01

73 7 2
                                        

Ketika sebuah ciuman bisa menjadi penyelamat para putri, tidak mengapa. Asal sebuah ciuman bisa berujung bahagia.

Perempuan itu tersenyum lugu. Rambutnya yang dikepang lebih memperlihatkan sisi kekanakannya daripada menjadi seorang dewasa.

Ada sebuah ciuman kutukan.

Perempuan itu menatap lelaki di sampingnya. Sama sekali tidak menganggap apa yang dikatakan lelaki itu benar.

Ya, ciuman kutukan yang bisa membuat siapa saja tidak merasakan kebahagiaan. Mereka merasakan kepahitan.

Perempuan di depannya tidak membenarkannya. Ia tersenyum penuh arti. Setiap orang mempunyai pendapat yang berbeda mengenai ciuman. Perempuan itu menyandarkan kepalanya di bahu lelaki.

"Aku akan tetap mencintaimu, Ngga."

"Sama hal nya aku ke kamu, Lia."

🌺🌺🌺

Sebuah undangan berwarna hijau berhiaskan serbuk kilauan jika diterpa cahaya, menarik hatinya untuk mengambil.

Terdapat sembulan nama identitas tergores di sampulnya.

A dan F

Gemetar di hatinya tak kunjung hilang saat ia menarik pita yang mengikatnya dan membuka undangan tersebut.

Sinar mata cantiknya yang berwarna kecoklatan memudar. Terbelalak mengetahui sumber kegelisahannya yang muncul sejak pagi ia berangkat kerja.

Inilah jawaban dari semuanya.

Inilah yang ia takutkan.

Inilah yang terjadi.

Hatinya memberontak. Matanya memanas. Yang ia lakukan selanjutnya adalah membanting pintu dan segera melemparkan undangan itu pada perapian ruang tamu rumahnya.

Tidak ada lagi cerita yang bisa ia sampaikan.

Tidak ada lagi senyuman pembangkit semangat.

Tidak ada lagi hari yang sama setelah hari ini.

🌺🌺🌺

Karmelia terbangun dari tidur nyenyaknya. Mimpi itu datang lagi akhir-akhir ini.

Mimpi semasa dia SMA.

Mimpi semasa ia masih lugu dan hanya mengenal satu cinta.

Dirinya baru tersadar jika ia tidak terbangun di kamarnya melainkan di kursi yang sedikit di mundurkan agar menyerupai kasur dan bisa nyenyak di sana. Ia melihat jendela besar dan semuanya tampak berlari.

Rerumputan dan pepohonan, sesekali rumah kecil. Dia harus memutar ingatannya agar ia bisa mengingat kalau ia bisa sampai di sini dalam keadaan sadar.

Ia ingat, ia ada di kereta bukannya di kamar. Ia sedang dalam perjalanannya untuk menghadiri acara di sebuah kampus ternama di Jogja.

Mencoba melupakan penatnya, Karmelia menarik botol di meja kecil yang menempel pada dinding. Ia tidak sadar kalau ia sangat haus hingga ia tersedak dan menyumpah pada dirinya sendiri. "Damn, gimana bisa gue tersedak?"

Karmelia menarik tisu yang ada di handbag nya dan mengusap wajahnya yang ternyata sudah basah oleh keringat.

Ewh, gross, gumamnya.

Diambilnya notes yang selalu ia bawa dan memiliki banyak sejarah kehidupannya dari handbag-nya. Yang dilakukannya ketika sedang kehabisan akal. Dan, memikirkan undangan berwarna hijau.

Tangannya sebenarnya sudah gatal ingin merobek notes itu. Tetapi karena sebuah cahaya yang membuatnya kaget, maka aksi yang ingin ia lakukan pun batal.

Bukannya marah, yang Karmelia lakukan adalah terkejut melihat lelaki di depannya tersenyum kepadanya sembari menggenggam kamera hitam.

"Hei," sapa lelaki itu. Sama sekali tidak menghiraukan tatapan Karmelia.

"Lo nguntit gue ya?" sambar Karmelia. Ia terlihat marah, sangat marah. Terlebih saat lelaki di depannya makin melebarkan senyumnya.

Lelaki di depannya hanya mengangkat bahu. Ia duduk tepat di sebelah Karmelia.

"Bi, selesai bercandanya. Jawab pertanyaan gue," ucapnya lelah. Lelaki yang dipanggil Bi oleh Karmelia tidak menanggapi kemauan Karmelia dengan baik.

"Kalau capek, kenapa harus lari ke Jogja? Lo tahu ini nggak menyelesaikan masalah."

"Kenapa..."

"Gue tahu?"

Karmelia terdiam. Arbian yang selalu menjadi temannya dan akan terus seperti itu menyedekapkan tangannya.

"Lo ada undangan yang mengharuskan lo datang ke sebuah event dimana lo menjadi pembicara atau undangan yang datang tepat di depan pintu rumah lo?" Rambut ikal Arbian yang bergoyang menarik perhatian Karmelia. Ia diam seribu bahasa. Tak mampu menjawab.

"Darimana lo tahu?"

Arbian tidak menjawab, lelaki itu melanjutkan, "Reservasi pembelian kereta tadi malam untuk hari ini dan tiga hari setelahnya gue juga tahu."

"Arbian, berhenti! Lo tahu darimana?"

Arbian menyandarkan punggungnya. Memejamkan mata. Karmelia semakin dibuat bingung oleh lelaki di hadapannya.

Bertemu dengan Arbian pun jarang. Bisa dihitung jari dalam sebulan pertemuan mereka. Yang tidak ia sangka, Arbian tahu semuanya.

Semestinya Karmelia tidak terkejut dengan Arbian yang tahu akan pernikahan Angga yang masih berstatus sebagai pacar Karmelia. Dari latar nama belakang yang sama, Arbian pasti tahu.

Yang tidak ia ketahui adalah Arbian bisa tahu kemana dirinya pergi. Bahkan, Angga tidak tahu kalau dirinya meninggalkan Jakarta untuk sebuah pekerjaan.

"Bi," Karmelia mengguncangkan bahunya sementara Arbian masih damai dengan mata terpejam.

"Bi, berhenti nguntitin gue dan pulang!" Arbian membuka matanya.

"Siapa yang nguntitin lo? Kege-eran banget," katanya malas tetapi selalu diakhiri dengan senyuman. Lelaki itu membuka matanya, menatap kedalam mata keemasan Karmelia.

"Lari dari kenyataan nggak semudah yang lo kira, Kar. Pada akhirnya, lo akan bertemu dengan Arbian juga. Membahas tentang ketidakpahaman ini."

Vous avez atteint le dernier des chapitres publiés.

⏰ Dernière mise à jour : Jun 07, 2019 ⏰

Ajoutez cette histoire à votre Bibliothèque pour être informé des nouveaux chapitres !

CURSED KISS #InderaswantasTaleDes histoires addictives. Découvrez maintenant