bagian 1

3 1 0
                                        

Seorang gadis yang masih bergelung dibawah selimut itu bergerak gelisah dalam tidurnya.
"Hiks.. tolong.. hiks tolong ivi.. hiks"
Menangis dalam tidur, dan kedua tangannya meremas kuat selimut yang dia pegang.
"Tolong jangan.. hiks.. mamah.. papah tolongin ivi.. hiks"
Keringat mulai bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.
Sampai akhirnya dia tersentak dalam tidurnya sembari memekik keras
"Tolong..huh..huh"
Nafasnya memburu tubuhnya bergetar hebat.
Bahkan dalam keadaan beginipun tidak ada yang membangunkan nya atau disisinya.
'Aku.. sendirian,lagi?' Hati kecilnya bertanya pada dirinya sendiri.
Lantas fikirannya yang menjawab.
'Memangnya kau berharap apa ivi? Dasar bodoh.'
Gadis itupun tertawa dalam tangisannya.
Merasa ini tidaklah adil untuk hidupnya.


Setelah dirasa sedikit tenang dengan  menyalurkan rasa sakit dan sesak yang membelengu hatinya.
Diapun mengusap wajahnya dengan kasar,lalu menengokkan kepalanya untuk melihat jam berapa ini.
Dan jam menunjukan pukul 03:33 AM
Masih pagi buta dan dia tidak bisa melanjutkan tidurnya lagi.
Dia memilih untuk duduk dikursi yang ada dikamarnya.
Dalam gelap dan sunyinya ruangan itu, dia mulai mengambil bungkusan.
Diambilnya benda yang ada dalam bungkusan itu lalu diselipkan nya disela bibirnya.
Mematikkan api pada benda itu dan mulai menghisapnya kuat-kuat lalu menghembuskan asapnya.


Sudah biasa bagi silvia fradella atau biasa dipanggil ivi itu.
Bangun dijam sepagi buta seperti ini hanya karna sebuah mimpi.
Ya, mimpi yang buruk yang pernah dialaminya dulu.
Dan sampai sekarang bayang-bayang itu selalu menghantuinya.
Menariknya semakin dalam dan tersesat dalam kegelapan.
Semakin dalam dan dalam hingga tidak bisa menemukan arahnya untuk pulang.
Tersesat dalam kegelapan tidak ada setitik cahayapun untuk menuntunnya menemukan jalan.


Sekarang ivi berusia 16 tahun masih duduk dibangku SMA.
Ivi bersekolah di SMA bangsa X ipa 2
Sekolah yang terletak didaerahnya.
Ya, ivi tinggal dipedesaan, ivi punya keluarga yang lengkap.
Ibu,ayah,satu abang,satu kakak,dan satu adik laki-laki.
Lengkap memang tapi itu hanya untuk mereka yang melihatnya saja.
Bagi ivi sama sekali tidaklah lengkap
Ivi ada tapi seperti tidak ada,ivi seperti tidak terlihat,tidak dianggap keberadaannya.
Sejak kejadian itu, kejadian yang membuat ivi hancur.
Kejadian 7 tahun yang lalu.
Tapi apa yang mereka bilang.

Flashback

Saat itu ivi berusia 9 tahun duduk dibangku kelas 4 sd.
Karna pertumbuhan badanya yang tidak sesuai untuk anak seusianya, tidak ada yang menyangka kalo ivi masih sd.
Ivi yang saat itu mudah sekali percaya pada orang lain meskipun yang baru dikenalnya mau-mau saja diajak olehnya.
Ya, oleh orang yang baru dikenalnya sejak beberapa hari itu.
Karna ivi melihat dia orang baik, tidak penah ivi berburuk sangka pada orang.
Ditambah juga lingkungan sekolah yang mengucilkannya, bukan para guru-guru yang mengucikan ivi.
Karna ivi termasuk anak yang berfrestasi dalam olahraga.
Malah guru-guru punya harapan lebih untuk ivi, dan mennyayangi ivi.
Tapi lebih kepada murid-murid yang ada disana tidak ada yang menyukai ivi.
Setiap hari ivi selalu mendapatkan pelecehan dari anak murid cowok disana, dan anak murid cewek yang selalu membulinya.
Sikap para murid itu tidak diketahui oleh guru-guru disana.
Ditambah lagi salah satu murid cowok yang selalu ikut-ikutan membuli dan melecehkannya adalah keponakan kepala sekolah.
Ya, seperti itu lah kehidupan masa sd ivi.. tidak ada keadilan untuknya.
                               ●
                               ●
                               ●
Suatu hari ivi main disalah satu rumah temannya, karna dilingkungannya tidak ada yang mau berteman dengan ivi, lantas ivipun main dengan anak-anak yang lebih tua daripadanya.
Ada yang duduk dibangku SMP,SMA ada juga yang sudah tidak sekolah lagi.
"Ivi lo kemana aja? Kenapa sekarang jarang main kesini?" Tanya salah satu teman ivi.
"Dirumah aja kak, hehe maaf kak bentar lagi kan ivi ada perlombaan lari marathon kak nur." Jawab ivi.
"Wahh... lo ikutan perlombaan marathon itu?" Tanya teman ivi yang satunya lagi.
"Iya kak nur,kak yani nanti datang yah buat liat ivi menang." Jawab ivi sambil tersenyum.
"Emang lo yakin bakal menang ivi?" Tanya yang satunya lagi.
"Gak yakin gue lo bakal menang." Sambung teman yang satunya.
Ivi sambil garuk kepalanya yang tidak gatalpun menjawab
"Gak tau sih kak nay tapi ivi bakal usahain biar menang"
Lalu mendengus dan menjawab dengan kesal
"Kok kak yana gitu sih ngomongnya ke ivi ish.."

