"BUKAN BEGINI AKHIR KISAH KITA YANG AKU MAU SOFI!"
Kilatan marah jelas terlihat dimata yang biasanya menyiratkan keteduhan itu.
"Lalu aku harus gimana Mas? Terus bertahan sama kamu sedangkan kamu nggak perduli sama aku? Terus pura-pura jadi orang bodoh yang diam saja melihat kelakuan kamu? Membiarkan kamu berkeliaran di luar sana dengan perempuan random yang kamu temui di tempat itu? Itu yang kamu mau Mas?!"
Kilatan marah pada mata itu perlahan redup, diganti dengan raut terkejut yang sangat kentara bertengger disana.
"JAWAB AKU BRENGSEK!"
Runtuh, hancur berkeping-keping hati lelaki itu. Mendengar bidadari hatinya memakinya cukup keras. Hilang sudah kelembutan yang biasanya selalu memeluknya erat. Hilang sudah raut ramah nan lembut milik gadisnya.
"Kamu bahkan nggak bisa tegas sama perasaan kamu sendiri Mas. Kamu egois. Mempertahankan aku, berlaku seakan aku paling bahagia dalam pelukan kamu, sampai kamu nggak sadar kalau bagian dirimu yang lain melukaiku sebegini dalam Mas."
Lagi, suaranya terdengar walau dalam volume yang lebih rendah. Nyaris terdengar seperti rintihan.
Lemas sudah persendian badannya. Ia luruh dihadapan gadisnya. Penyesalan yang tiada ujung tiba-tiba saja menggerogoti separuh ego yang masih coba ia pertahankan.
"Maaf Sof." ucapnya parau. "Aku pikir kita akan baik-baik saja dalam kurun waktu yang lama. Aku kira kamu nggak masalah sama ada atau tidaknya aku di samping kamu. Tapi aku salah Sof, aku lupa kodrat kamu sebagai perempuan yang selalu ingin dikasihi."
Suaranya makin merendah seiring isakan yang kian terdengar mengiris sanubarinya. Ia gagal. Ia membuat wanitanya menangis, lagi. Ia gagal membenahi hati Sofi yang carut marut akibat perbuatan seseorang dimasa lalu.
"Sudah ya Mas. Aku lelah terus menerus seperti ini. Kita akhiri saja semuanya ya Mas."
Ya, pada akhirnya ia harus memilih mengakhiri semuanya. Rancangan masa depan bersama lelaki dihadapannya ini harus ia akhiri sampai disini. Biarlah hatinya yang patah ia tahan sendiri. Toh, ia pernah merasakan hancur yang lebih dari ini.
"Kasih Mas kesempatan Sof, satu kali lagi Mas mohon Sof."
Dipeluknya kaki gadisnya itu dengan penuh penyesalan. Sembari bibirnya terus menggumamkan kata maaf.
"Aku udah terlalu sering ngasih kamu kesempatan Mas. Bahkan aku lupa, ini akan jadi kesempatan keberapa yang coba kamu minta dari aku Mas."
Ia ingin meraung dihadapan Sofi sekarang juga, tapi sisi lelakinya menahan keinginannya itu. Dalam sisa-sisa ego yang nyaris habis dilahap perasaan bersalah ia berdiri dan menatap gadisnya lekat.
Pelukan yang pernah ia namai rumah perlahan mengendur dan nyaris lepas, atau memang sudah terlepas? Kini hatinyapun ikut carut marut mendapati gadisnya tak lagi mentapanya lembut penuh cinta. Detik ini yang ia temukan hanya kilatan kecewa dan juga luka yang sangat dalam.
Sedikit sisa tenaga yang ia punya, ia mencoba peruntungan dengan mengarahkan tangannya untuk membelai rahang rapuh milik gadisnya.
"Sof." ujarnya lirih. Ia tak pernah memperkirakan bahwa hari ini akan menimpa mereka.
Saat ia mengira Sofi kuat tanpa kabarnya, saat ia kira Sofi tak mengetahui perangai bejatnya diluar sana. Tapi ia salah. Bukankah filling perempuan selalu lebih kuat dari apapun di dunia ini? Iya. Dan harusnya ia menyadari ini sejak lama.
"Sofi." ujarnya lagi dibarengi ujung jemarinya yang sudah menyentuh wajah sang dewi.
Lalu hatinya mencelos ketika dengan enggan sang pujaan menampik belainya. Hancur sudah apa yang selama ini ia bangun. Ya, kutuk saja dia yang brengsek ini. Lelaki bodoh yang tega menghancurkan hati sang pujaan. Sungguh, rasanya Juna ingin berteriak lantang, meminta semesta untuk mengutuknya detik itu juga. Melenyapkannya dari hadapan Sofi, atau paling tidak hilangkan saja bayangnya dalam benak Sofi. Asal setelah itu, ia dapat melihat lengkungan sabit kembali bersemayam di wajah Sofi.
YOU ARE READING
RANJAU (end)
RomanceMencintai dan dicintai adalah sifat dasar manusia. Seringkali membawa luka, namun tak jarang mengundang tawa. Kehilangan menjadi teman baik, ikhlas menjadi jimat. Semakin tulus rasamu, semakin remuk hatimu. Sebab beberapa manusia yang diberi ketulus...
