"Ssstt...!" mata tajamnya menghujamku. Dada bidangnya terus menekan tubuhku hingga aku tak berkutik tersandar pasrah di sebuah batang pohon di tepi hutan yang lumayan rimbun, tempat kami berada saat ini.
"Kak, apa yang kau laku....hmmp..." belum selesai kaliamatku, bibir basahnya menempel di bibirku. Hangat. Gila!Batinku.
"Aku menginginkanmu," nafasnya memburu meminta lebih." Aku tahu kau takkan menolakku." Satu tangannya yang tadi menarikku ketempat ini memegang kedua lenganku dan membawanya ke atas kepala.
Tanganku mengepal erat. Antara takut dan emosi.
"Hentikan!" Aku memberontak. Dan itu membuatnya semakin membabi buta melumat bibirku. Sungguh, aku takut setengah mati, "Kak,.." lagi-lagi aku tak dapat berkata-kata.
Tuhan, tolong, batinku menangis. Melawan sejadinyapun sepertinya tak berguna.
Aku tak habis pikir, apa yang menghantui Kak Davin, kakak tampan di depanku ini. Kenapa ia jadi sebrutal ini.
Kupejamkan mataku rapat-rapat. Gerakan Kak Davin semakin intens ke area bawahku. Sontak aku menjauhkan badanku darinya sebisa mungkin.
"Kak, please ..." air mata ku tak terbendung lagi.
Bukannya berhenti sosok mengerikan di depanku ini malah semakin liar.
Nafasnya memburu, matanya berkilat tajam.
"Kak, ini bukan dirimu!" jeritku tertahan disela nafasku yang tersengal setelah dia menjauhkan wajahnya.
Davin tertegun menatapku, mungkin karena kata-kataku yang cukup keras tadi. Perlahan matanya meredup. Diturunkannya tanganku, dan digenggamnya jemariku. "Aku menyukaimu, Aliya, sejak pertama kita bertemu. Aku ingin serius denganmu." Satu tangannya yang lain membelai rambutku. Aku bergidik ngeri.
"Kenapa kau ketakutan begini? Ayolah, bukankah sudah kukatakan, aku tak mungkin mempermainkan perasaanmu." desahan nafasnya menghangat di telingaku.
"Tapi bukan begini caranya." Aku menggigit bibir bawahku.
"Aku selalu berusaha meyakinkanmu, tapi kau...ah," rahang Davin mengeras, tangannya meraih daguku."Tatap mataku, Aliya!"
Mau tak mau aku menatap mata hitamnya.
"Kau bisa lihat keseriusanku."
Ya, aku bisa melihatnya, batinku. Tapi tidak, aku tak boleh percaya begitu saja. Davin sudah berubah.
"Aku tak mencari pacar, atau hanya bermain-main, aku mencari calon istri. Aku akan melamarmu jika kau sudah betul-betul siap, hmm?"
Apa ini? Aku harus bagaimana? Sebenarnya apa yang diinginkannya? Mengapa selalu bicaranya soal lamaran, nikah, istri, sedangkan hubunganku dengannya hanya teman, teman dekat mungkin, sebelum akhirnya dia meninggalkanku begitu saja.
Jujur aku tak siap. Kamunya saja mengerikan seperti ini, bagaimana aku bisa yakin? Tiga tahun lebih kita berpisah dan sekarang, baru beberapa saat kita bertemu, langsung mau mengajak nikah? Yang benar saja.
Melihat aku terdiam, ia menatapku lekat, "Oke aku minta maaf! Hmm, maafkan aku." ujarnya mendesah dan melepaskan jemariku perlahan.
Kupejamkan mataku. Aku marutuk, kenapa Siska tak mencariku, bukannya dia cuma mau terima telfon. Kalaupun mencari sinyal memangnya mau sampai sejauh mana. Dan teman -teman peserta kemah yang lain, kenapa tak ada yang melintas di sekitar sini.
Yah, sosok di depanku ini pasti sudah memperhitungkan segalanya.
Dengan sisa keberanianku, kuamati area sekitar, berharap ada yang melihat kami dan Davin bisa menghentikan tingkahnya yang sama sekali tak kuduga. Benar-benar membuat rasa ketertarikanku padanya, yang baru saja muncul kembali, menjadi meluntur begitu saja.
YOU ARE READING
Valley In Love
General Fiction"Aliya, dengarkan aku dulu! Please, Valley....!" Davin berseru tertahan. Aliya tertegun, langkahnya terhenti mendengar suara itu memanggilnya dengan panggilan yang hanya diberikan oleh orang-orang terkasihnya, bertahun-tahun lalu. Haruskan ia luluh...
