Dor... dor... dor....
Suara tembakan senjata api itu saling bersahutan tanpa henti bagai orkestra. Banyak korban berjatuhan dari insiden yang memuakkan ini, membuat hampir seluruh rumah berbau anyir darah. Miris, hanya demi melindungi seseorang saja banyak nyawa yang harus dikorbankan. Namun mereka tidak menyesal karena mereka meninggal dalam keadaan sedang bertugas demi orang yang mereka anggap penting itu.
Darah, pengorbanan, dan kesetiaan semua larut dalam peristiwa kali ini. Beberapa penyusupan telah menjadi hal wajar disini namun sayangnya kali ini mereka kewalahan. Sekitar 14 penyusup berhasil masuk dan hampir bisa menyentuh pemilik rumah.
Meski takut, gadis berusia 16 tahun itu tak meringkuk atau bersembunyi demi menyelamatkan diri. Gadis itu malah ikut berperang untuk menyelamatkan dirinya dan bawahannya. Dari tempat yang ia anggap strategis itu ia ikut menembaki lawan dengan senjata api ditangannya. Dengan konsentrasi penuh ia membidik satu-persatu titik vital mereka yaitu kepala,jantung dan kaki masing-masing.
"1 tertembak, 2 tertembak, 3... cih ketahuan" Rutuk sang gadis saat akan menembak sasaran ketiga namun sudah ketahuan lebih dulu.
Segera ia langsung mundur dari tempat persembunyian-nya. Terdengar suara tembakan brutal dari tempatnya bersembunyi tadi. Untungnya ia masih sempat.
Tinggal sekitar 8 penyusup yang tersisa terus menembaki tempat itu secara acak membuat mau tidak mau mereka harus menggunakan rencana C. Misi Penyelamatan Lily Putih atau misi pengungsian pemilik rumah melewti jalan rahasia. Dengan sekitar 4 penjaga terlatih yang memandunya sang Nona Muda di kawal untuk meninggalkan medan berdarah itu secepat mungkin.
"Keselamatan nona yang utama, nona harus bisa keluar dari sini hidup-hidup! "
Itulah kata terakhir yang ia dengar dari sang Kepala Keamanan sebelum ia di tarik mundur oleh ke empat pengawalnya yang lain. Pengawalan ini beranggotakan 3 laki-laki dan seorang perempuan yang sepertinya bertugas memimpin perjalanan ini.
∞
Dor...
Salah satu pengawal tiba-tiba tumbang yang bersimbah darah membuat pengawal lainnya kaget dan langsung membuat formasi darurat. Mereka langsung mengarahkan m4 carbine yang mereka bawa ke arah si pengkhiatan. Bukannya takut, pengkhianatan itu malah mengarahkan pistol MP-443 Grach tepat di samping kepala sang Nona Muda. Tidak hanya itu saja ia bahkan berani mengancamnya.
"Maaf Nona, Mohon ikut saya tanpa perlawanan maka saya tidak akan menyakiti Nona. " Lirih seorang pria paruh baya bertubuh jakung dan berambut gondrong yang berdiri tak jauh dari berdirinya sang Nona.
"Jamal, beraninya kau mengancam nona! Cepat turunkan senjata itu dan serahkan dirimu! " Titah sang pemimpin perempuan itu kepada Jamal. Si pengkhianat.
Tanpa memerdulikan perkataan orang yang selama ini ia hormati sebagai komandan itu, Jamal semakin mendekatkan pistolnya ke dahi Nona.
"Dua lawan satu kamu sudah kalah Jamal, saya ulangi lagi seegera turunkan senjatamu dan maka ku jamin hukumanmu tak akan lebih berat lagi. " Wanita itu kembali mengingatkan lagi Jamal agar segera menyerah tak lupa ia juga mengingatkan perbandingan jumlah antara mereka.
Dor...
Sekali lagi suara tembakan MP-443 itu berhasil menembus kepala salah satu pengawal yang lain hingga tumbang dan pelakunya tetap sama. Jamal.
"Sekarang sudah seimbang bukan satu lawan satu... Komandan Jane" Kata Jamal sambil mengangkat sebelah bibirnya. "Jadi Nona sekali lagi mohon ikut dengan saya untuk menemui tuan! " Lanjutnya.
Dor...
Tepat setelah Akmi menyelesaikan ucapannya, Jane yang bertugas memimpin operasi sekaligus komandan tim ini langsung menembak lengan Jamal dengan senjata yang ia pegang, namun sayangnya meleset peluru itu hanya bisa menggores lengan Jamal. Di saat Jamal masih mengaduh merasakan perih dan panas di lengannya, Jane dengan cekatan langsung memelintir lengan Jamal kemudian menyikunya hingga terduduk dilantai dan tak bisa bergerak.
"Lari Nona! Biar saya yang mengurus tikus kecil ini."
Tanpa menunggu lagi sang Nona Muda langsung mengangguk dan pergi meninggalkan Jamal dan Jane di lorong rahasia itu. Walau samar, ia bisa melihat Jamal yang tersenyum saat mereka berpapasan sekilas tadi.
∞
Dilain tempat.
Didalam sebuah mansion bergaya klasik itu berdiri seorang pria muda sedang bersandar didepan sebuah jendela kaca yang langsung menampilkan indahnya pemandangan laut di di luar sana.
"Selamat siang tuan." Sapa seorang laki-laki berpakaian setelan jas lengkap itu setelah mengetuk pintu beberapa kali.
"Katakan Jerry." Suara serak pria itu seakan menusuk telinga pria yang dipanggil Jerry. Walau sudah cukup lama ia tak pernah terbiasa dengan suara bagaikan pisau itu.
"Maaf tuan... Gadis itu berhasil kabur." Jawab pria bernama Jerry itu tanpa berani mengangkat kepalanya. Perlahan aura mencekam langsung memenuhi ruangan itu. Saking takutnya bulu kuduk Jerry serasa berdiri dibuatnya.
"Apa menurutmu sekitar 14 pembunuh bayaran masih kurang melawan satu gadis saja? Ah... dan bagaimana kabar Si Kacamata." Tanya-nya lagi. Si Kacamata yang dimaksud itu adalah Jamal.
"Maafkan saya tuan, sebenarnya kita tadi hampir saja mendapatkan gadis itu namun tiba-tiba Si Kacamata merusak rencana cadangan kita dan keluar dari organisasi." Jelas Jerry lagi.
"Ah...!! Begitu rupanya... Setelah sekian lama ternyata dia sudah terlalu betah dia disana sampai berani berkhianat kepadaku!" dengan geram pria itu melempar gelas Wine nya ke lantai. Suara nyaring gelas pecah itu sekali lagi berhasil membuat Jerry bergidik ngeri. "Umm... Sekarang siapkan mata-mata terbaik dan segera cari tau dimana keberadaan gadis itu dan aku ingin tidak ada kesalahan lagi kali ini! " ucapnya dengan mata semerah darah.
"Juga bawa Jamal ke hadapanku hidup-hidup. " Titahnya lagi sambil berbalik.
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi dulu." Setelah membungkukkan badan dan berpamitan Jerry langsung undur diri.
"Meysha Alvaro menarik juga." Lirih pria itu geram.
Jangan lupa vote, comment, ya....
😃💗😃💗😃💗
YOU ARE READING
INSIDE
Teen FictionWaktu menambah usia, pengalaman membentuk diri, dan raga yang menerima semua itu. Jiwa yang tak kuat, perlahan membentuk benteng pertahanan sendiri seiring waktu. Jiwa yang tak kuat juga bisa perlahan habis terkikis realita. Namun diri sendiri lah y...
