Prolog

117 17 39
                                        

"Disekolah aku selalu sendiri, aku tidak pandai bergaul, aku tidak pandai mencari teman. Atau lebih tepatnya, aku yang selalu mengasingkan diri dari mereka. Tidak hanya satu atau dua saja yang mengajakku berbicara, kadang mereka juga mengajakku kekantin bersama. Aku hanya menjawab "kalian duluan saja" atau cukup gelengan kepala mereka sudah mengerti kemudian mereka pergi" ucapnya dengan ekspresi yang masih datar tapi sorot mata yang selalu memancarkan kesedihan.

"Dirumah?" tanya seorang konselor sebaya, berperawakan tinggi dan tegap.

Kini sorot matanya memancarkan kebencian "Dirumah, kurasa tidak jauh beda" jawabnya.

'Semuanya berubah sejak setahun yang lalu' sambungnya dalam hati.

"Nama kamu siapa?" tanyanya lagi.

"Namaku, Rina. Rina Permata Dewi Agung".

"Saya, Bimo. Bimo Alfiakbar" ucapnya sambil mengulurkan tangan, "sekarang kita berteman" sambungnya disertai senyuman hangat.

Rina memperhatikan uluran tangan Bimo dengan rasa cemas, Rina takut berteman dengan orang asing. Ada banyak yang mengajak Rina untuk berteman tapi dia selalu menolaknya.

'Apa salahnya untuk memulai bukan?' tanya batinnya.

==

Hai pejuang update an hari kamis dari yang manis untuk kamu yang manis-manis❤️

Prolognya gimana?

Kira-kira lanjutannya gimana yah?

Ada yang bisa nebak endingnya nggak? hehehe
(baru juga mulai, dasar aku *tepuk jidat)

Jangan lupa bintangnya yah:)

salam dari sang pelupa.

Mimpi dalam tidurWhere stories live. Discover now