Mereka nur,yani,naya,dan yana teman ivi.
Nur yang duduk dibangku kelas 2 SMP, yani kelas 1 SMP, naya 1SMP, dan yana kelas 3 SMP.
Tapi ivi tidak.. sama sekali tidak mempermasahkan itu bahkan tentang pergaulan mereka yang terbilang 'bebas' pun ivi tidak mempermasahkan itu.
Karna satu mereka menerima ivi.
Silvia fradella yang dijauhi oleh anak-anak sebayanya.
Itu sudah cukup.

Sampai pada perkenalan ivi dengan yusuf.
Mereka berdua maksudnya ivi dan yusuf diperkenalkan oleh teman-teman ivi.
Hubungan pertemannan ivi dan yusuf baik-baik saja.
Yusuf baik pada ivi, dan ivi menerima kebaikan itu dengan senang.
Ya, teman-teman ivi selalu mengenalkan orang-orang baru pada ivi.
Ivi yang terbilang cantik,berperawakan tinggi,putih,hidung mancung,rambut panjang warna coklat tua,dan bibir yang kecil tapi penuh itu tidak ada yang menduga bahwa dia masih duduk dibangku sd.
Mereka yang bertemu dengan ivi menganggap ivi sudah SMP atau SMA
Dan ivi sendiripun tidak pernah menjelaskan lebih.
Karna ivi pikir itu tidak terlalu penting untuk dijelaskan.
                             ●
                             ●
Sampai dimana ivi difitnah oleh temannya sendiri.
Hanya karna satu laki-laki.
Pertemanan yang sudah terjalin 6 bulan itu berantakan.
Ya, nur memfitnah ivi dan menyebarkan rumor yang tentu tidak benar.
Dibantu oleh yani rumor itu sukses menjadi hantaman besar untuk ivi.
Tapi ivi hanya diam, karna ivi tidak tahu harus apa.
                                  ●
                                  ●
Sampai dimalam itu ivi diajak olehnya.
Oleh yusuf, ivi kira yusuf benar-benar baik pada ivi.
Jadi ivi ikut saja tanpa ada pamikiran negatif sedikitpun.
Ivi dibawa kesebuah rumah kecil didaerah terpencil.
Rumah itu gelap, perasaan ivi mulai gelisah dan itu disadari oleh yusuf.
"Tenang ivi, kakak cuman mau ambil sesuatu dirumah soalnya ada yang ketinggalan." Kata yusuf yang menyadari kegelisahan ivi.
Ivi hanya tersenyum canggung sembari menjawab
"Iya kak yusuf, ivi tunggu disini aja yah."
Yusuf berbalik menghadap ivi lalu menggenggam tangan ivi.
"Ayo masuk ivi, gak enak diluar gelap." Jawabnya sembari mulai mengajak ivi berjalan memasuki rumah itu.
"Tapi kak didalem juga gelap ivi takut" jawab ivi yang memang takit pada gelap.
"Gapapa kan ada kakak." Jawabnya meyakinkan.
Mau tidak mau ivi pun ikut.
Karna diluarpun sama gelapnya ditambah ini sepi.
                                 ●
                                 ●
Tiba didalam rumah yusuf menyalakan lampu tapi lampu itu tidak terang benderang.
Lampu itu hanya memberikan cahaya yang temaram saja.
"Ivi duduk sini." Yusuf berkata sambil menepuk-nepuk kursi sofa yang sudah usang.
Ivipun duduk, suasana hening seketika.
Tanpa ivi sadari daritadi yusuf memperhatikan gerak-gerik ivi yang berada disebelahnya.
Tidak tahan dengan suasana yang 'menyeramkan' menurut ivi, ivipun buka suara.
"Kak ayah sama ibunya kakak mana?" Tanya ivi yang merasa janggal karna disini cuman hanya ada mereka berdua.
Yusuf berdehem sebentar lalu menjawab
"Mereka dikota, kakak disini tinggal sendiri."
Ivipun menjawab
"Ohh... terus kakak masih sekolah atau gimana?" Karna selama ini ivi tidak tahu kalo yusuf itu pelajar atau bukan.
Karna ivipun belum pernah mempertanyakan itu pada yusuf.
Yusuf menjawab
"Hmmm... kakak masih sekolah."
Ivipun hanya mangut-mangut
Lalu teringat akan tujuannya kemari ivipun mengingatkan yusuf akan itu
"Kak katanya kakak mau ambil sesuatukan, soalnya ini udah malam ivi mau pulang." Ya jam menunjukan jam 09:45 malam.
Dan ivi takut dipukul papah atau abang nya karna terlalu malam.
"Ohh.. tunggu sebentar ya disini." Yusuf pun melenggang pergi.
Ivi tidak terlalu memperhatikan karna ivi sedang memikirkan bagaimana kalo nanti dia dipukuli lagi oleh abang atau yang lebih parahnya lagi oleh papahnya.
Yusuf pun datang dan langsung menarik tangan ivi untuk memasuki salah satu ruangan.
Karna ivi yang masih belum sadar dari pamikirannya itu.
ivi pun hanya mengikutinya saja sampai ivi diduduk kan diatas ranjang baru ivi tersadar kalo dia kini ada disebuah kamar dan sedang duduk diatas ranjang.
"Kak ini....

Next chapter berikutnya
Terimakasih yang sudah mau membaca,
Tolong kritik dan sarannya.

 Why Me??Donde viven las historias. Descúbrelo ahora