PROLOG

40 0 0
                                        




Malam itu petir terlihat begitu bersemangat bersahutan, dengan kilatan-kilatan putih dan biru yang terlihat seperti sedang bermain kejar-kejaran di langit sana. Aku masih duduk dengan setengah mengantuk dimeja ini, temanku sudah pulang sementara aku terjebak hujan dan tidak membawa payung, mungkin aku tidur di sini lagi malam ini.

Pintu yang sudah jelas-jelas menunjukan tulisan CLOSE itu tampak di buka dari luar di sertai derapan langkah yang terdengar gelisah, aku membulatkan mataku mencoba untuk melihat dengan jelas siapa sosok yang setengah berlari ke arahku, apakah dia manusia sungguhan atau hantu mengingat ini sudah lewat tengah malam. Dia tersenyum, tidak! mungkin aku yang berhalusinasi dia tersenyum, karena nyatanya dia sedang terlihat panik, matanya tidak berpaling sedikit pun memandangi sesuatu dalam dekapan nya. Sesuatu yang terlihat dibungkus blazer abu-abunya, sesuatu yang terlihat berlumuran darah.

"Please help this cat, he is pain" ucapnya tak karuan, tangannya masih mendekap sesuatu di tangannya dengan erat, lembut dan penuh kasih sayang.

Aku hanya membeku, menatapnya tanpa kedip sepertinya, rambut panjangnya basah dan seluruh pakaiannya terlihat basah kuyup tapi dia sama sekali tidak merasa kedinginan sedikit pun. Dia hanya terus menghawatirkan sesuatu didekapannya, berteriak dengan histeris menyuruhku untuk segera menolongnya.

"Did you become a doctor just for stood there?!!" bentaknya dan aku baru sadar kalau aku memandanginya sudah hampir dua menit,

"I'm sorry.." ucapku terbata-bata, menerima sesuatu didalam dekapannya. Seekor kucing kecil manis yang tengah kesakitan dan menggigil, dia berlumuran darah.

"He seemed to run over, I found it in the street, he's okay ?" tanyanya ketakutan, wajah pucatnya terus menatap kucing manis malang yang sekarang ada dalam dekapanku, dan aku merasa darahku berhenti mengalir menatap wajah pucatnya. Dia masih terlihat cantik, bagaimana mungkin gadis pucat itu masih telihat cantik? aku terpaku.
***

Ini kedua kalinya, dan rasanya masih tetap sama, meski cara tuhan mempertemukan aku dengan dia jauh lebih indah. Gadis itu, berambut hitam dengan semburat semu coklat alami sesiku yang tergerai, duduk anggun lalu sesekali bertepuk tangan saat melihat beberapa model catwalk melintasi kami. Matanya jernih, dan saat pertamakali aku melihat mata itu aku sadar bahwa dia punya kelopak mata yang berbeda, yang tidak terlalu besar tapi seperti dipahat senti demi sentinya,

Hal pertama yang harus aku lakukan adalah berterimakasih pada ibuku, yang mati-matian memaksaku menghadiri acara konyol seperti ini. Acara fashion show di Universitas Sidney Tafe, acara konyol yang malah membawaku bertemu dengan gadis itu, acara yang membuat aku bebas memandanginya selama kurang lebih dua jam, meski aku tahu dia bahkan tidak tertarik sama sekali untuk melirik kearah tempatku duduk, dan mungkin dia tidak ingat apakah kami pernah bertemu sebelumnya.

"Del, ayo" mama menyikut lenganku, mengarahkanku kalau aku harus mengekornya untuk bertemu dengan seseorang, aku memutar mataku, enggan. Aku berharap bisa memandanginya lebih lama lagi.

Aku memutar jam dipergelangan tanganku dengan bosan, mencoba untuk tidak marah-marah atau menampakan wajah kesal meski sebenarnya aku ingin sekali mengomel. Mama masih sibuk dengan temannya, aku lupa siapa namanya meski kami barusaja berkenalan, aku tidak tertarik mengetahui nama siapapun saat ini, kecuali nama gadis itu.

Ya.. gadis itu, jantungku berdesir dan rasanya melorot sampai ketungkai kaki, gaun putih selutut yang terkibar kecil itu seolah sayap yang mengelilinginya, dengan senyuman yang amat luar biasa cantik, dibelakang seseorang dia berjalan menghampiriku.

"My son, Delvano Dawson" mama menginjak kakiku cukup keras, membuatku hampir menjerit karena kaget, tapi buru-buru kutahan. Aku mengulurkan tanganku gemetar, dan dia hanya tersenyum kecil, menyambut uluran tanganku.

"Naila Agatha" suaranya jauh lebih lembut dari terakhir kali aku mendengarnya beberapa hari yang lalu, dan kurasa dia sedikit kikuk, mungkin menyadari bahwa akulah dokter hewan yang ia marahi kemarin malam. Aku Delvano Dawson. Dan aku rasa aku mulai mencintainya sejak pertamakali dia melangkah masuk ke klinik hewan malam itu.

----------------------------------------------------------

Ini novel yang sudah tamat sebenernya, sempat iseng aku kirim ke penerbit dan tentu saja ditolak haha...

Tidak ada revisi apapun, ini masih wujud aslinya sejak aku tulis sekitar 4 tahun yang lalu, dengan ejaan yang masih berantakan...riset tentang setting tempat yang kurang niat dan bahasa inggris yang alakadarnya wkwkwk

Daripada menjadi penghuni tidak berguna di file manager, mungkin ada sedikit cinta yang bisa Del dapatkan disini, maka aku putuskan buat share kisah Delvano Dawson ke wattpad.


Semoga kalian suka


NECLEGTEDStories to obsess over. Discover now