Pagi hari itu hilir mudik kendaraan memenuhi jalan-jalan Jakarta. Pemilik kendaraan tersebut berangkat lebih awal demi menghindari macetnya kota. Perlahan cahaya mentari mulai memasuki kamar menerobos tirai-tirai kaca. Raka masih saja terbaring di atas kasur kamar itu. Matanya tertutup dengan selimut menyelimuti tubuhnya. Samar-samar terdengar pintu kamar diketuk. Raka tak terusik.
"Raka, bangun sayang," kata Ibu setelah membuka pintu, lalu menarik selimut Raka. "Hei, sudah siang! Adikmu saja sudah bangun." Ibu mengusap-usap rambut anaknya itu.
Secara tiba-tiba terdengar musik Rock sangat keras di belakang Ibu. Sontak Ibu sangat kaget, tapi Ia sudah paham siapa yang berulah.
"Ma, bukan begitu cara bangunin Raka. Nih biar Sinta tunjukin caranya," kata Sinta sambil melompat mendekati Raka. Tak tanggung-tanggung musik box yang dipegangnya langsung di dekatkan ke telinganya kakaknya. Dengan sekejap Raka terbangun. "Yeeey, Tuh kan, Ma! Kata aku juga apa, ini cara yang paling ampuh," ujar Sinta dengan girangnya.
"Apa-apain sih ganggu orang aja. Berisik tahu!" bentak Raka dengan wajah kusutnya.
Ibu hanya geleng-geleng kepala menyaksikan kelakuan putri bungsunya itu, lalu menengok ke arah putra sulungnya. "Sudah, sudah, cepet mandi sana! Mama tunggu di bawah buat sarapan ya, Ka." Ibu tetap tersenyum menghadapi anaknya itu. "Sini sayang, kita keluar. Biar kakakmu bersiap-siap," ujar Ibu sambil menggandeng Sinta keluar kamar.
"Ah sial! Sudah pagi saja!" ucap Raka dengan nada kesal. "Mana aku dibanding-bandingkan sama Sinta lagi. Memang posisi Dia sebagai adik, tapi kan dia perempuan. Perempuan memang seharusnya bangun lebih pagi. Ahh!" gerutu Raka sambil terus berjalan menuju kamar mandi.
Air pagi ini serasa es yang baru dikeluarkan dari kulkas yang kemudian langsung menyentuh kulit Raka.
"Ahh, apa boleh buat. Aku harus tetap mandi. Seorang pangeran tampan harus tetap jadi pangeran tampan," pikir Raka sambil senyum-senyum sendiri di depan cermin kamar mandi.
Tinggi, tampan, dan cerdas. Kesan ini terlihat pada Raka Anggara. Namun di balik kesempurnaan fisik yang dimilikinya, terkadang muncul sifat-sifat buruk dan kelakuan "aneh". Dan hal itu yang kadang membuat Ia harus berdebat dengan adiknya, Sinta Aureli. Sinta sangat mirip dengan kakaknya, malah terkesan seperti saudara kembar. Hal tersebut tidak terlalu aneh, karena usianya pun hanya selisih satu tahun. Kini keduanya tengah duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama di sekolah yang sama. Raka saat ini kelas dua, sedangkan Sinta satu tingkat di bawahnya. Mereka hidup bersama Ibunya, tanpa didampingi oleh sosok seorang Ayah.
"Ma, hmm.. apa Mama gak punya foto-foto Ayah?" tanya Sinta saat di meja makan.
Ibu yang saat itu sedang mengunyah makanan, berhenti sebentar, lalu menengok sekilas ke arah putrinya. "Enggak ada," jawabnya singkat. Kemudian melanjutkan suapan berikutnya dengan rona wajah yang berbeda. Agak pucat. Seolah mengingat sesuatu yang menyakitkan.
"Satupun, Ma. Masa sih?" protes Sinta.
"Ayahmu kan meninggal sudah sejak lama, Mama sengaja tak menyimpan foto-fotonya agar Mama...." Ucapan Ibu terpotong oleh Sinta.
"Agar Mama apa? Mama jangan egois dong! Sinta kan pengen tahu wajah Ayah. Walau Ayah sudah meninggal, setidaknya Sinta bisa memandang fotonya," ujar Sinta dengan nada marah.
Ibu tak sanggup berkata-kata lagi, jika anak-anaknya sudah tak di depannya, air matanya sudah pasti tak terbendung lagi.
"Sin, Sinta udah! Kita berangkat sekolah yu!" Raka mencoba melerai kemarahan adiknya, walau sebenarnya Ia penasaran juga ingin tahu wajah Ayahnya.
Keduanya tetap berpamitan pada Ibu, walau Sinta tetap memasang wajah marahnya. Hari itu mereka berangkat sekolah tak diantar oleh Ibu. Raka sengaja mengajak Sinta untuk naik bus, karena jika Ibu mengantarnya Raka takut pembicaraan tadi akan berlanjut.
Begitulah. Sejak dulu, Ibu tak pernah cerita banyak mengenai Ayah mereka. Ibu juga tak pernah rela dengan kepergian suaminya. Tapi pengalaman buruknya itu sudah lama di kubur dalam-dalam. Karena untuk mengingatnya saja, ia merasa sakit hati,sedih, dan sangat terpukul, apalagi untuk menceritakan kepada anak-anaknya, terlebih kepada Raka. Ah... bukanlah hal yang mudah. Bahkan Ibu sudah bertekad untuk tak pernah menceritakan kisah kepergian suaminya itu kepada anaknya,walau hanya memperlihatkan sebatas foto wajah suaminya. Ibu ingat betul bagaimana kondisi Raka setelah Ayahnya meninggal secara tak layak. Ketika itu Raka berusia 6 tahun. Kalaupun Sinta terus saja memaksa. Perlu persiapan mental untuk menceritakannya. Dan belum tentu kondisi Raka akan baik-baik saja seperti sekarang.
YOU ARE READING
Cerita di Balik Trauma
Mystery / Thriller"Ia tak mau lemah saat dibutuhkan" "Rasa takut lebih baik dilawan daripada terus mencoba untuk dilupakan" Muncul bayangan-bayangan yang tak dapat ditafsirkan dalam ingatan Raka. Bayangan itu membuat Raka takut. Bayangan tersebut tidak lain adalah in...
