bunyi lonceng di atas pintu masuk dan ditambah suara pelayan dari depan kasir menyambutku. Bau harum dari ruangan bergaya vintage ini menambah ketenangan tersendiri bagi jiwa yang berada di dalam ragaku.
Langkahku kembali bergerak maju menuju kasir. Karena, tempat pemesanan dan pembayaran dilakukan secara bersamaan.
"Selamat siang. Mau pesan apa, Ka?" tanya sang pelayan wanita itu ramah, Thalita. Nama yang sempat kulihat dari name tagnya. Manis, sama seperti orangnya.
"Frappuchino satu ya, Mba." jawabku dengan senyuman yang membalas keramahannya.
Mba Thalita mengangguk seraya tersenyum. "Baik, Ka. Ditunggu sebentar ya," ucapnya dengan jari jemari yang sibuk di atas layar komputer. "Yang mau pesan, silahkan." teriaknya lagi pada pelanggan yang belum dilayani.
Aku termenung seraya menatap ornamen-ornamen yang menghiasi dinding cafe ini. Semuanya klasik, dan aku menyukainya.
"Ka, ini pesanannya. Silahkan dinikmati!" suara seorang perempuan menyadarkan diriku dari lamunan yang baru tercipta seperkian menit.
Aku menoleh, Mba Thalita rupanya. "Iya, terima kasih." jawabku lalu melenggang pergi dari hadapan kasir.
Tempat duduk dengan jendela lebar dan berhadapan langsung pada jalanan menjadi pilihanku. Ditambah, kursi yang hanya berjumlah dua buah. Benar-benar pas.
Aku menaruh tas milikku di bawah kursi dan mengambil salah satu buku yang sedari tadi aku genggam.
Story of me
Itulah judul buku yang sedang ku tatap saat ini.
Berwarna hitam putih, dengan pita pembatas yang sama padunya.
Aku meletakan buku-buku lainnya di meja dengan minumanku, juga.
Kubuka buku itu perlahan. Halaman yang pertama kali kulihat adalah, lembaran putih, dengan tulisan yang sangat indah di pertengahan lembaran tersebut.
Reasons to stay.
Senyuman tipisku terukir melihatnya.
Jari-jemariku kembali membuka halaman selanjutnya. Yang kutahu, dimana halaman-halaman berikutnya akan menyakiti diriku sendiri.
First reason, he always gives me the news
Satu tahun berlalu, aku, sahabatku, dia dan semuanya kembali berpisah.
Aku berada di SMA favorit di Jakarta, sahabatku hanya berbeda sekolah dengan diriku tetapi masih satu kota.
Dan dia? Dia berada ratusan kilometer jauhnya dari diriku saat ini.
Dahulu, kota yang ditinggalinya sekarang untuk menuntut ilmu adalah kota yang benar-benar ingin aku kunjungi.
YOU ARE READING
Reasons to Stay (Completed) #ShortStory
Teen FictionMenunggu dan bertahan. Dua hal yang membosankan. Terlebih, tanpa kabar yang bagi sebagian umat manusia adalah komunikasi yang paling dibutuhkan. Arina Vannelica. Gadis dengan segala omongan kasarnya dan tingkah memalukannya karena selalu berada...
