Saat ia menampakkan dirinya
Menghasutku tuk memilihnya
Untuk mengikutinya
Meninggalkan apa yang kuinginkan
Meski ku harus terluka
Meski ku harus merasakan sakit
Sekeras apapun ku menolak
Pada akhirnya
Aku yang akan kalah
-KAV-
Aku menghela nafas lelah. Perlu kalian tahu. Hanya melalui tulisan ini, aku dapat mencurahkan apa yang aku rasakan. Merangkai huruf demi huruf hingga menjadi sebuah kata, dan kata demi kata, hingga menjadi sebuah kalimat. Karena bibir ini masih belum ingin bicara kepada orang lain, dan hati ini masih dengan ego yang sama. Lalu, ku tutup buku ini saat aku mendengar ada yang memanggilku.
"Naraa... Apakah kamu tidak sekolah? Ayo sarapan dulu sayang." Ucap seseorang yang tak lain adalah ibuku.
"Iya, mah. Nara akan segera turun." Ucapku sambil bersiap siap untuk menggendong tas sekolah.
Kacinara Aurilla Vasyn adalah namaku. Biasanya, aku dipanggil Nara. Sekarang, aku kelas 2 SMA. Aku anak IPS. Tepatnya, XI IPS 1. Okey. Jadi, sebelum aku meninggalkan kamarku ini, sejenak kulihat pantulan diriku di depan cermin.
Yah, seperti biasa. Kantung mata yang besar melebihi besarnya kantung doraemon, lingkaran hitam yang mulai tambah menghitam. Tak ada bedanya. Lalu, ku ambil sebuah bedak bayi di meja depan cermin ini dan memakainya. Setelah memakai bedak bayi dan sedikit lip ice (supaya bibir tidak kering), aku segera beranjak meninggalkan kamarku.
Saat menuruni tangga rumah, ku lihat sudah ada mamah, papah dan...
"Ko Lanooo!!!" Ucapku mempercepat langkah.
"Naraa.. pelan pelan, sayang. Nanti kamu ja-"
Bruk!
"Nah, kan. Mamah kan sudah bilang." Ucap mamah membantuku untuk berdiri. Yap! Aku terjerembab ke lantai. Nasib baik, aku tidak mengelinding di tangga. Heheheee..
Melvalano Alghani Vasyn. Dia adalah satu satunya saudara kandung yang aku punya. Hubunganku dengannya, sangat dekat. Dia dipanggil Lano. Ia sudah berkuliah di Jogja. Kami terpaut 4 tahun.
"Masih aja ceroboh kamu, ya dek." Kekeh Ko Lano.
"Ini kan salah koko juga. Kenapa pulang nggak ngasih tau Nara, sih." Ucapku pura pura merajuk.
"Utututuuu... Adek kesayangan koko ngambek nih critanya? Ya udah, sebagai gantinya, koko bakal nganterin kamu ke sekolah dan bakal jemput kamu dari sekolah. Gimana?" Tawarnya.
"Okey. Tapi ada syaratnya." Ucapku dengan senyuman devil.
"Apa?"
"Pulang sekolah, kita mampir ke kedai ya. Nara pengin pesan seperti biasa. Ya ya ya??" Ucapku dengan puppy ice.
"Okey! Siap, bos!" Ucap Ko Lano dengan posisi hormat seperti hormat pada bendera.
"Sudah, sudah. Sarapan dulu. Nanti kamu terlambat lho, Ra." Ucap mamah.
🐾
"Naraaa!!!!!" Teriak seseorang.
"Nggak usah teriak bisa, kan? Telinga gue masih ada dua, kok." Ucapku mendengus.
"Hehehehee... Maaf, Ra. Habisnya, lo ngeselin sih. Chat gue tadi malam kenapa nggak dibalas, huh?" Ucap cewek itu protes.
"Ya, sorry. Gue ketiduran. Emang, lo chat apa sih?" Ucap aku tidak tahu. Aku memang beneran tidak tahu.
"Isshh! Sebel deh." Ucapnya merajuk.
Andara Deuly Gripsa adalah sahabatku sejak kecil. Panggil saja Dara. Kami sangat sangat akrab. Jika dipikir pikir, kami seperti anak kembar. Mulai dari nama. Nara dan Dara. Hanya berbeda huruf pertama saja. Untuk itu, Dara di panggil 'Dar' dan aku dipanggil 'Ra'.
ESTÁS LEYENDO
Klandestin
Novela JuvenilSaat kau mencoba tersenyum, namun hati enggan tuk melakukannya. Saat kau mencoba acuh, namun hati tetap peduli. Saat kau mencoba mementingkan ego, namun hati berkata sebaliknya. Itulah hati. Ingin menang sendiri. Tetapi, terkadang kita tak harus me...
