Awal

9 2 0
                                        

Suara bariton itu mengintrupsi langkah kaki beberapa manusia itu untuk mempercepat langkah kakinya padahal langit masih gelap. Ditambah angin yang masih manja meniupkan hembusan nafasnya. Jika boleh jujur, Mala tak pernah bangun sepagi ini ditambah pakaian lengkap yang sudah melekat ditubuhnya. Beberapa atribut melekat pada tubuhnya, yang paling mencolok ialah slayer oranye yang diikat dilehernya seperti pelaut. Langkah kakinya semakin cepat diikuti dentuman pantofelnya yang menjajaki aspal dipagi buta.

"Langkahnya dipercepat Dek" perintahnya, bukan hanya kepada Mala tetapi beberapa orang seperti dirinya, mahasiswa baru.

sesuai perintah ia pun mempercepat langkahnya, kemeja putih dan rok span ditambah dengan sepatu pantofel dan segala macam atribut yang dipakainya. Menyulitkan dirinya untuk berjalan secara cepat.

'huh, apa sih yang dikejar dipagi buta ini?' keluhnya.

'kerajinan banget, mendingan tidur'

Mala merutuki bahwa beberapa hari kedepan tidurnya akan berkurang dan mungkin matanya akan seperti panda karena kurang tidur. Namun ketika ia asyik dengan lamunannya ia mendengar sebuah suara.

"Hei"

Suaranya terdengar sangat jauh lalu ia menengok ke belakang, namun tidak ada orang hanya ada beberapa orang didepannya menggunakan slayer yang sama. Mungkin ia hanya berhalusinasi, pikirnya. Tapi, suara itu terdengar lagi.

"Hei"

Ia langsung merinding dan mempercepat langkah kakinya, banyak pohon yang besar dan begitu rindang menamambah gelap suasana. Dibenaknya mulai berpikir yang aneh-aneh tentang hantu ataupun makhluk yang tak kasat mata. Namun, bukannya ini sudah subuh, jadi makhluk tersebut seharusnya tidak akan menampakkan dirinya saat ini. Mala segera memusnahkan pikiran anehnya.

Beberapa meter didepannya ia dapat melihat beberapa orang yang membentuk barisan, sebelum memasuki barisan terdapat beberapa orang yang mengecek atribut para Maba tersebut. ketika ia akan masuk lengannya ditahan oleh seseorang.

"Dek?"

Mala menyerit bingung, " kenapa ka?"

"mana slayermu?"

Ia memegang lehernya namun nihil, "Tadi saya pake kok ka, tapi kayaknya jatuh"

Dihadapan Mala perempuan itu tak mengindahkan jawaban darinya, ia segera mengeluarkan note mininya dan sebuah pulpen. Lalu bertanya kepadanya.

"Nama?"

"Adrina Mala"

Wanita dihadapannya pun mencatat namanya. Dirinya pun hanya pasrah, bingung harus berbuat apa.

Kalupun ia ingin mencari slayernya bukankah memerlukan tenaga ditambah ia tidak tahu denah kampusnya. Bagaimana kalau ia tersesat. Lamunannya buyar ketika seorang laki-laki berbicara kepada wanita didepannya.

"Ka, Saya Nemuin ini" lelaki itu memberikan slayer oranye kepada wanita pencatat didepannya.

Mala sangat mengenali slayer itu, "Ka, kayaknya itu slayer saya. Ada huruf M dipinggirannya, pake spidol hitam".

Wanita itu meneliti slayer itu dan ia melihat huruf M yang seperti Mala katakan. Ia memberikan slayer itu kepada Mala, " Yaudah kamu berdua cari barisan sesuai sama jalur masuk".

"Oke, Makasih ka"

Mala membuka suara," Tadi itu lo yang manggil-manggil karena slayer gue jatuh ya?" tanyanya.

Lelaki itupun mengangguk," iya gue panggil lo malah lari".

"Gue pikir hantu hehe" katanya sambil tertawa.

"Yakali, Oiya, Gue Janu"

"Mala"

" Oiya gue ke baris sana ya Mala" tunjuknya kearah barat.

"Ya"

HALOOOO, selamat datang dilapak ku. Semoga kalian suka.

Jangan lupa vote!

see u next chapter luv!

21-Februari-2019

UnreachableVerhalen om door geobsedeerd te raken. Ontdek het nu