PROLOG

57 0 0
                                        

Nama ku muhammad Diki Firmansyah,aku anak paling bontot  dari tiga bersaudara. Aku sendiri  mempunyai saudara kembar bernama Muhamad Dika Riansyah dan seorang kakak perempuan yang amat aku sayangi bernama Dhini Shantika,
Sejatinya kami sedari kecil hidup terpisah  karena suatu hal yang bahkan sampai detik ini kami sendiri belum memahaminya. Cukup rumit memang  hubungan kami bertiga.
Aku sendiri diasuh oleh orang tua kandung, sementara Dika diasuh oleh orang tua angkat dan Teh Dhini diasuh paman kandung kami. Miris, mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan hidup kami. Hidup yang awalnya aku fikir sangat tidak adil bagiku.  " Allah gak adil! " pekik ku dalam hati. 
Kami hidup terpisah, ya aku tinggal di Jogja  bersama dengan orang tua kandung ku, Dika Tinggal di Bandung kemudian Teh Dhini tinggal di Jogja juga namun berbeda desa denganku. Sejak kecil kami tahu bahwasan nya kami adalah besaudara dengan berbeda keluarga.  Semasa kecilpun kami sempat beberapa kali bertemu dengan keluarga kami masing-masing.  Pada saat itu yang kami tahu dan sadari hanya kami seorang saudara namun berbeda kelurga. Paling tidak hanya itu. Hanya itu tidak lebih
Waktu terus bergulir, Aku, Dika dan Teh Dini sibuk dengan kehidupan dan keluarga kami masing-masing. Terakhir kami bertemu  saat itu aku dan Dika berusia 6 Tahun sementara Teh Dhini berusia 8 tahun  dan jujur kami masih belum paham siapa dan bagaimana kami sebenarnya meningat kami masih bocah dulu.
DIika kecil & aku sama seperti anak kembar lainya. Mempunyai beberapa setel baju kembar, serta beberapa aksesoris serba kembar lainnya. Tidak banyak memang, mengingat kami yang tidak hidup bersama. Sekilas didalam ingatanku dulu , ia tidak begitu mirip dg ku.ia mempunyai mata yang lumayan besar dibanding mataku  belum lagi untuk sifat, kembaran ku itu cenderung agak  berisik dan aktif namun sedikit ceroboh. Sementara aku pendiam dan sangat hati2. Dika diki kecil dulu  cukup dekat terbukti sebelum benar-benar berpisah kami sempat bertukar mainan kesukaan kami yang sampai detik ini masih  ku simpan.  Jujur  aku penasaran dengan sosoknya yg sekarang. Apakah ia lebih tampan tau ia lebih tinggi dariku?  entahlah yang jelas aku berharap aku yang harus lebih tampan dari  nya paling tidak. " Hey bro harus gw yg lebih ganteng ya " ujarku membatin
Namun jauh didalam lubuk hatiku yang terdalam, aku sangat merindukan sosok mereka. Terlebih teh Dhini,  bagaimana tidak. Kami tinggal dikota yang sama hanya berbeda desa. Namun untuk sekedar bertemu pun tak bisa. Iya aku harus memendam dalam-dalam rindu ku terhadap sosok kakak perempuanku. Teh Dini membenciku , selaku adik tirinya. Ia selalu menghindar apabila aku dan orang tua ku berkunjung kerumahnya. Aku hanya bisa menatap sedih punggungnya tiap ia berbalik meninggalkan ku. Dan sejak itu, kami sudah tidak pernah bertemu lagi

Pemuda HijrahPříběhy, které tě pohltí. Začni objevovat