hari itu langit terlihat mendung. ini adalah hari pertama aku kembali bersekolah tapi mengapa seakan akan langit tak mendukungnya. aku selalu suka hari pertama sekolah dan bertemu dengan teman teman baru. aku Ariana Sanjaya. ini adalah hari pertama ku di SMA seribu, aku murid kelas X, umurku kini telah menginjak 17 tahun. mungkin aku terlalu tua untuk menjadi kelas X namun kjika aku menjelaskannya itu akan menghabiskan waktu yang lama. walaupun umurku terbilang tua, aku gadis yang masih seperti gadis berumur 13 tahun.
SMA seribu merupakan SMA yang paling terkenal di daerah tempat tinggal ku, sebab itu masuk ke SMA ini adalah salah satu impianku yang terwujud. apalagi aku lolos ujian masuk di 30 besar.
hujan yang terus turun sedikit mengganggu kegiatan para murid baru dan murid senior lainnya. kami para murid baru bahkan belum mengetahui kelas kami. terkadang aku menyukai hujan dan terkadang aku membencinya.
aku tersenyum tipis melihat keberadaan temanku yang ada tidak jauh dari depanku. aku menghampirinya dan menepuk kecil bahunya agar dia tau keberadaan ku. ini sangat lucu dia berbalik dengan wajah konyol. aku tertawa cukup keras hingga orang disekitarku menoleh. aku tak acuh dengan orang yang memperhatikan ku dengan tatapan seakan aku orang aneh di kerumunan itu.
hujan mulai reda, dan kami para murid sudah diperbolehkan untuk berpencar mencari kelas kami. aku dan teman ku mencari bersama-sama. yang kami sayang kan adalah aku dan teman dekatku yang lain tidak sekelas. hanya aku yang masuk kelas X IPA I, ada apa ini? aku tak mengenal orang lain selain diriku sendiri. sebenarnya ada beberapa yang ku kenal, 4 orang mungkin. mereka adalah temanku waktu SMP, aku dan dia tidak terlalu dekat. tapi tanpa pikir panjang aku mengajak salah satu temanku saat SMP berbicara.
"vi, lu masuk kelas ini juga?" tanya ku hanya untuk basa basi
"Iya." jawabnya singkat, inilah yang sangat kusayangkan ketika tidak sekelas dengan teman dekat mu.
"LOH, Mel. lu disini juga ya?" kaget aku hingga tersentak mendengar teriak viona kepada Melia salah satu orang yang ku kenal juga.
"Iya, yahh bangkunya g ada yg kosong apa?" tanya melia yang memang datang terlambat dan sulit mencari bangku yang kosong.
aku menunjuk kearah bangku kosong yang berada di ujung dekat dinding, melia pergi kesana dan menaruh tasnya. dari sinilah aku mulai dengan Viona dan Melia, aku juga mulai terbiasa dengan teman sebangku dan teman sekelasku yang lain.
tapi ada satu orang yang menarik perhatian ku, baiklah aku tak bisa mengelak bahwa wajahnya sedikit lumayan. nama nya Dirga, Dirga Andi Adipura. dia begitu pendiam, sejak awal masuk aku selalu memperhatikannya.
_
"Guys, kalian ingat dia gak?" ucap Fania menunjuk seseorang.
dengan sigap aku melihat arah orang yang dimaksud oleh fania. what? bukan kah itu Dirga. Apakah Fania menyukai Dirga? Tidak mungkin Fania pasti tidak begitu.
"Ar, lu ingat gak?" Tanya Salsa tiba tiba, aku yang sedang memakan jajanan ku hingga tersedak.
"Hah?"
"Ituloh anak SMP kebaktian, masa ga ingat. dia anak pramuka loh waktu SMP." aku berpikir keras mengingat apa yang di katakan.
!!!
aku ingat sekarang, pantas saja dia tak asing di mataku.
"Ar, jangan bilang lu suka sama Dia?" ucap Salsa aku begitu kaget untuk kedua kalinya.
apa mungkin aku menyukainya.
_
kini sudah satu minggu aku bersekolah di SMA seribu, dan sudah satu minggu ini aku terus mengamati 'dia'.
selain itu aku juga sudah akrab dengan beberapa teman kelasku. terutama dengan Viona dan Melia yang awalnya tak sedekat sekarang denganku.
aku sering bercerita kepada mereka berdua tentang Dirga, lelaki misterius yang menurutku pendiam. namun beberapa temannya dari SMP kebaktian yang sekelas dengan kami bilang bahwa Dirga bukanlah seseorang yang pendiam seperti keliatannya.
