Prolog : Rantingku.....

12 5 0
                                        

Daun kering terjatuh, terbang dan sendirian. Daun kering dilupakan, dan telah tergantikan. Berharap ranting mencari-cari, rantingnya telah berpaling.

Rantingku..

Pagi ini telah ku bungkuskan rinduku untukmu. Tak perlu berbalas. Hanya sekedar ingin memberi tahumu, aku masih berharap meski kamu telah memiliki daun yang baru.

Daun kering bertemu, bertemu dengan rantingnya dulu. Ternyata hanya ranting yang lain. Daun kering ambigu, rantingnya dimana-mana. Ranting yang selalu mempesona di setiap detiknya.

Rantingku..

Kuberi tahu, sekedar membayangkan daun barumu mampu membuat tidurku tak pernah nyenyak. Padahal sekedar bayangannya saja yang terlintas, namun berhasil membuat makanku selalu tersedak. Dan mungkin, ketika aku benar-benar menemuinya sebentar lagi akan ada yang mati mendadak.

Daun kering kembali, berharap rantingnya menerimanya lagi. Namun, benar saja rantingnya telah bersama daun baru. Tak layu, tapi begitu ayu. Daun kering harus cemburu melihat itu.

Hey daun baru!!!!!

Pesonamu begitu memikat, cantikmu membuat rantingku terikat. Sampai embun yang melekat pun terlihat begitu pekat. Ah sudahlah, mungkin kau memang daun yang tepat.

Daun kering kesakitan, menyaksikan rantingnya tumbuh dengan daun yang menjadi pilihan. Daun kering menyesal, tak seharusnya dulu mengambil keputusan untuk meninggalkan.

Rantingku..

Telah kuputuskan untuk berhenti menjadi penganggummu, berhenti untuk menjadi pengharapmu, berhenti untuk menjadi penyukamu. Dan, aku berhenti!.

Setelah daun kering tertimpa hujan sepanjang gelap datang. Hatinya masih saja kepanasan, terbakar api kecemburuan. Jatungnya kian berdebar tak karuan. Pikirannya tak lagi dapat dijernihkan. Dan lagi-lagi perasaannya tak bisa kembali tenang.

Rantingku.

Banyak yang ku semogakan sekarang. Seperti; semoga kau lekas hilang dari ingatan, semoga kenangan tak kembali datang dan yang terpenting semoga kau selalu diselimuti kebahagiaan. Karena, aku tak berhenti menjadi pendoamu. Tak akan!.

Daun kering sendirian, terterpa angina kemudian terbang tanpa tujuan. Terlihat disana tak ada lagi harapan. Daun kering memutuskan, tanah akan menjadi pemberhentian terakhirnya. Daun kering pasrah, biarlah menjadi pembelajaran dalam mengambil keputusan. Agar apa? Agar tak lagi timbul bersamanya penyesalan.

Ini cerita kedua gua ya gaes, dan sorry banget buat cerita yang pertama belum sempet sampai ending dan gua malah udah main bikin cerita lagi ajah. Tapi don't worry cerita pertama pasti bakal secepatnya gua next. Jangan lupa buat follow gua di Instagram @deviliaadp and don't forget to vote my story. thanks :))))

DIARY DAUN KERINGWhere stories live. Discover now