Hari ini adalah hari pertama Dinda menjadi seorang mahasiswa. Setelah mengikuti lelahnya masa orientasi selama seminggu penuh, akhirnya Dinda bisa sedikit menikmati waktu. Jadwal seminggu yang lalu sangat padat, tidak ada banyak waktu untuk istirahat. Untungnya Dinda memiliki kekebalan tubuh yang cukup baik sehingga dia tidak jatuh sakit.
Menjadi mahasiswa fakultas ekonomi adalah impiannya sejak dulu, dia sangat ingin menjadi seorang akuntan, setelah melihat bagaimana dulu ibunya sangat keren memakai pakaian kantoran sebelum akhirnya banring stir sebagai seorang businesswoman.
Kehidupan Dinda sebagai mahasiswa baru cukup sulit, dia sedikit kesulitan mencari teman. Wajah baru, suasana baru dan pertanyaan baru pun mulai muncul, "Bisakah aku mendapatkan teman?"
Sebenarnya Dinda bukan anti sosial, dulu dia memiliki banyak sekali teman. Orangnya yang ceria dan royal, membuat siapapun nyaman berteman dengannya. Namun semua berubah ketika Dinda mulai berbohong. Satu persatu teman meninggalkannya, menganggap semua yang keluar dari mulutnya adalah sebuah kebohongan, sekalipun yang dia katakan adalah sebuah fakta.
Semua bermula ketika seseorang teman mengetahui bahwa sebenarnya sosok ayah yang selama ini Dinda ceritakan tidaklah nyata, sosok ayah yang kasar yang selalu menyakiti hati Dinda dan Ibunya. Ternyata semua itu hanya khayalan Dinda saja.
Cerita Dinda tentang ayahnya yang kasar membuat teman-temannya berpikir Dinda adalah gadis yang kuat yang mampu menghadapi orang seperti ayahnya. Mereka memuji Dinda, memberi dukungan kepada Dinda. Pujian dari teman-temannya membuat Dinda pada akhirnya menjadikan kebohongannya sebagai bagian dalam hidupnya serta memercayai kebohongannya sendiri sehingga dia tidak bisa membedakan lagi mana yang fiktif dan mana yang nyata dari kehidupannya.
YOU ARE READING
LOVE LIES
FanfictionLying is one of the quickest way to ruin a beautiful relationship.
