Chapter 1

53 9 2
                                        

"Kak Darrel!" Sahut seorang anak laki laki berumur 7 tahun ketika mendengar suara mobil dari halaman depan rumah nya. Ia berlari kecil menuju halaman depan rumah nya dengan rasa senang.

"Darren! Apa kabar?" Sang kakak langsung menghampiri adik laki laki nya itu. Melepas kangen.

Anak laki laki bernama Darren itu tersenyum lebar, "Baik! Kakak sendiri gimana kabar nya? Oya, mama bikin cupcakes loh buat kedatangan kakak sama papa."

Tiba-tiba seorang perempuan berumur 14 tahun itu menghampiri mereka berdua, "Cupcakes nya udah gue abisin," Ledeknya.

Darren menggeleng cepat, "Ka Davina boong. Tadi aku liat masih banyak tuh."

"Ssh udah. Masuk aja dulu yuk" Ayah nya menghentikan perdebatan kecil antara kedua anaknya itu.

Sore hari ini, Darrel dan Henry baru saja tiba di Jakarta. Mereka habis dari Bali. Bukan untuk liburan. Melainkan, Henry mempunyai tugas disana, dan Darrel ikut serta dengan ayah nya.

Dan sekarang, ayah nya di pindah kan ke Jakarta lagi. Kata atasannya, ia akan menetap di sini.

Keluarga Keenan itu masuk ke dalam tempat tinggal mereka yang sudah ditempati nya selama 4 tahun.

Mereka berkumpul di ruang keluarga. Melepas kangen satu sama lain. Sesekali Darren bercerita teman sekolah nya, dan begitu pula dengan Davina. Sedangkan Darrel hanya mendengarkan cerita dari kedua adik nya itu. Mungkin dia sudah terlalu capek saat ini.

"Rel, kamu udah daftar sekolah di sini belum?" Ira mengganti topik pembicaraan.

"Udah ayah daftarin. Tinggal sekolah aja." Henry menyaut. Ira mengangguk sebagai balasan.

Merasa cukup lelah, dirinya pamit pergi ke kamar nya yang terletak di lantai 2. Ia mengistirahatkan tubuhnya diatas bangku yang terletak di balkon kamarnya.

Tiga hari lagi sekolah akan memulai pelajaran semester 2. Sebenarnya menjadi anak baru bagi Darrel sudah biasa. Karena ia selalu pindah pindah sekolah. Bukan karena dia kena drop ouy yang membuat nya pindah sekolah. Melainkan, ia mengikuti ayah nya bekerja di daerah orang.

Rencana nya besok ia akan pergi ke sebuah kafe untuk bersantai sebentar. Meskipun hanya seorang diri, itu tak keberatan bagi nya. Malahan, dia lebih suka sendiri.

Jika kalian bertanya apakah ia sudah mempunyai seorang kekasih, maka jawaban nya belum. Bahkan mencintai atau menyayangi perempuan lain (selain Ira dan Davina) belum pernah.

Dia cowok normal kok, tapi ya ia memang belum pernah merasakan 'jatuh cinta'. Paling mentok hanya suka. Garis bawahi kalimat ini 'suka sama cinta itu beda'.

Ketika seseorang bertemu dengannya, pasti orang itu beranggapan bahwa dirinya adalah seorang bad boy yang suka memainkan perempuan. Karena memang dari penampilan Darrel terlihat sedikit berantakan, mempunyai wajah yang tampan, gayanya yang cool, dan senyuman yang manis. Tak heran orang-orang menilai dirinya seperti itu.

Tapi sayangnya, orang-orang salah jika beranggapan seperti itu. Jika ia di bandingkan seperti bad boy, sangat melenceng jauh dari sifat Darrel yang sebenarnya. Karena sifat aslinya itu ramah, tetapi sedikit introvert dan juga sedikit cuek kepada lawan jenis. Dan juga bukan seorang bad boy.

Karena merasa lelah, ia beranjak bangun dari bangku nya lalu berjalan menuju kasur empuk milik nya. Mungkin tidur akan membuat nya fit kembali.

Di sisi lain, cewek berkuncir asal itu memainkan ponsel genggam nya dengan serius. Seperti tidak ingin di ganggu untuk saat ini.

"Ta, buka pintu nya!" Seorang laki laki berteriak dari luar kamar cewek itu.