"Ar, lu ngapain bengong? mau kita tinggal, buruan kita mau ke perpus ini." pikiranku buyar karena ucapan Melia yang pas di telinga ku. anak anak di kelasku mulai berhamburan keluar kelas dan membawa buku catatan mereka. segera ku ikuti langkah mereka ke perpustakaan.
"Ar, tadi waktu lu ngelamun. si Dirga di deketin cewek cewek loh." ucap melia.
untuk apa dia mengatakan hal itu di depanku. aku juga tidak mungkin cemburu lagi pula Dirga bukan siapa siapaku. aku tak menghiraukan perkataan Melia dan tetap berjalan.
"Ciee Ariana Cemburu Ciee." ucap Melia dengan keras. aku segera berbalik dan memukulnya.
kulihat teman sekelasku seketika memperhatikan aku dan Melia. Dirga juga ikut memperhatikanku. seketika mood ku sangat hancur hari ini. walaupun begitu aku tetap tidak bisa jauh jauh dari Melia.
lagi lagi melia mulai berulah, saat sedang ada di perpustakaan dia tiba tiba menarik ku dekat rak yang penuh buku buku komik. entah komik apa. kulihat di dekat sana ada Dirga dan beberapa teman sekelas ku yang lain.
aku menatap Melia dengan penuh tanya.
"Dir, dapat salam dari Ariana." ucap Melia dengan santai.
what? bagaimana bisa dia mengatakan hal itu kepada Dirga.
aku bisa menebak wajahku sudah sangat merah seperti kepiting sekarang, aku melirik kearah Dirga. dia hanya tersenyum. aku mencoba untuk tidak berpikir macam macam tentang senyuman itu. aku hanya bisa diam dan kembali ketempat ku sebelumnya.
_
kini mataku terpaku oleh buku tugas ku, aku masih mencoba menyelesaikan soal soal yang tertera di kertas tersebut. ini karena Melia, kepala ku dipenuhi oleh senyumannya. aku tak dapat menyangkal hal itu, kini seorang Ariana telah jatuh pada seorang pria membosankan di kelasnya.
"Ar, udah selesai belom tugasnya?" Tanya Indi teman sebangku ku. aku menggeleng pelan, bukannya tak mengerti dengan soal soal ini. hanya saja otak ku menolak berpikir hal selain senyuman menyebalkan penuh arti itu.
ku lihat Indi hanya mengangkat bahunya.
otak ku benar benar bekerja dengan lambat untuk menyelesaikan soal ini.
kurasakan sesuatu menepuk bahuku, aku berbalik. Melia sudah ada di belakang ku dengan buku tugas di tangannya. aku menatapnya dengan tanda tanya besar, dia kemudian tersenyum. aku sudah tau artinya, dia tengah meminta jawaban padaku. ku ambil buku tugas ku dan memperlihatkan tepat di depan wajahnya.
Melia berjalan lesuh kembali ke tempatnya, aku tertawa kecil. bahkan tawa milikku membuat ku mengingat tentang kejadian di perpustakaan.
PRAKK
itu suara kursi ku yang terjatuh saat aku mencoba berdiri, apakah ini hari sial bagi ku? segera ku taruh kursi pada bentuk semula dan meminta izin untuk ke toilet. meja ku ada di barisan belakang yang artinya aku harus melewati meja Dirga.
ya tuhan, cobaan apa lagi yang akan kau berikan kepada ku.
aku memang anak yang nakal, bayangkan saja aku berada di toilet hingga jam istirahat selesai.
saat aku kembali ke kelas JENG JRENGG JENG.
guru yang tadinya duduk di meja itu sudah lenyap, oke mungkin aku terlalu mendramtisir. ini adalah akibat senyuman itu.
gila ini hari yang gila bagaimana bisa hari hari ku menjadi penuh dengan kesialan, hanya karena senyuman itu.
"Ar-" suara parau yang ku kenal membuat ku menoleh.
"Ada ap-" aku tak bisa melanjutkan kata kata ku setelah melihat orang tersebut dengan jelas.
Melia benar, aku cemburu. Tapi itu bukan berarti bahwa aku me-
-bersambung-
"maaf untuk mulai menyukaimu. maaf karena tidak bisa menahan perasaanku"
-ariana (pardon.)
YOU ARE READING
pardon. [END]
Teen Fictionlayaknya kisah pada umumnya, bedanya ini berawal dari perasaan yang tidak tau bahwa perasaan nya jatuh pada keduanya. bisa di bilang ini adalah kisah tentang memaafkan dan dimaafkan. maaf untuk selalu berada dalam diam, maaf untuk tidak menyadari p...
![pardon. [END]](https://img.wattpad.com/cover/174506986-64-k56801.jpg)