Seorang gadis berusia 23 tahun duduk dengan sendu di samping dua makam yang mengelilinginya. Ia peluk kedua nisan itu dengan tangisan yang tak kunjung mereda seakan enggan untuk kehilangan. Seorang pria datang menghampiri gadis itu dan mengusap lembut air matanya hingga si gadis mendongak menatapnya.
Gadis itu memeluk erat tubuh pria di hadapannya, menumpahkan segala rasa yang bergelayut dalam pikirannya. Sang pria mengusap pundaknya pelan menyalurkan simpatinya agar kesedihan gadis itu bisa sedikit berkurang.
“Revan, ayah dan bunda, hiks, hiks,” ucap si gadis dengan tangis yang tak kunjung usai.
Revan terus mengusap pundak Aluna, kekasihnya yang kini sedang menangis tersedu karena ayah dan bundanya baru saja meninggalkannya menuju kehidupan selanjutnya yang abadi.
“Hei, jangan menangis terus, ada aku disini yang akan menemanimu, ayah dan bunda akan sedih jika ia melihat anaknya seperti ini” gumam Revan berusaha menenangkan Aluna.
Tangisan Aluna mulai mereda, ia sadar bahwa ayah dan bundanya tak ingin dirinya seperti ini. Sebanyak apapun air mata yang ia tumpahkan tak akan bisa mengembalikan ayah dan bundanya yang sudah tenang di dalam pusara.
Aluna menatap Revan sendu. Raut wajahnya menunjukkan kesedihan yang mendalam, Revan balas menatapnya lalu tersenyum tipis seolah mengatakan semua akan baik-baik saja.
“Revan, terimakasih karena selalu ada buatku, terimakasih karena kamu masih ada disini menemaniku bahkan sampai titik rendah dalam hidupku, aku tak tahu jika tak ada dirimu akan seperti apa aku ini.”
“Jangan berkata seperti itu Aluna, ini memang tugasku,” jawab Revan sambil membelai lembut pipi Aluna. “Mari kita pulang, sebentar lagi hari akan gelap.” Revan mengulurkan satu tangannya menunggu Aluna menyambut tangannya walaupun ia tahu, Aluna enggan untuk beranjak dari sana.
Aluna menatap tangan itu, sebenarnya ia enggan untuk meninggalkan makam kedua orang tuanya, tapi tak mungkin jika ia akan tetap disini. Aluna mulai menyambut uluran tangan Revan, mereka mulai melangkah menjauhi area pemakaman dengan langkah tertatih, dengan perasaan sedih yang mendominasi dan kehilangan yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.
Revan membuka pintu mobilnya, tapi Aluna tetap terdiam, ia masih menatap sendu ke arah pemakaman seakan sangat berat untuk meninggalkannya. Revan menepuk pelan pundaknya sehingga ia mendapatkan kesadarannya kembali.
Revan mengantarkan Aluna sampai di depan rumahnya. Rumah yang tadi ramai karena para pelayat kini menjadi sepi tanpa ada satu orangpun didalamnya.
“Mau mampir Van?” Tanya Alena dengan suara serak setelah menangis.
“Gak usah Lun, aku langsung aja ya, kamu istirahat, jangan terlalu larut dalam kesedihan.” Aluna hanya menganggukkan kepalanya, kemudian Revan mulai melaju menjauh dari rumah itu.
Aluna memasuki rumah kosong itu dengan langkah gontai. Langkah kakinya terhenti saat melihat figura yang terpasang di ruang tamu dengan foto bahagia ia bersama ayah dan bundanya.
'Ayah, bunda, maafin Aluna ya. Aluna sekarang sendiri disini, gak akan ada lagi canda dan tawa yang dihadirkan ayah dan bunda disini, mengapa ayah dan bunda pergi secepat ini?’ batin Aluna sendu.
'Tes’ tetes demi tetes air matanya kini mulai turun kembali, ia tak bisa lagi membendung perasaannya. Ia teringat saat kejadian itu, kecelakaan yang menimpa ayah dan bundanya di depan matanya sendiri.
Saat itu ia berlari menuju jalan raya setelah keluar dari gang rumahnya untuk menyerahkan berkas ayahnya yang tertinggal dan kebetulan saat itu bunda ikut menemani ayahnya. Ia melambaikan tangannya saat melihat mobil ayahnya yang terparkir di tepi jalan, ayah menurunkan kaca mobilnya dan tersenyum melihat Aluna yang melangkah mendekat, namun tiba-tiba saja ada mobil yang kehilangan kendali dan memasuki jalan di seberangnya dan langsung menghantam mobil ayah dan bunda dengan kecepatan tinggi sehingga kini mobil keduanya sudah tak berbentuk lagi.
