Bagian 1 Tahun Baru

54 4 2
                                        

Bandung, Januari 2012

Pagi itu jalan Tikukur diguyur hujan sisa semalam, seperti biasa sebelum on air Adi berdiri di hadapan jendela di balik kursi penyiar menerawang ke langit mendung sesekali tempias menerpa wajahnya meski secara tidak langsung karena terhalang kaca ia merasa dingin yang menerpa sama seperti januari-januari sebelumnya.

Seorang perempuan berambut keriting dengan kaca mata tebal mengetuk kaca ruang siaran, ia memberi isyarat 5 menit lagi ia harus mulai on air di hari pertama orang-orang lelap tertidur setelah merayakan malam tahun baru. Ia mengangguk dan segera mengambil tempat memeriksa mixer, komputer, internet dan menyentuh gelasnya yang mulai dingin. Adi duduk tegak, menarik napas dalam dan menghembuskan ke udara ia lakukan berulang kali sebagai bentuk ritual menaklukkan pagi.

"109.07 Tikukur Fm... radio jagoan kita... semangat pagi menyongsong awal pagi di tahun baru 2012", teeeett... teeeett... teeeett... Karin si produser ikut berjingkrak dan bertepuk tangan di luar kubikel penyiar. "Hey... hey... hey ... apa kabarnya nih kalian yang pagi ini udah on aja?, ciee ketahuan tadi malem udah tidur jam 8 terus bangun pagi dan berangkat kerja padahal tanggal merah. Ciee... yang lain libur ciee kamu kerja... ciee pergi sendiri... termasuk guee... huhuhu. But anyway apapun kondisi kamu pagi ini jangan sedih, ada gue di sini yang bakalan nemenin kamu sampe jam 10 nanti. Ada lagu-lagu hits baru, gosip baru dannnn kuis berhadiah uwaaaaang yeee... lo boleh kirim sms atau telfon seperti biasa minta sama gue... minta apa aja asal jangan hati gue hahaha. So biar idup lo sendiri pagi ini, masih ada gue yang setia. Jadi please jangan nangis di bawah ujan di bahu gue aja aheuheu". Suara Pittbul ft Anthony mengudara menghentak ruang dengar pendengar. Pagi itu ceria.

Di lampu merah seorang perempuan berkalung syal merah mematung di balik kemudi, suara dari radio itu begitu familiar di telinganya. Ia berfikir mungkin ini saat yang tepat untuk menghubunginya meski bisa saja ia akan diabaikan. Berbekal sedikit keberanian ia menekan handphonenya.

"Hallo, Tikukur radio".

"Hallo, iya dengan siapa di mana?", Karin membalas.

"Jane. Bandung timur".

"Oke mba Jane ditahan sebentar ya", Karin berdiri memberi isyarat ke Adi, Jemarinya membentuk kode telfon dan huruf F yang artinya ada penelpon cewe. Adi memberi jempol. Lagu mengalun pelan.

"Balik lagi di semangat pagi di Bandung lautan kenangan eh lautan harapan, by the way apa harapan lo di 2012 ini? Kalo gue berharap... 2012 please be kind to me jangan kau gantung terus hati ini haha... sudah ada penelpon nih yang masuk. Hallo, dengan siapa di mana?".

"Hallo".

"Iya dengan siapa?. Semangat dong".

"Jane. Bandung timur".

"Okey Jane...", Adi tertegun.

"Hallo".

"Iya Jane, apa harapan kamu di tahun 2012 ini?".

"Menikah".

"Ouw... ya . Terus cowok impian kamu itu kaya apa sih Jane?".

"Gak perlu ganteng atau kaya yang paling penting dia bertanggung jawab".

"Real men ya... emang bener banget tuh yang dibilang Jane. So mending dapet calon suami yang ganteng, kaya dan bertanggung jawab ya gaes". Everything and More nya David Archueleta menyalip suara Adi.

Adi mehempas tubuhnya di kursi siaran, ia tak menyangka Jane yang telah lama menghilang dari hidupnya hadir kembali dengan cara yang sama seperti enam tahun yang lalu. Jane merunduk, keningnya jatuh di kemudi hingga mobil sedan silver itu meraung keras sekali.

"Are you okay?", Karin muncul di balik layar kaca. Adi mengangguk, Karin satu-satunya saksi kisah Adi dan Jane. Kisah penyiar dan pendengarnya. Ia khawatir suasana hati Adi mempengaruhi rating siaran paginya.

"Anda tidak apa-apa?", seorang lelaki paruh baya menggendor kaca mobil Jane. Kaget dengan kondisi mobil yang yang terparkir di tengah jalan dengan klakson menyala, Jane segera membuka kaca dan meminta maaf kemudian melaju menuju soekarno hatta.

"Hey... rating kita pagi ini turun mas bro", kata Karin saat Adi keluar dari ruang siaran.

"Efek malam taun baruan kali Rin, orang-orang pada molor. Besok kita mainkan lagi oke", kata Adi mengacak rambut Karin, menenteng tas dan helm ia siap meninggalkan heaven. Sebutan untuk radio tikukur yang menjadi surga bagi para jomblo.

"Wait...", Karin mengambil secarik kertas dan menyodorkannya ke arah Adi. Sederet nomer handphone, ia tahu no handphone Jane. Adi balik badan meninggalkan Karin, Karin mengejar menarik lengan Adi dan menaruh kertas itu di tangan Adi, "Kamu simpan ini mungkin sewaktu-waktu perlu, sometimes a memories can be a good friend in a right place and time. Just keep it", Karin menangkupkan telapak tangan Adi dan kembali ke mejanya.

***

Tok tok tok, sebuah pesan masuk ke blackberry Jane, merasa jalanan sepi dan aman ia meraihnya dan membuka pesan masuk.

"Kamu di mana?".

"Aku masih di Bandung, ada beberapa urusan yang belum kelar".

"Oh... aku kawatir dari kemarin kamu enggak ngabarin aku. Kamu udah makan?. Selesai jam berapa acara hari ini?. Hmm... kamu mau nemuin siapa pagi ini?".

"Yo. Aku ada urusan sama temen SMA aku bentar kayanya, nanti aku kabari ya".

"Oh, yaudah sayang take care ya. Jangan telat makan, kabari aku ya nanti. Dah sayang, love you".

Jane hanya tersenyum, entah karena mendapat perhatian dari Rio tunangannya di Jogja atau karena mobilnya telah sampai di suatu tempat yang memiliki kenangan tak biasa. Jane turun dari mobil, sepasang mata memerhatikannya dari jauh, perempuan paruh baya itu tersenyum dan menyambutnya.

***

"Bu... hari ini Adi pulang telat ya. Ada janji sama teman, nanti sore aku ambil motor Nisa ke bengkel pak Harun sambil pulang ya bu".

"Hati-hati di jalan ya Ka. Jangan pulang terlalu malam ya kita makan malam bareng".

"Iya Ibu sayang".


ALWAYS YOUWhere stories live. Discover now