•| Tali Lasso

27 4 4
                                        

Pagi itu tidak cerah, gumpalan angkasa menyatu, menjadi tebal, mungkin sebentar lagi melepaskan beban yang ditanggungnya lama. Bersamaan dengan semilir angin yang menelusup ke sela-sela dedaunan, membuat bunyi gesekan pada rumput, dan mengundang kembali emak-emak keluar rumah untuk mengangkat jemuran yang baru saja dibawa keluar.

Melepaskan. Seperti awan yang merelakan titik-titik air untuk pergi menyatu dengan tanah pijakan, seperti pohon yang merelakan dedaunannya terhembus angin dan berkelana entah kemana nantinya. Mungkin berakhir di jalanan, lalu disapu bersama sampah masyarakat lainnya.

Althena dan merelakan sudah berteman sejak hari itu. Ia sudah merelakan, ia tak ingin lagi sedih, tak mau lagi menangis. Tapi mungkin, Althena masih ingin mengenang. Rasanya itu saja cukup.

Memangnya, apa hak manusia meminta kembali apa yang telah pergi?

"Bun! Thena sekolah!"

"Iyaa, hati ha–"

Plung.

"Haahh," Althena yang menempelkan kupingnya pada pintu kamar mandi bergidik geli. Bundanya sakit perut, sedang menuntaskan tugas negara dan ia yang berniat pamit ke sekolah malah disambut bunyi horror sepersekian detik itu. Yaudah.

Ia menyambar sweater  rajutnya, meloloskannya melewati kepala, dan menutup pintu rumah untuk kemudian melangkah kecil menuju garasi, mengambil sepedanya.

Masa bodoh sebentar lagi hujan, Althena berniat menjadi sahabatnya.

°°°

"Antenaaa tipii!"

Althena yang baru saja menurunkan standar sepedanya tak langsung menoleh, antara malas, dan ingin menikmati musik yang mengalun lewat headset  yang menyumpal telinganya.

Oh i hope someday, i'll make it out of here.

Even if it takes all night, or a hundred years.

Puk.

Yah ngeselin.

Yang barusan menepuk pundaknya adalah Nadi, sahabatnya yang setia sejak tahun 1945. Heboh, ceria, dan selalu menggebu-gebu. Tapi Althena sayang.

Tapi sayangnya settingan, biar Althena nggak dicincang sama Nadi.

Entahlah, mungkin kalau Nadi tidak pernah berontak keluar dari rahim ibunya dulu, Althena sampai sekarang tidak pernah menambah playlist  lagunya dengan lagu dari Dua Lipa, atau Ariana Grande dan teman-teman gengnya yang lain.

Mungkin Althena masih stuck pada lagu My Heart Will Go On dan menyetelnya beribu-ribu kali sampai nanti ia bisa naik kapal titanic betulan. Yang artinya adalah tidak mungkin, dan ia tak akan mengganti lagu kesukaannya itu.

"Congek sumpah ni anak."

"Hmmm? Ada apa Nadina? Ada yang penting? Oh, nggak ada? Yaudah aku duluan," Althena akhirnya menggubris calon emak penguasa jalan disampingnya ini.

"Ihhh Thenaa buset dah!"

Althena kembali menatapnya dengan sorot apaan-sih-berisik-amat andalannya jika berhadapan dengan Nadi.

Oh, Althena masih belum melepas headset nya by the way.

Nadi yang kesal bersungut-sungut. Tapi tak sampai satu menit, ketika Althena menanggapinya dengan, "Udah?" dan Nadi akan mengangguk kencang lalu merangkul bahu gadis berkulit susu itu.

Save In SoundHistórias para pegar e não largar. Descubra agora