"Tai! Mati kan!" Desis nya kesal.

"Zeline Agatha Wijaya! Buka pintu nya!" Cowok itu mengulangkan kalimat nya.

Dengan muka yang ditekuk, cewek itu berjalan menuju pintu kamar nya. Ia menggerakkan kunci kamar nya dengan kesal ke arah kanan, lalu membuka pintu.

"Apaan sih? Lo ganggu tau gak," Ucapnya dengan nada jutek.

Cowok itu tak menanggapi perkataan adik nya, ia malah berbicara lain. "Gue mau ke toko buku. Ikut gak?"

Cewek yang biasa dipanggil Tata itu berdecak, "Ah elah kirain apaan. Gue mager keluar. Nitip aja dah."

"Mana uang nya?" Cowok itu memperlihatkan telapak tangannya ke Tata.

"Minta bunda, terus bilangin nanti gue ganti."

"Yaudah. Mau beli apaan?"

Tata terdiam memikirkan sesuatu. Ia bingung, jika diri nya beli novel nanti ending nya nyesek bakal rugi, jika beli buku pelajaran bakal jarang di baca, rugi juga nanti jadi nya.

Beli apa ya? Batin nya bertanya tanya.

"Gece mau beli apaan." Arven menyadarkan Tata.

"Beli novel yang bagus dah, tapi cari yang happy ending. Sama beli buku rumus fisika." Akhirnya ia memutuskan membeli kedua nya. Ya meskipun ia tidak yakin membeli buku rumus fisika itu.

"Bhak, buku rumus fisika? Gak salah? Tuh buku juga gak bakal di buka kali sama lo nanti. Palingan jadi pajangan doang," Ledek Arven.

"Bacot lo bang. Udah sana beli." Tata menyuruh kakak nya pergi bergegas membeli buku.

Arven berjalan menjauh secara perlahan dari pandangan nya Tata.

Tumben banget abang gue mau ke toko buku, biasanya ogahan. Pikirnya.

Ia kembali menuju kamar nya melanjutkan permainan tadi. Permainan Slither.io. Ya begitulah seorang Tata ketika diri nya sedang gabut. Hanya memainkan Slither.io. Lagi pula game itu adalah game satu satu nya yang ada di handphone milik nya.

Ting!

You have a new message!

Mata Tata langsung terarah kepada notif itu menyebabkan ular yang sedang di mainkan oleh nya mati termakan ular lain.

Lagi lagi ia berdesis pelan, "Anjir! Ganggu ae dari tadi,"

Penasaran siapa yang mengirim pesan kepada nya, membuat diri nya membuka aplikasi chatting itu.

Ternyata pesan itu dari multi personal chat yang berisi dua teman –atau lebih tepat nya dua sahabat– Tata.

Kyla : GuyS! UrgEnT niH!1!1!

Tata hanya memutarkan bola mata nya ketika melihat pesan itu. Lalu Tata membalas pesan dari salah satu sahabatnya.

Tata : anjing gue kira siapa

Thalia : Alay lo la

Kyla : HelP meH!

Tata : tuh keyboard rusak? lo minta tolong buat beliin gt?

Kyla : IH bukan Atuh

Thalia : Trs?

Kyla : Temenin Gue Ke tempat Biasa dong:):)):) W pGn curhat niH

Tata sudah kenal betul dengan sifat temannya yang satu ini bahwa ia memang sedikit gesrek. Buktinya setiap pesan dari nya pasti memakai huruf kecil besar. Anak alay memang.

Thalia : Gue g bs kyl, ama Tata aj noh. Gue msh d Bandung

Nah sedangkan sahabat nya yang satu ini sedikit jutek. Dari pesan nya saja terlalu banyak menggunakan kata singkat.

Tata : kpn? besok aja ya

Kyla : Yaelah si Lia:(

Kyla : Sip bosQue. Jam 11 ya Ta

Tata hanya membaca pesan Kyla. Sebenarnya, ia tidak bersedia untuk mendengarkan curhatan Kyla. Palingan Kyla curhat tentang cowok nya atau cogan cogan. Makanya Tata selalu gak siap denger curhatan nya Kyla, ya karena bosan. Tata menyetujui juga karena kebetulan besok masih libur dan juga ia bosan di rumah nya.

VerliebenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang