Sejenak, kutelusuri senyum itu. Lengkungan yang selalu bisa memberikan kedamaian untukku, yang dulu terlalu sulit untuk kunikmati, kini sedang sempurna mengembang. Sepanjang waktu, dia terus memasang senyum terbaiknya, menyambut setiap tamu yang datang untuk memberikan doa restu. Di hari bahagianya ini, hanya ada satu hati yang menjerit pilu, merutuki kepedihan takdirnya, namun harus terbalut dalam senyuman penuh kepalsuan. Ialah hatiku.
***
Kami bertemu delapan tahun lalu, saat sama-sama menjadi mahasiswa baru yang buta dengan kehidupan perantauan, apalagi kami berlatar belakang yang sama: anak kampung yang bermimpi menjadi orang besar di kota. Saat itu, aku dan dia tergabung dalam satu organisasi sosial ekstra kampus. Yah, kami bukan tipe mahasiswa yang hobi menghabiskan uang orangtua, kami tipe mahasiswa yang pantang pulang kuliah sebelum menyelesaikan satu permasalahan di masyarakat. Bisa kau bayangkan, betapa kami sering dipertemukan oleh sang waktu? Dan sialnya, sang waktu pula yang menyirami benih rasa itu hingga berkembang menjadi tunas yang siap tumbuh dan mekar kapanpun, bagiku.
Izinkan aku memperkenalkan dia, penggemar empat musim eropa yang mempunyai penggemar rahasia bernama aku. Randy. Aku hanya bisa menyebut nama panggilannya saja, itupun harus kusamarkan. Asal kalian tahu, dia bukan seperti tokoh utama fiksi roman kebanyakan yang digambarkan dengan sosok serba sempurna. Dia jauh dari itu. Si kurus-hitam-cuek yang tak pernah menyisir rambutnya itu tak pernah lepas catatan kecil lusuh yang ia kantongi di saku celana, tak pernah absen mengenakan celana jeans dan tak pernah betah mengenakan kemeja lengan panjang. Lengan kemeja yang digulung sesiku itulah yang bisa mencuri perhatianku setiap kali bertemu dengannya. Klise? Terserah kalian mau berpikir seperti apa. Sebentar, bagian terbaiknya masih kusimpan.
Berawal dari bersama sebagai staf, seiring bergulirnya waktu, di tahun ketiga kuliah kami kerap ditunjuk mengoordinir beberapa acara. Dia koordinator lapangan dan aku sekertaris. Bisa kau bayangkan, betapa setiap hari kontaknya tak pernah absen menghubungiku, baik via chat ataupun panggilan.
"Ra, bagaimana progres proposalnya? Besok mau disebar sama anak sponsorship." Selalu begitu, setiap kali kumenekan tombol 'jawab' pada panggilannya, tanpa ba-bi-bu dia langsung menghujaniku dengan kediktaktorannya.
"Beres. Agendakan rapat minggu ini. Kita harus membuat beberapa rencana ulang," sahutku tak kalah diktaktor.
"Siap, Bu Bos."
End call...
Aku tahu, jika sudah sesewot itu, pertanda dia sedang suntuk. Aku akan merespon dengan mengirimnya beberapa chat gambar motivasi atau meme. Jika masalahnya sangat berat, dia hanya akan meninggalkan tanda centang biru, namun jika dia bisa mengontrol emosinya, dia akan segera membalas chatku dengan emoticon menjulurkan lidah.
Berbeda denganku, Randy bukan tipe cowok yang bisa mengungkapkan apa yang dia rasakan ke orang lain, apalagi ke sosial media. Jangan heran, dia hanya memiliki satu akun media sosial, itu pun untuk mempermudah komunikasi dengan tim-timnya. Dia hanya melakukan komunikasi dunia maya dengan orang-orang yang berkepentingan dengannya. Ohya, aku lupa. Randy sudah lama tidak menjalin hubungan asmara dengan perempuan. Ribet, katanya. Tak heran, tubuhnya sekurus itu karena tak ada yang mengingatkan cowok secuek Randy untuk makan. Maka, aku sudah seperti ibu tiri baik hati baginya. Setiap kali bertemu dengannya, aku selalu menyisipkan sebungkus makanan, tanpa dia tahu. Dia akan mengirimiku chat dengan emoticon makanan dan tulisan "Thx Dira" saat dia menyadari apa yang telah kulakukan.
Ohya, aku lupa memberitahumu satu hal. Aku dan Randy tidak satu jurusan, tidak satu fakultas, dan tidak satu kampus. Kami hanya bertemu dua minggu sekali di basecamp organisasi kami, meningkat jika kami sedang mengurusi acara bersama, bahkan bisa bertemu setiap hari. Jika seperti itu, otomatis aku harus membeli nasi bungkus ekstra setiap harinya, untukku dan Randy. Terkadang aku mengajaknya makan bersama, namun aku lebih sering menyembunyikan nasi bungkus itu dalam tasnya. Aku tahu Randy tidak akan mau memakannya jika urusannya belum selesai. Itulah bagian terkeren dari Randy, dari lensa seorang Dira.
ESTÁS LEYENDO
Spring for You
Ficción GeneralSejenak, kutelusuri senyum itu. Lengkungan yang selalu bisa memberikan kedamaian untukku, yang dulu terlalu sulit untuk kunikmati, kini sedang sempurna mengembang. Sepanjang waktu, dia terus memasang senyum terbaiknya, menyambut setiap tamu yang dat...
