Prolog

4.6K 55 0
                                        

"Huffttt, hujan ini begitu deras dan entah kapan berniat untuk berhenti."

Malam sudah begitu larut namun karena desakan alami seorang wanita aku harus segera keluar dan membeli benda yang setiap bulannya para wanita membutuhkannya. "Haruskah aku menerjang hujan angin ini hanya untuk membeli benda itu?" Tanya ku dalam hati.

Ya apalagi jika bukan benda yang bernama pembalut, "Aku harus pergi ke sekolah pagi hari dan tidak mungkin sempat jika aku besok membelinya, baiklah aku akan pergi membelinya, toh ini hanya hujan air bukan hujan batu." Ucapku meyakinkan diri sendiri.

Salahkan saja kapasitas otakku yang berada di bawah rata-rata, hanya untuk persediaan pembalutpun aku melupaknnya, entah karna turunan atau keadaan akhir-akhir ini yang membuat kerja otakku menurun. Tanpa terasa akupun sampai di sebuah kios kecil yang tidak jauh dari rumahku, dan walaupun di tenggah hujan badai seperti ini kios itupun masih buka.

Bi Ijah seorang janda baik hati yang berusia sekitar 50 tahun-an dan tidak memiliki sanak saudara sama sepertiku. Beliau sudah menganggapku seperti cucunya sendiri begitu pula denganku yang juga sudah tidak memilik siapapun di dunia ini.

"Bi, Bibi ini Andra bi." Teriak ku dari pintu kios bi Ijah,
"Ya Tuhan Ndra, kamu ngapain malam-malam gini kesini nak? Kamu butuh apa?" Tanya bi Ijah sambil menarik tanganku membawanya ke dalam toko minimalis miliknya.

"Andra lupa beli pembalut bu, kalau mau beli besok nggak sempat jadi harus beli sekarang." Ucapku sedikit bergetar karna kedinginan.

"Kan bisa telpon Bibi nak, kamu ini anak gadis jangan keluar malam sendirian apalagi keadaan di luar hujan deras." Cicit bi Ijah.

"Maaf bu, Cuma sebentar kok ." Jawabku sedikit menunduk.

"Baiklah tunggu sebentar ibu ambilkan pembalut untukmu."

Setelah diberikan pembalut akupun bergegas pulang dan tidak ingin meng-iyakan tawaran bi Ijah yang menyuruhku untuk menginap di rumahnya, bukan aku tidak mau aku malah senang namun aku tidak enak karena takut merepotkan beliau.

Ku percepat langkah kaki ku karna aku yakin bahkan jam mungkin sudah menunjukan lewat pukul 10. Ketika aku sampai di tangga luar rumah ku, aku terkejut bukan main ketika ada tangan seseorang yang memegang pergelangan kaki kananku. "Tolong aku." Ucapnya begitu lirih di tengah kerasnya suara hujan.

Apakah aku akan mengikuti akal sehatku untuk menolong pria yang penuh luka di tengah hujan deras ini atau mengikuti kata hatiku yang mengatakan jika aku menolongnya maka hidupku akan berubah.

Help YouStories to obsess over. Discover now