CATATAN 1

48 4 0
                                        

"Ketika aku tak lagi percaya oleh dunia. Kau datang menawarkan dunia mu yang tak pernah kupikirkan sebelumnya."

- Raina Putih Anjani -

☔☔☔

Siang itu, tepat di sebuah cafe bernuansa klasik dengan cokelat sebagai warna dasarnya, di tambah aroma kopi dan roti yang menyatu. Terlihat beberapa pelayan yang berlalu-lalang mengantarkan pesanan. Meskipun, Jakarta sedang di guyur hujan deras, cafe ini masih terbilang cukup ramai oleh beberapa pengunjung yang sudah menjadi pelanggan tetap disini.

Sebenarnya pemandangan ini akan terasa begitu menyenangkan jika para bos besar yang melihatnya. Berbeda dengan meraka yang hanya berstatus sebagai pekerja yang merasakan tulang-tulangnya hampir patah, karena tidak ada waktu istirahat sama sekali. Para pelayan itu ada yang terlihat lesu dengan wajah kelelahannya, ada juga yang terlihat bermalas-malasan dengan senyum ramah yang terlihat di paksakan. Tapi, memangnya apa yang harus mereka lakukan lagi selain menghadapinya? Tuhan, sudah memberi manusia bahagia dengan porsinya masing-masing. Hanya caranya sajalah yang berbeda. Mereka tidak bisa menyalahkan semesta, apalagi Tuhan. Mereka hanya perlu percaya, kalau hasil kerja keras mereka akan berakhir dengan penuh kebahagiaan. Asal mereka tak pernah lupa dengan Tuhan.

Tetapi, jika di lihat dengan seksama ada satu dari mereka yang terlihat begitu berbeda, yaitu seorang pelayan berbadan mungil yang selalu menembar senyum manisnya kepada setiap pembeli yang ada di cafe ini. Terlihat sangat kontraks sekali dengan langit di luar sana yang terlihat mendung. Raina, namanya. Berbeda dengan namanya yang memiliki makna hujan. Gadis itu terlihat seperti Mentari yang begitu cerah di tengah gelapnya awan mendung yang menghiasi langit ibukota. Tanpa seorangpun tahu, topeng yang ia pakai begitu sempurna untuk menutupi segalanya.

"Rain, meja nomor 6. Di sudut cafe!" Raina yang mendengar perintah langsung mengangkat jempol dengan senyum lebar ke arah sang koki. Dengan penuh semangat ia mengambil nampan yang sudah berisikan pesanan, berjalan ke arah jendela besar yang menampilkan hujan deras dengan jelas dari meja yang akan ia datangi.

Langkah kakinya berhenti tepat di salah satu sisi lain jendela. Gadis itu terdiam, menatap langit sekilas, kemudian padangannya jatuh pada tetesan air hujan yang jatuh ke tanah. Sepertinya langit sedang menyindirku saat ini. Batin Raina sendu.

Tersadar dari lamunan, ia mengubah ekspresinya dan kembali tersenyum lebar. Raina meneruskan jalannya ke sudut cafe, tanpa ia sadar tatapan matanya kini telah beradu pada salah satu laki-laki yang kini berjarak tak jauh dari tempatnya.

Deg

Raina terpaku sesaat, begitu pun cowok itu. Tetapi dengan cepat ia memutuskan pandangannya lebih dulu.

"Silahkan, Mas. Selamat menikmati." Ucap Raina saat ia sudah meletakan menu di atas meja budar tersebut.
Ia tersenyum, lalu menatap mereka bergantian. "Jika membutuhkan sesuatu lagi, Mas bisa memanggil saya." Tambah Raina ramah.

"Terima Kasih ya, Mba." Sahut salah satu dari mereka dengan membalas tersenyum ke arah Raina. Berbeda dengan sepasang mata lain yang kini sedang menatapnya dengan ekspresi yang tidak terbaca. Matanya tertuju pada name tag pelayan itu.

Raina Putih Anjani

Raina mengangguk kecil masih dengan senyumnya, kemudian beranjak dari sana.

Laskar Langit BiruStories to obsess over. Discover now