PROLOG

144 11 4
                                        

Senja ini masih sama seperti kemarin, tidak ada yang berubah. Aku juga masih tetap sama seperti sepuluh tahun yang lalu, seorang diri tanpa cinta dan kasih. Siapa kau hanya gadis yatim piatu, yang kebetulan memiliki banyak harta warisan.

Perusahaan masih di pimpin oleh adik dari mendiang ayah, rumah juga sama. Hidupku penuh dengan benalu bermuka dua, di depanku baik tapi di belakangku siap menikam. Kalo boleh jujur aku hanya ingin di sayang oleh keluargaku sendiri, bukan hanya sekedar formalitas.

Nasib baik mungkin telah pergi dari hidupku, sepuluh tahun telah berlalu tapi semua tetap sama. Aku hanya gadis yatim piatu, seorang diri di tengah gelimang harta yang kumiliki. Haruskah aku menyalahkan takdir, atau menerima nasib saja.

"Naura, jangan seperti tuan putri! "Ucap tante maudy "bantu tante di dapur"

Begitulah selalu saja setiap pagi, uang banyak tapi pelit buat sewa pembantu. Naura bantu ini, naura bantu itu, coba kalo si anak kesayangan rachel pasti jadi tuan putri beneran. Padahal semua kebutuhan dari uangku, milik almarhum papaku.

Sudahlah lebih baik aku bantu tante maudy di dapur, dari pada ribet dengar suara bawelnya. Jangan samakan aku dengan cinderella karena aku bukan dia, cinderella hanya cerita dongeng. Aku adalah Naura, tidak semengalah cinderella pada ibu tirinya.

Sebenarnya mudah tinggal usir saja, tapi aku bukan manusia yang tamak akan harta. Meski kadang keterlaluan tapi merekalah keluarga yang aku punya. Aku hanya butuh kasih sayang, dan hangatnya pelukan keluarga.

Begitulah pagiku, sebelum berangkat ke kampus pasti membantu bibi maudy menyiapkan sarapan serta cuci piring. Aku tak masalah, karena memasak memang sudah jadi hobiku sedari kecil. Aku hanya berharap mereka semua lebih sayang padaku, bukan menganggapku atm berjalan.

Tanpa sengaja aku mendengar ucapan mereka, seseorang berencana akan menyingkirkanku. Aku belum tahu siapa, tapi dari suaranya aku bisa mendengar jika itu ulah paman dan bibiku. Apa salahku sampai mereka begitu membenciku, aku tak butuh harta.

"Bos kapan kita singkirkan dia," ucap seseorang

"Tunggu waktu yang tepat, jika pengacau cilik itu mati, maka hartanya akan jadi milik kita," ucap bibi Maudy

"Tentu saja sayang, kita juga tidak perlu kasih makan anak sialan itu," ucap paman Smith

Astaga, ternyata di dunia ini masih ada orang yang gelap mata. Aku keponakan mereka, masih satu darah. Aku harus bagaimana, pasrah saja jika setiap saat nyawaku dalam bahaya. Apa aku harus pergi dari rumah ini, satu-satunya harta peninggalan kedua orang tuaku.

Aku mengagumi kamu, tampan penuh pesona dan berwibawa. Sayang sekali, aku tak berani mendekat ke arahmu kamu terlalu jauh untuk di gapai. Semoga kita bisa bertemu lagi, jika takdir dan nasib masih menjodohkan kita.

Apakah aku akan mati di tangan paman dan bibiku, atau berbahagia dengan orang yang diam-diam hadir dalam setiap mimpi malamku. Lelaki tampan yang tak pernah ku kenal namun selalu hadir dalam angan seperti aku telah mengenalnya sangat lama. Biarlah takdir yang akan berbicara, akan seperti apa hidup yang akan kujalani nanti.

Seperti cinderella dan sepatu kacanya, atau seperti ariel si mermaid atau bahkan seperti belle dalam beauty and the best. Realita tidak akan sama seperti cerita dongeng, berakhir bahagia atau makin menderit hanya waktu yang akan menjawab semua.


Endang violetta
===============


Selamat pagi, hari ini hadir dengan cerita baru bergenre fantasi. Semoga kalian suka, cerita ini ikut dalam 90 hari nulis fiksi

#90harifiksi
#90harinulisfiksi
#infinitylovink

WEREWOLF MATEStories to obsess over. Discover now