1. Pamit

241 41 44
                                        

Za, yang kutakuti benar kenyataan. Kamu seperti senja. Datang malu-malu juga pamit cepat-cepat. Indah namun hanya sesaat.

Kamu telah lepas dari genggamanku dan memilih pergi. Padahal hujan telah menyimpan memori saat kita bersama. setiap hujan, genangan itu menjelma kenangan yang selalu memanggilku.

Jiwaku kering oleh kepalsuanmu. Tapi hujan tak terima, dia bilang kamu jujur dan nyata melalui bisikannya. Bahkan embunnya menjelma menjadi senyummu. Seolah menjelaskan betapa manisnya dirimu.

Resahku tak pernah berakhir. Aku belum mampu berdamai dengan dirimu pun hujan yang telah membelamu.

"Ta, bangun ih. Kenapa merem terus sih. Sakit ya?" Indy menggoyang-goyangkan tubuhku.

"Diem dulu Dy, bangunin gue kalau hujan udah reda." Kataku dengan mata tertutup.

"Yaudah, gue pergi ke kantin duluan." Indy berjalan meninggalkanku.

"heem."

***
Za, akibat perbuatanmu. Aku harus menanggung semuanya sendiri. Kerja samamu dengan hujan benar-benar menyiksaku. Apa kamu mencoba membunuhku secara perlahan-lahan?

"Bangun Ta, hujannya udah reda. 15 menit lagi kita ada meeting sama pak bos." Indy kembali menggoyang-goyangkan tubuhku.

"Heem. Thanks Dy." Aku kembali membuka mataku dan hujan telah reda. Aku bisa bernapas lega.

Aku tersadar, duniaku masih berputar tentangmu. Meski di hadapanku ada setumpuk pekerjaan. Meski di hadapanku ada kawan juga lawan. Yang orang lain yakini bisa mewarnai kehidupan. Tapi bagiku, selepas kepergianmu. Semua berubah. Duniaku hanya hitam putih. Aku sendiri, bersama sepi, lagi-lagi resahku tak berkesudahan.

Za, aku lelah. Sejenak, pandanganku menemukan sosok yang aku rindukan. Sedang tersenyum padaku seperti menguatkan. Itu kamu kan Za?Tanganku gatal untuk menggapaimu. karenaku yakin itu kamu. Tetapi semakin ku usap lembut. Kamu menghindar Za. Kamu pergi berpendar.

"Za, kamu dimana? Jangan pergi....AAHHHH ZAAAA...."

Kamu pergi dari hadapanku lagi Za. Apa aku tak berarti bagimu? Hingga kamu memutuskan untuk pergi meninggalkan aku, Za?

"Za, Jawab Zaaaaa...!"

BRaKkkk...

Aku menemukan diriku dalam toilet dengan kondisi tangan penuh darah. Ternyata aku baru saja memecahkan cermin.

"Yaampun, Dita. Tangan lo berdarah. Apa yang lo lakuin sampe kayak gini? Lo pecahin cermin toilet ta? Kenapa! Kalau ada apa-apa lo harusnya cerita sama gue! Lo ngga bisa kayak gini. Hhhhh..." Indy menjambak rambutnya frustasi.

"Gue obatin luka lo. Kita masih punya waktu 10 menit lagi sebelum meeting." Indy terus saja mengguncang tubuhku.

"Makasih ya ndy." Aku tersenyum getir.

***

"Nah, udah selesai. Cocok juga kalau gue jadi perawat." Indy tersenyum padaku.

"Iya bagus. Kenapa dulu gue nolak jadi dokter aja ya Ndy. Kan gue bisa obatin luka gue sendiri." Aku terus memandangi perban yang membalut tanganku.

"Sstttt... lo ngomong apa si, yang berlalu biar berlalu. Lagian kalaupun lo jadi dokter, lo juga butuh bantuan orang lain ta. Ngga semua luka bisa lo sembuhin sendiri." Aku tersenyum mendengar ucapan indy.

" Yaudah, yuk cusss... kita meeting sama pak bos." indy menarik tanganku untuk berdiri kemudian kami bertos ria.

"Siap bu Indy."

Kumpulan CerpenWhere stories live. Discover now