Aluna membulatkan matanya menyaksikan kejadian kilat yang ada di depannya, berkas yang ada di genggaman tangannya langsung saja ia lempar. Ia berteriak keras dan langsung berlari menuju mobil kedua orang tuanya dengan tangis yang mulai pecah.
Jalanan yang semula sepi kini mulai ramai, suara ambulance terdengar mendekat. Mereka berusaha membantu mengevakuasi korban dari kecelakaan itu. Aluna langsung masuk ke dalam ambulance dengan ayah dan bundanya yang sudah berlumuran darah, dan si pengemudi penyebab kecelakaan itu ada di ambulance yang lainnya. Entah masih ada harapan atau tidak untuk saat itu, tapi Aluna berdoa agar ia tidak kehilangan malaikat dalam hidupnya selama ini.
Derap langkah mulai menggema melewati lorong rumah sakit itu menuju UGD untuk melakukan pertolongan lanjutan pada korban. Aluna yang tak bisa ikut ke dalam hanya bisa menunggu di luar dengan tetap merapalkan doanya untuk keselamatan kedua orang terkasihnya.
Setelah cukup lama, Dokter keluar dengan wajah lesu, Aluna menggelengkan kepalanya sebelum mendengar penjelasan dari dokter, ia tahu akan ada kabar buruk yang datang.
Dokter itu mengusap pelan pundak Aluna. “Maaf, kami tak bisa menyelamatkan kedua orang tuamu,” ucap sang dokter yang seakan meruntuhkan pertahanan Aluna. Tangisnya semakin menjadi setelah mengetahui keadaan kedua orang tuanya.
Di sisi lain, tangis juga terdengar tak jauh dari Aluna, keluarga si pengemudi pun menangis tersedu karena mereka merasakan kehilangan juga saat tahu sang pengemudi itu tak bisa di selamatkan.
-----
Aluna menatap kosong kamarnya, kini ia benar-benar merasa sendiri, tak ada lagi ayah dan bunda yang selama ini menemaninya, kini yang bisa menguatkannya hanyalah Revan kekasih yang sudah dua tahun ini bersamanya.
'Tring’ terdengar nada dering dari ponsel Aluna, terdapat panggilan video dari Revan, Aluna pun memencet tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut.
“Halo kekasih cantikku,” sapa Revan dengan senyum tipisnya.
“Iya,” jawab Aluna dengan suara serak dan mata yang masih memerah.
“Hmm, matamu bengkak dan merah, jangan terus menangis ya sayang, ada aku disini, aku akan ada buatmu.”
Aluna menganggukan kepalanya lalu tersenyum tipis, setidaknya apa yang Revan lakukan bisa mengurangi kesedihannya.
“Nah gitu dong, kan kalau senyum kamu makin cantik.”
“Jadi maksud kamu tadi aku jelek?” Tanya Aluna sambil melipat tangannya ke dada.
“Enggak jelek, pacarku ini gak akan pernah jelek, tapi kadar kecantikannya sedikit berkurang, hehe,” jawabnya dengan sedikit kekehan.
Aluna hanya memutar bola matanya malas mendengar gurauan Revan. Ia tahu Revan berusaha keras untuk menghiburnya dan meringankan beban yang ada dalam diri kekasihnya.
“Yasudah, kamu tidur sana Lun, istirahatkan badanmu, aku tak mau kamu sakit.”
“Iya bawel,” ujar Aluna dengan senyumnya.
“Nah gitu dong, selalu tersenyum dalam keadaan apapun ya sayang, karena aku gak mau lihat kamu sedih lagi.”
“Iya, makasih ya sayang, makasih kamu selalu ada buat aku Van. Kamu tidur juga sana, bye.”
“Ok cantik, bye.” Revan pun mematikan panggilan ponselnya.
Aluna tersenyum menatap ponselnya, setidaknya ia bisa melupakan kesedihannya walau hanya sesaat. Ia mulai merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata menuju alam mimpi.
YOU ARE READING
Aluna
RomanceBagai jatuh tertimpa tangga, Aluna kehilangan segalanya yang ia punya, ia hampir menyerah dengan hidupnya tapi seseorang datang tiba-tiba menyelamatkannya.
