Ayahku, Teddy Widjaya, pria sederhana yang teramat mencintai kampungnya, perkebunan tembakaunya dan rumah gubuknya. Tiba-tiba saja menyuruhku meninggalkan Deli untuk kuliah di Jakarta, kota impianku. Entah angin apa yang berhasil menghempaskan pikiran kolotnya dan mengijinkan aku untuk meninggalkan kota ini.
Jangankan untuk menyebrangi pulau, melintasi kota selain Deli dan Medan saja aku tak pernah di ijinkan. Dan kuanggap ini sebagai anugrah atau mungkin bisa jadi sebuah musibah setelah mendengar beberapa syarat yang diajukannya.
"Kamu udah ngomong sama Minoz ?" Tanya Putri, sahabat baikku.
"Belum. Nggak kayaknya..."
"Kenapa ?"
"Buat apa. Dia juga gak akan perduli..." Jawabku
Dia memang tidak perduli, nyatanya dia sudah lebih dulu pergi meninggalkan Deli tanpa pesan padaku, mantan kekasihnya, mungkin!! Tapi seingatku, tak pernah ada kata berpisah diantara kami atau mungkin aku yang kurang menyadarinya.
Aku memeluk Putri dengan erat. Putri menghapus air matanya.
"Tunggu aku di Jakarta..." Bisiknya padaku.
"Pasti..." Jawabku sambil mengedipkan sebelah mata padanya.
Tanpa sepengetahuan orang tuaku, aku dan Putri sudah menyusun rencana untuk tinggal bersama di Jakarta nanti, berdua. Hanya ada aku, Putri dan kehidupan kami sebagai pendekar-pendekar kampung yang siap melawan Jakarta yang terkenal kejam itu.
"Ayah, bagaimana jika keluarga Naoki tidak menyukaiku?" Tanyaku pada ayah di dalam pesawat yang membawa kami menuju Jakarta.
"Mereka akan menyukaimu..." Jawab ayah singkat.
"Bagaimana jika aku yang tidak menyukai mereka?"
"Kau akan menyukai mereka..."
"Ayah yakin sekali..." Kataku merancu.
Ayah hanya tersenyum manis.
Aku memeluk bunda, mencoba melancarkan rayuanku kepada bunda, berharap dia bisa membantuku untuk tidak tinggal bersama keluarga Naoki yang katanya kerabat dekat orang tuaku.
"Aku lihat di Internet, daerah rumah keluarga Naoki itu jauh sekali dari bakal kampusku, Bunda"
"Gak apa-apa"
"Aku bisa tua di jalan nanti"
"Mereka punya supir dan kamu pasti akan di antar jemput nanti"
"Mereka keluarga kaya?" Tanyaku kaget.
"Cukup kaya..."
"Mereka pasti akan malu karena kita miskin, bunda"
"Mereka bukan orang yang seperti itu"
"Aku pasti akan selalu beda pemikiran dengan mereka nanti" Kataku kesal.
Bunda tersenyum manis... "Jangan kecewakan kesempatan yang sudah ayah berikan. Bunda mengerti yang kamu mau, tapi hargai harapan ayah ya"
Aku terdiam. Rencanaku dan Putri tidak akan berjalan semudah yang kami pikir.
* * *
Kami masih di bandara Soekarno Hatta setelah hampir setengah jam menunggu jemputan dari keluarga Naoki yang belum pernah kulihat sama sekali. Ayah sibuk menelpon sahabat masa mudanya yang mengaku terkena macet sehingga datang terlambat. Tapi aku lebih merasa jika mereka lupa untuk menjemput kami, keluarga dari kampung.
YOU ARE READING
Marriage Without Dating
ChickLitNikah di umur 20??? Sungguh di luar bayangan apalagi harapan. Bukan karena cinta, bukan juga menjauhi dosa tapi lebih tepatnya karena terpaksa. Ini ceritaku, hidupku, impianku dan harapanku. Marriage without Dating
