Where Death Leads Us (Part 1)

17 3 0
                                        

Teruntuk Albert yang kusayangi,

Aku dengar saat ini kau sudah tiba di London. Bagaimana kabar di sana? Oh, kau tidak perlu membalasnya sebab tidak akan aku baca. Aku hanya bisa berdoa kalian semua baik-baik saja, terutama untuk Elizabeth kita. Aku sangat menyesal karena tidak bisa menghentikan Camilla begitu rumor itu tersebar. Aku terlalu kalut dengan masalahku sendiri, terlalu khawatir pada apa yang akan menimpaku nantinya. Jadi, tolong sampaikan pada Elizabeth bahwa aku minta maaf karena tidak berbuat apa-apa dan seperti turut menyakitinya.

Albert, bisakah kau selesaikan masalah Elizabeth dan Camilla? Kalau memang Elizabeth ingin membatalkan pertunangannya, lakukan saja. Kau tidak perlu menunggu persetujuan Duke, lagi pula ia sendiri bahkan tidak peduli kebahagiaan Elizabeth. Salahku juga dulu turut menyetujui pertunangan ini padahal aku tahu reputasi anak tertua Marquess Longford tidak sesuai dengan ekspetasi kita. Aku benar-benar menyesal. Kau tidak perlu memaksa Elizabeth untuk memaafkanku, aku tidak masalah jika ia membenciku.

Lalu, tolong jangan biarkan Cedric mengubur mimpinya untuk masuk sekolah seni, meskipun Duke mungkin akan marah besar jika tahu. Ah, tapi, jangan khawatir. Dia tidak akan tahu. Teruslah dukung mimpinya, Albert. Sampaikan padanya bahwa aku juga turut menyayangi dan meminta maaf.

Beritahu Catherine kecil jangan pernah takut saat hujan di malam hari. Kelak ia akan menjadi nona bangsawan paling cantik dan anggun. Aku sangat berharap dia bisa tumbuh secantik dan sebaik neneknya. Aku mohon jaga dia dengan baik.

Terakhir, aku tidak tahu lagi harus bagaimana mengajari Camilla agar tidak membuat skandal. Bahkan di sini, jauh dari pusat perkumpulan sosial pun skandal Camilla bisa terdengar seolah-olah sengaja dibawa angin. Padahal, dia yang paling aku banggakan pada awalnya. Tapi, sekarang ... aku hanya bisa kecewa. Semua ini karena aku gagal jadi ibu yang baik bagi mereka. Tolong maafkan aku.

Albert, sebelum aku mengakhiri surat ini, maukah kau mengabulkan satu keinginanku? Jika kau berkenan, tolong kembalilah ke rumah.

~o0o~

Edith tersenyum tipis begitu mendengar ucapan yang keluar dari mulut Viscountess Harlow. Di tengah pesta teh sederhana yang diadakan Duchess Beaufort di Badminton House ini, rumor tentang wanita simpanan Duke Beaufort malah jadi topik panas. Sebisa mungkin Edith menahan amarah, jadi ia mengambil cangkir porselennya dan menyeruput teh hangat itu perlahan. Rasa manis dari gula yang dimasukkan tidak serta merta memperbaiki suasana hatinya. Telinganya juga tambah panas acap kali para wanita di sana membicarakan si wanita simpanan.

"Sudah pernah dengar kalau gaun Madam Marianne jadi perhatian Yang Mulia Ratu saat pesta dansa musim lalu? Bahkan Yang Mulia memujinya," ujar Viscountess Harlow.

Dua wanita bangsawan yang duduk di meja itu mengangguk setuju.

"Aku juga dengar Madam Marianne pernah bersekolah di Paris. Jadi sudah sewajarnya gaya busananya terinspirasi dari sana," tambah Countess Oswald.

"Oh, pantas saja dia terlihat menawan dan berbeda sampai berhasil memikat banyak orang," tukas Edith sembari meletakan cangkir teh dan senyum hambar.

Tiga wanita bangsawan di sekitar Edith tertawa pelan, tahu apa maksud dari perkataan sang Duchess. Bahkan saling melirik sebelum ketiganya serempak menyeruput teh mereka. Tak butuh waktu lama untuk Viscountess Harlow meminum teh, sebab ia tiba-tiba teringat sesuatu untuk dikatakan. Suara dentingan cangkir beradu dengan tatakannya terdengar, sementara sang Viscountess memajukan tubuhnya sedikit.

"Tapi dari yang kudengar Madam Marianne sebenarnya tidak mampu untuk mendapatkan gaunnya itu. Ada rumor yang beredar bahwa dia sedang mengalami kesulitan ekonomi."

Stories of Bygone TimesCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang