Bab 1

21 1 1
                                        

Bab 1

Sebelum aku bertemu denganmu, hidupku tidak berwarna. Hanya ada warna putih, abu dan hitam. Hidupku berwarna, sangat berwarna ketika bertemu denganmu di hari itu. Kamu yang selalu mengisi hari-hariku, yang awalnya terasa membosankan menjadi menyenangkan. Kamu juga yang selalu mewarnai ruang-ruang yang tidak berwarna di hidupku, hingga sudah tidak ada ruang lagi untuk diwarnai.

Hanya saat itu. Sejak kamu menghilang semuanya tidaklah sama lagi. Kamu menghilang tanpa kabar, tanpa jejak, tanpa diriku. Hidupku kembali seperti semula, hanya tersimpan kenangan dibalik semua itu. Hidupku yang sudah kamu warnai, kembali luntur bersama denganmu yang pergi meninggalkan diriku.

Kadang aku berpikir, alangkah baiknya jika kamu tidak pernah datang. Tidak pernah mewarnai hidupku yang sejak awal tidak berwarna ini. Jika pada akhirnya kamu juga akan meniggalkan diriku dan membawa pergi semua warna-warna itu. Alangkah baiknya.. hanya itu yang bisa kusesali sekarang. Kadang aku bertanya-tanya, bukankah lebih baik hidup itu hanya diwarnai oleh warna putih, abu dan hitam?

Apakah kamu juga memikirkan hal yang sama denganku? Atau, hanya aku sendiri yang berpikiran seperti ini? Apakah waktu itu kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku? Atau hanya aku saja yang memiliki perasaan aneh ini terhadap dirimu? Aku tidak bisa apa-apa lagi sekarang. Aku ingin sekali melupakan dirimu, tapi aku tidak bisa. Karena kamu yang paling pertama mewarnai hidupku yang awalnya hanya diwarnai oleh putih, abu dan hitam.

Waktu memang kejam. Ini semua terjadi karena waktu. Waktu yang mempertemukan kita. Waktu juga yang menumbuhkan perasaanku ini terhadap dirimu. Waktu juga yang memisahkan kita berdua hingga saat ini. Tapi, kadang aku bertanya dengan diriku sendiri. Apakah waktu juga yang akan membawa kita kembali bersama? Atau, akankah waktu membunuh perasaanku terhadap dirimu dan mempertemukanku dengan orang lain yang juga mewarnai hidupku? Yah.. itu bergantung kepada waktu. Tidak ada yang tahu kapan waktu kita akan habis, tidak akan ada yang tahu apa yang terjadi di waktu selanjutnya.

Semua berjalan seiring waktu berjalan. Kita hanya bisa mengikuti alur yang sudah dibuat. Kita hanya bisa menunggu waktunya saja. Semoga saja kali ini waktu berpihak kepadaku, entah aku dipertemukan dengan orang lain yang bisa membuatku melupakan dirimu, atau mempertemukan kita kembali.


You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Feb 16, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Berdasarkan WaktuStories to obsess over. Discover now