Kata

32 6 3
                                        

Bola itu melayang jauh dari lapangan. Suara riuh kemudian menghiasi halaman kantin. Dari kejauhan, terlihat seorang gadis berkacamata yang marah-marah. Memaki orang yang entah siapa namanya.

"Bola siapa ini?
Agaknya yang nendang nggak bisa main bola. Kalau saja ketemu sama orangnya, bakalan aku pukul dia pake bola ini" ucap gadis itu. Gadis itu masih memegang bola yang mengenai jidatnya. Tidak terluka memang, apalagi sampai berdarah. Tapi itulah sifat Zahra, gadis yang selalu memperpanjang masalah.

Zahra adalah siswi kelas XI di SMA Tanjung Harapan. Gadis yang biasa disapa ara itu memang mengerikan. Kerjaannya selalu marah-marah nggak jelas. Suka membual, serta mendadak aneh dan kadang-kadang bijak tanpa teori.

"Maaf kak, itu bola saya. Boleh saya ambil?" Tanya Fa'i dengan sopan. Karena ia tau, setelah ini bakal berurusan dengan siapa.

"Apa? Ambil???
Dengan mudahnya kamu mau ambil bola ini?
Setelah mengenai jidat saya, nggak ada rasa bersalah dan niatan buat minta maaf?
Dasar, anak-anak sekarang tak tau sopan santun" Cerocos ara tanpa bernafas.

"Iya kak, maaf. Tapi kan kakak nggak terluka. Memar juga enggak kok kak. Jadi, tadi saya pikir nggak perlu meminta maaf" Fa'i membalas sekenanya saja.

"Hey, meminta maaf itu nggak harus selalu disertai kesalahan. Bahkan, orang yang tak bersalah pun bisa meminta maaf. Misalnya, pada waktu kita rapat. Kita membahas sesuatu tentang progja. Lantas pada saat mau menambahkan ide, pasti awalnya kita minta maaf dulu. Apakah yang mau menambahkan ide melakukan kesalahan??? Tidak kan? Jadi, kesimpulannya gimana?" Ucap ara lantang. Orang orang disekitar hanya menyaksikannya saja. Bahkan, mereka yang didalam kantin ikut hanyut dalam suasana aneh itu.

"Iya kak, maaf." Ucap Fa'i dengan muka pasrah.

"Bolanya saya kembalikan. Tapi dengan syarat"

"Syarat kak?" Seketika Fa'i langsung pucat pasi. Membayangkan syarat yang pasti bakalan nyeleneh dan nggak masuk akal. Sementara itu, Ara tersenyum licik melihat tingkah adik kelasnya yang polos itu.

"Iya, syarat. Jadi, syaratnya kamu harus beli bola satu lagi"

"Buat apa kak?" Tanya Fa'i heran.

"Jadi, bola yang ini buat saya. Dan kamu, pake bola yang baru hahahaha" Ara lantas pergi meninggalkan Fa'i dan halaman kantin SMA Tanjung Harapan. Ia berbalik arah menuju kelasnya tercinta.

Semua yang menyaksikan kejadian itu hanya mengelus dada. Terheran heran melihat tingkah ara yang kelewatan anehnya. Iba dengan Fa'i yang kehilangan bolanya. Dan macam-macam pikiran yang lainnya.
(Soalnya, yevi nggak bisa baca pikiran semua orang yang ada disitu. Hehe 😊😊)

Dari ujung koridor, terlihat bayu dan Angga hendak menghampiri Fa'i. Mereka berlari-lari kecil tanpa senda gurau.

Dengan nafas yang setengah tersengal, Angga meminta maaf kepada Fa'i.
"Maafin kita ya i'. Abisnya kita bingung mau ngelakuin apa. Tau sendiri kak Ara."

"Iya i'. Kita tadi cuma bisa nyaksiin kamu dihadapan kakak karet nasi goreng" timpal bayu.

"Iya nggak papa, lagian kak Ara tadi nggak marah 100% kok. Jadi, aku selamat"

"Kok selamat? Nama kamu kan Fa'i, Fa'idar Ghani Al-ghifari. Bukan selamat." Ucap bayu serius.

"Bayu, maksudnya selamat itu bukan namanya Fa'i ganti jadi selamat. Tapi, dia terbebas dari amukan kak Ara." Jelas Angga dengan kesal.

"Lagian, siapa suruh Fa'i bilang aku selamat. Itu salah Fa'i. Bukan salah Bayu, setiap orang bebas memaknai setiap kata yang ia dengar, baca, dan...."

"Dan apa?" Sahut Angga semakin jengkel

"Sudah-sudah. Yang penting sekarang aku udah bebas dari kak Ara. Masalah bola, biarin diambil kak Ara. Besok kita beli lagi" ucap Fa'i mencoba meredamkan emosi Angga.

"Tapi bayu kebangetan i'. Masa hal kayak gitu aja dia nggak paham. Lama-lama jadi jodohnya kak Ara kamu Yu"

"Nggak papa jadi jodohnya karet nasi goreng. Siapa tau besok jadi sukses haha" balas Bayu. Ia tak mau kalah telak dari Angga.

"Ah, terserah kamu aja Yu. Aku nggak mau debat sama kamu. Ribet soalnya"

"Loh, aku kan nggak ngasih kamu pertanyaan. Kok kamu bilang soalnya ribet? Aku itu temen kamu Angga. Bukan guru privat kamu" gerutu bayu.

Tak tahan mendengar perdebatan unfaedah kedua temannya, Fa'i beranjak dan pergi meninggalkan mereka.

Ia tak habis pikir, diantara luasnya dunia... kenapa ia harus bertemu dan berteman dengan dua makhluk mengasyikkan itu.
Andaikan saat ini ia berada didalam labirin, ia berjanji untuk tetap didalam labirin saja dan tidak menemukan jalan keluar. Supaya tidak bertemu dengan Angga dan Bayu.

____________________________
Sebelumnya, Terimakasih buat temen-temen yang udah baca part 1 nya...

Tunggu part-part selanjutnya ya???
Oke???

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jan 20, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Puing-Puing NeptunusWhere stories live. Discover now