Starlight

58 7 3
                                        

"Aku tau Pa.." ucap seorang pemuda kepada orang di ujung sambungan. Ia menatap jalan di balik kaca mobil dengan raut kesal. Kedua tangannya memegang erat stir mobil dan nafasnya semakin memberat.

"Iya aku tau! Aku yang memegang kendali perusahaan. Aku tau semua laporan perusahaan. Aku baca semua berkas perusahaan. Aku tanda tangani semua berkas yang menurutku perlu. Aku udah tau Pa! Aku tau apa yang harus aku lakukan untuk perusahaan. Papa gak perlu mengecek ulang semuanya dibelakangku! Kenapa? Apa karena Papa gak percaya sama aku? Oh iya ya, aku lupa. Papa kan cuma percaya sama Kak Vea bukan aku. Coba aja Kak Vea cowok, pasti perusahaan udah atas nama dia. Aku cuman pengganti!"

Pemuda itu melempar headset bluetooth yang terpasang di telinga kanannya ke samping, lalu berdecih. Memutar balikan stir mobil dan mengarahkannya ke jalan sisi sebelah kanan dengan plang penunjuk arah yang bertuliskan :

Bogor
⬇️

♧♧♧

Langit berwarna jingga memenuhi pandangan Pemuda yang kini tengah berdiri di balkon kamar sebuah villa. Angin bersemilir memainkan rambut Pemuda hingga berantakan, seolah-olah ingin menarik perhatiannya dari Sang Langit yang menjadi primadona. Burung-burung berkicau, terbang bersama untuk pulang ke sarang masing-masing. Ombak bergerak liar membuat berisik dengan suara yang diciptakannya dalam setiap gerakan. Namun pemuda tetap diam. Raut wajahnya datar. Matanya... dengan raut sedatar itu seharusnya pemuda dapat terlihat menyeramkan atau setidaknya tidak bersahabat, namun matanya... matanya menampilkan semua perasaannya. Kesedihan yang membuncah hingga sewaktu-waktu dapat pecah. Pemuda lebih terlihat seperti seorang anak kecil yang kehilangan robot kesayangannya...

"Oooyy!!"

"Ooooyy!!"

"Oooooooyyyyy!!"

Pemuda tersentak. Ia mengalihkan pandangannya dari langit jingga ke bawah. Mendapati seorang gadis muda yang menopang setengah berat badannya ke tongkat yang diselipkan diantara tubuh dan tangan kirinya sedang tangan kanannya melambai-lambai ke arah Pemuda.

Pemuda mengerutkan keningnya. Ia menengok ke kanan dan kiri, tidak ada orang.

"Saya?" Tanya pemuda.

Gadis muda itu mengangguk.
"Iya, kamu! Kamu yang kayak abis kehilangan permen. Kamu mau permen aku? Tapi kalau kamu mau, kamu harus turun" kata gadis muda.

Pemuda mendengus.
"Enggak perlu. Dan lagi Saya gak habis kehilangan permen!" Balas pemuda.

"Ih, galak banget sih kamu. Udah jangan disitu aja. Ayok turun, temenin aku disini!"

"Kenapa Saya harus mau?"

"Pasirnya halus loh, gak ada sampah juga karena tadi pagi udah dibersihin sama Kang Eko. Anginnya juga sepoi-sepoi. Dan sebentar lagi matahari akan tenggelam. Dilihat dari sini bagus loh"

Lagi, pemuda mendengus.
"Enggak. Makasih."

"Oh ayolah! Lihat, aku kecelakaan kemarin, kakiku patah. Apa kamu tega biarin aku naik ke atas sana buat nemenin kamu?"

"Kenapa kamu harus temenin Saya?"

"Karena kalau kamu gak temenin aku maka aku yang bakal temenin kamu. Yaudah aku bakal ke atas sekarang. Kalau aku kenapa-kenapa pokoknya kamu yang tanggung jawab!"

Day by DayWhere stories live. Discover now