Aku seorang yang pendiam. Sulit sekali berkomunikasi dengan orang yang baru, pikirku lebih baik diam daripada omongan yang keluar dari mulut ini menyakitkan seseorang. Bisa kuhitung dalam satu hari berapa kata yang keluar dari mulut ini.
Temanku tidak banyak, maaf aku salah. Temanku banyak tetapi yang benar benar teman hanya segelintir saja bahkan bisa kuhitung dengan jari. Saat senang mereka memang banyak tetapi saat aku susah hanya beberapa yang selalu ada denganku.
Pacar? Atau kalian menyebutnya apa? Kekasih? Pujaan hati? Ataukah doi?
Saat ini aku mengakui aku memiliki pacar tidak tidak kusebut dia lebahku. Biarkan sesekali aku menyombongkan diri untuk hal ini. Jarang sekali aku memiliki seorang kekasih, kenapa? Tanyakanlah pada hati ini kenapa sangat sulit mencari sosok yang tepat. Tetapi entah kenapa lebahku ini sosok yang aku cari selama ini. Mungkin.
Namaku adalah Senja Bestari, umurku lima belas tahun dan aku bersekolah di salah satu sekolah di kota Bandung. Aku bukanlah anak SMA aku mengambil SMK karena jika aku tidak kuliah aku bisa langsung bekerja. Aku mengambil jurusan Manajemen. Di sekolahku sangat jarang sekali adanya seorang laki-laki bahkan hampir punah.
Aku tidak satu sekolah dengan lebahku, yap dia sekolah mengambil jurusan yang berbeda denganku. Oh ya belum kuperkenalkan namanya. Dia bernama Kaivan Waradana, biasa aku panggil Ivan. Pertama kali aku mengenal dia saat duduk di bangku SMP. Dia teman dekatku awalnya, tetapi karena ketidakpekaanku terhadap seseorang. Ternyata dia menyimpan perasaanku.
Bodohnya aku malah menyukai orang lain. Dasar aku.
Dia baru berani mendekatiku setelah selesai ujian nasional. Di waktu libur yang panjang itulah dia mengisi hari hari kosongku dengan canda tawa. Bahkan dia berhasil membuatku senyum senyum sendiri seperti orang gila.
Yah, aku bersamanya sudah hampir enam bulan. Masih sebentar bagiku. Tetapi entahlah dia sudah membuat kenangan yang indah. Akan kumulai ceritakan kisah ini.
***
Hari ini adalah awal masuk sekolah. Aku harus menjalani masa orientasi, acara ini sudah menjadi acara rutin yang biasa dilakukan oleh siswa baru. Kupikir ini akan menyenangkan, ternyata tidak terlalu.
Dimulai dari senior yang tegas, makan pun diberi waktu sedikit, tidak boleh mengobrol seenaknya, tetapi aku tau ini untuk kebaikan. Dari sini aku belajar bahwa disiplin itu sangat penting.
Aku belum menemukan teman baru. Di bangku pun aku masih duduk sendiri. Yahh, aku berharap akan segera mendapatkan teman. Tidak lama datanglah seseorang dengan kulit putih, badannya tinggi, dan dia cantik. Aku jadi teringat teman SD.
"Bolehkah aku duduk disebelahmu?" ucapnya. Aku hanya bisa menjawab "Iya." setelah itu kami diam. Canggung sekali saat ini, bukannya bertanya siapakah namanya, kenapa aku ini malah diam. Dasar aku.
"Namamu siapa?" aku kaget begitu mendengar dia menanyakan namaku. Dengan malu malu aku menjawabnya.
"Namaku Senja Bestari, kalau kau?" Dia tersenyum.
"Aku Aeleasha Trisna. Namamu unik juga ya. Boleh kupanggil kau Senja?" Namanya sungguh rumit, aku harus memanggilnya apa. Tetapi dia memuji namaku, ah senangnya.
"Tentu saja. Aku memanggilmu apa? Namamu cukup rumit ternyata." ucapku. Jujur saja jika aku panggil dia Ael terdengar aneh bukan? Lebih baik saja aku tanya. Jujur lebih baik 'kan?
YOU ARE READING
Grace
Teen FictionMengingat? indah bagiku Melupakan? mudah bagiku Menyukai? proses awalku untuk mulai mengenalmu lebih jauh Mengagumi? caraku menghargai ciptaan Tuhan Mencintai? aku hanya ingin menghapus kata ini dan ingin membuktikan dengan perilaku Mengikhlaskan? h...
