Memang ketika keinginan tidak terbalaskan oleh kenyataan pasti kecewa. Sama halnya sepertiku. Aku juga sama ingin seperti mereka. Hidup normal.
Tapi apa boleh buat? Mungkin sekarang hal yang terindah dalam hidupku adalah bersyukur. Tidak lebih dari itu. Cukup jalani hidup seperti yang dimainkan oleh takdir. Tanpa banyak menuntut.
Masalah takdir aku bisa apa? Seorang anak panti asuhan yang tidak di inginkan orang tuanya. Dibuang. Ditambah takdir yang menjadikan aku untuk tidak melukai hati orang lain melalui lisan. Ya aku bisu. Cukup menyedihkan.
Namun aku cukup berbangga diri bisa hidup dan melihat dunia ini. Apa lagi ditambah orang orang panti yang sangat menyayangiku. Kami disini selalu bahagia meski kami tahu tidak pernah diinginkan di dunia ini. Saling membantu dan saling menyayangi.
Disinilah aku di Panti asuhan kasih bunda. 'Rumah hangat' yang menaungiku dari dinginya hujan dan panasnya matahari sejak belasan tahun yang lalu.
---
Teriknya sinar matahari siang itu membuat seorang siswi yang tengah berdiri di depan tiang bendera sedikit goyah. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya. Pandangannya kini sedikit berbanyang dan tidak lama setelah itu terdengan bunyi jatuh
Brukk
Gadis itu pingsan di bawah tiang bendera karena tak mampu lagi menahan bobot tubuhnya. Tak lama segerombolan orang sudah mengerumuni tubuh gadis itu dan berusaha memindahkannya ke ruang kesehatan.
--
Erangan kecil terdengar dari bibir gadis yang tidur di sebuah bangkar ruang kesehatan. Matanya perlahan terbuka. Dia berusaha menyesuaikan pandangannya dari sinar matahari yang lolos lewat jendela sebelahnya.
Diedarkannya pandangan ke sekeliling ruangan itu. Sisi sebelah kanan ada jendela dan sisi lainnya ada gorden biru muda pemisah bagian ruangan.
'UKS' batinnya.
Di pejamkannya lagi mata itu ketika dia merasakn lagi pening di kepalanya. Tidak tidur hanya terpejam. Tak lama dia dapat merasakan gorden yang memisahkan bagian ruangan terbuka dan di sambung dengan bunyi benda yang di simpan di nakas sebelah bangkarnya.
"Syila!" Ucap seorang gadis disampingnya.
Mata yang tadi terpejam kini perlahan terbuka kembali. Di lihatnya seorang siswi berkacamata seumuran dengannya tengah senyum sambil menatap dirinya. Tak lama dia pun membalas senyuman seolah meyatakan 'aku ga papa'.
"Makan dulu yuk! Kamu pasti belum sarapan" ucap gadis itu seraya membantu dirinya untuk duduk bersandar di kepala bangkar.
Gadis yang di panggil syila itu menerima uluran satu gelas teh hangat dan langsung meminumnya sedikit demi sedikit. Dirasa tenggorokannya sudah basah dia menaruh gelas itu ke nakas yang ada di samping nya. Lalu dia menerima uluran lagi yang kini adalah semangkuk bubur. Dia torehkan senyum termanisnya sebagai tanda terimakasih kepada sahabatnya itu.
Aura Tifani. Satu satunya sahabat yang dia punya selama mengenyam pendidikan di masa putih abu-abunya. Aura gadis sederhana. Sama sepertinya. Namun takdir yang membedakannya. Aura hidup bersama orang tuanya meski dalam kesederhanaan. Sedangkan dia orang tuanya saja dia tidak tahu apakah masih hidup atau tidak. Takdir memang seperti itu.
Baru 3 suapan bubur yang masuk ke mulutnya syila sudah menaruh mangkuk itu ke nakas di sampingnya. Bukan kenyang. Hanya saja rasa pahit yang mendominasi lidahnya ketika memakan bubur yang ada rasanya.
"Kenapa ga di habisin? Kamu harus makan banyak biar cepet sembuh" ucapan Aura yang duduk di kursi sebelah bangkarnya.
Syila hanya mampu menggelengkan kepalanya. Aura yang melihat itu hanya bisa menghembuskan nafasnya. Dia sudah faham bagaimana sifat sahabatnya itu.
