CHAPTER I

5.9K 255 18
                                        

Srak.. srak.. srak.. srak...

Suara langkah kakiku terdengar bergesekan dengan guguran daun maple yang menyelimuti jalanan di Temple Avenue.

Sekarang sudah jam 10 malam, jalanan di sekitar Temple Avenue tidak begitu ramai. Hanya beberapa orang saja yang berlalu lalang.

Aku baru saja selesai berbelanja di supermarket dekat apartemen. Membeli segala kebutuhan bulananku. Ini adalah belanja bulanan kelima sejak aku berada di London. Membawa empat kantong belanjaan sendirian ternyata cukup merepotkan. Berjalan kaki pula. Padahal aku tidak membeli bahan makanan, yang aku beli di supermarket dekat apartemen hanya kebutuhan selain makanan pokok dan lauk pauk. Untuk makanan pokok dan lauk pauk, biasanya beli di Halal Mart - East Street London tiap dua minggu sekali. Agak jauh memang dari apartemen, 2.5 mil.

Hawa hangat dari heater mulai terasa ketika aku memasuki lobby apartemenku. Aku cepat - cepat menuju lift, barang bawaanku berat, setidaknya setelah sampai di dalam lift aku bisa menaruhnya di lantai. Untungnya saat itu lift sedang sepi, jadi aku bisa leluasa meletakkan kantong belanjaan di lantai lift tanpa khawatir akan mengganggu siapapun.

Sesampainya di lift aku langsung menekan angka 7. Dari 8 lantai gedung apartemen ini, apartemenku ada di lantai 7, lantai tertinggi sebelum rooftop. Sebenarnya bisa mendapat kamar di lantai 3 atau 4 kurasa cukup memudahkan mobilisasiku. Setidaknya, jika lift penuh aku bisa menggunakam tangga saja untuk naik ke kamar. Tapi karena aku sedikit telat mencari apartemen, akhirnya aku hanya bisa pasrah ketika mendapatkan kamar di lantai tertinggi. Itupun karena kamar ini bekas apartemen Mas Yoga, kakak tingkatku asal Yogyakarta yang baru lulus dari London School of Economics tepat di tahun ketika aku masuk sebagai mahasiswa pascasarjana, kalau tidak dapat 'warisan' aku tidak tahu lagi harus tinggal dimana. Tapi tak apalah, sisi positifnya, aku mendapatkan pemandangan yang paling indah dari sini.

Aku langsung menyusuri lorong sekeluarnya aku dari lift. Kamarku ada di ujung lorong, dekat jendela besar yang menghadap ke jalan. Masing - masing lantai disini terdiri dari 4 unit apartemen dengan ukuran setiap kamar 4 x 7 meter. Cukup nyaman kalau buatku. Toh meskipun agak sempit, aku menggunakan apartemenku sendirian.

 Toh meskipun agak sempit, aku menggunakan apartemenku sendirian

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Kondisi lorong cukup sepi. Tadi pagi Cheung, tetangga sebelah kamarku itu mengatakan bahwa ia akan pergi ke Mechaster untuk mendatangi ulang tahun temannya. Sedangkan Sarah, gadis Yordania itu kelihatannya belum pulang dari kampus. Ya.. mulai dari awal aku tinggal disini memang Sarah sudah jarang di apartemen karena lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan kampus untuk mengerjakan thesisnya. Sedangkan penghuni apartemen di depanku, aku belum pernah bertemu sama sekali. Cheung yang pernah bertemu dengan pria itu, namun menurut Cheung pria ini cukup tertutup. Jarang pula dia tinggal di Apartemennya.

Setelah selesai membuka kunci apartemen, aku langsung memasukkan kantong belanjaanku ke dalam. Empat kantong besar berisi sabun - sabunan, skin care, pewangi ruangan, gula, dll itu aku letakkan diatas meja pantry. Jendela kamar kubuka lebar agar udara segar bisa masuk kedalam, ini adalah kebiasaanku sejak di Indonesia dulu, membuka jendela beberapa menit setelah membiarkan ruangan kosong agar udara di dalam ruangan bisa bertukar dengan udara segar dari luar. Kurasakan atmosfer London dari jendela, dingin memang, tapi aku menikmatinya, aku menarik nafas panjang, memejamkan mata, lalu mengucap syukur sebanyak - banyaknya karena Allah telah mengizinkanku menginjakkan kaki di negeri Ratu Elizabeth ini.

Marrying The OutlanderWhere stories live. Discover now