--
Teett!!
Bel tanda berakhirnya pelajaran sudah berbunyi. Berbondong bondong semua siswa berhamburan dari kelas masing masing.
Disuatu ruangan kelas kini tersisa seorang gadis yang tengah memberekan barang barangnya dengan santai. Lebih tepatnya lesu.
Tadi setelah dirasa sudah cukup mendingan dia keluar dari ruang UKS menuju kelasnya untuk mengikuti pembelajaran meski sempat tertinggal. Ketika memasuki ruang kelas bersama Aura banyak pandangan yang dilayangkan oleh teman satu kelasnya. Tatapan yang mendominasi adalah tatapan kasihan. Dan dia benci tatapan itu.
Kini setelah semuanya beres dia melangkah keluar kelas dan menyusuri koridor yang sudah sepi. Ya semua orang sudah pulang. Hanya menyisakan beberapa mahluk hidup yang memang ada kepentingan di lingkungan sekolah. Kenapa nunggu sepi? Tatapan itu. Ketika dia ada di kerumuman orang pasti di tatap seperti itu. Seolah dia adalah barang yang sangat rapuh. Dia benci itu. Tatapan kasihan. Karena itu dia menunggu orang lain pulang baru dia bisa pulang.
"Ehh bisu"
Hahh
Hanya hembusan nafas panjang yang bisa dia loloskan ketika mendengar suara itu. Bully. Hanya itu yang terlintas di kepalanya ketika mendengar derap langkah beberapa kaki di belakangnya yang semakin dekat.
Tak lama dirasakannya sesuatu yang dingin mengalir di punggung nya.
'Kenapa aku lagi sih yang kena' keluhnya dalam hati tanpa membalikan badannya menghadap para sumber masalah.
"Lo masih berani sekolah disini? Ga punya malu apa? Udah bisu orang tua ga jelas lagi" meluncurlah kata kata itu seranya dirasakannya sebuah cengkrapan dan tarikan di bahu kanannya sampai tubuh syila berbalik sempurna kebelakang melihat 3 orang gadis sepantarannya. Lalu dorongan kasar ia terima sebagai pelepasan dari cengkraman itu sampai dia mundur beberapa langkah dari tempat berdirinya.
Ringisan tertahan kekuar dari mulutnya sambil memegang bekas cengkraman di bahunya. Menunduk. Itu yang dia bisa. Dia tak mampu membalas apa yang mereka lakukan. Memang dia siapa? Mampu sekolah di sekolah elit dengan beasiswa saja itu sudah patut berbangga diri. Cacian dan makian terus mereka bertiga lontarkan. Entahlah sampai saat ini Syila tak pernah tahu apa salahnya sampai mereka selalu berbuat seperti ini.
Setelah lama mereka terus melontarkan kata kata kasar akhirnya mereka pulang setelah sebelumnya dengan sengaja menabrakan diri ke tubuh Syila. Syila yang tak siap di pijakannya akhirnya jatuh terduduk di lantai koridor.
Apakah hidupnya akan terus semenyedihkan ini? Apakah Syila tidak layak hidup normal? Apakah dengan kebisuannya takdir belum cukup menyiksa? Syila cape terus diam dan menyembunyikan lukanya di balik gelengan kepala. Pertahanannya runtuh. Setetes air mata mengalir membasahi pipinya. Hanya setetes. Tapi butuh perjuangan untuk menyembunyikannya dengan keadaan baik baik saja.
--
Hari sudah mulai petang dan Syila masih berjalan menyusuri terotoar untuk pulang ke 'rumah hangat' nya. Bajunya yang tadi di siram oleh jus masih basah dan menyisakan lengket di tubuhnya.
Sekitar 15 menit akhirnya dia sampai di 'rumah hangat' nya yang langsung di sambut oleh ibu panti yang jelas tercekat gurat khawatir di wajahnya. Sampai di ambang pintu Syila langsung menyalimi punggung tangan wanita paruh baya itu. Setelah menjelaskan alasan dia pulang telat akhirnya dia bisa pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri dilanjutkan mengistirahatkan diri juga fikirannya.
--
Baruuuu:"
3 Mei 2019
KAMU SEDANG MEMBACA
SUARA
Fiksi RemajaDalam hati aku berteriak. Dalam nyata aku membisu. -Sykarana-
