Malam ini suasana UGD terasa lebih sepi. Mungkin udara musim semi yang hangat, sepertinya berhasil menghangatkan hati orang-orang. Jika biasanya pada akhir pekan angka kecelakaan meningkat, malam ini belum ada satu pun pasien yang datang. Mungkin pula orang-orang yang hatinya hangat itu menjadi lebih calm down dalam berkendara, sehingga tidak ada mobil ugal-ugalan dan pengendara gugup yang menabrak pembatas jalan.
Sakura membaca novel picisan yang ia pinjam dari teman sekamarnya, Tenten. Dalam hati ia merutuki Tenten yang meminjaminya novel tentang si Gadis biasa saja yang dipertemukan oleh takdir dengan pangeran es yang hanya membuka pintu hati untuknya, melakukan apapun untuknya, dan berakhir bahagia selamanya dalam keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah. Apa Tenten lupa siapa Sakura yang ia pinjami novel ini?
Failed Cinderella. Begitulah orang-orang menyebutnya, di belakang bahkan di depannya. Insiden dua tahun lalu, saat ia gagal bertunangan dengan konglomerat masih menjadi buah bibir. Bahkan saat ia sudah hampir berhasil pura-pura lupa dengan tragedi itu, maupun saat dia sudah menepikan diri hingga ke Sapporo. Berita itu seperti virus yang enggan pergi darinya, mengikutinya kemanapun ia pergi.
Baiknya Sapporo dibanding Tokyo adalah orang-orang disini lebih bisa mengendalikan mulut mereka, walau mata mereka menyatakan segalanya. Setidaknya mereka tidak bertanya, tidak mengatai, dan tidak menghardik.
Kembali ke novel Tenten. Jahat bila Sakura mengira gadis itu dengan sengaja meminjamkan novel ini untuk menyindirnya. Semua novel Tenten memang seperti ini, berkisah tentang kisah cinta ajaib yang akan membuat pembaca polos berbunga-bunga. Jika ini Sakura yang dulu, dijamin ia akan menjadikan si tokoh utama pria menjadi tipe laki-lakinya. Sekarang? Ia meneruskan membaca novel tersebut dengan smirk menyeramkan, menciptakan hawa pekat yang menyeruak hitam dari tubuhnya. Beberapa perawat lain yang sedang berjaga memilih untuk menyingkir dari suasana tegang di sekitar gadis itu.
Brakkk
Sakura menggebrak meja setelah menutup novel itu kasar. Tidak berhenti disitu, ia memelototi novel itu penuh amarah.
Sadar suasana di sekitarnya menjadi hening, padahal seingatnya ada enam rekannya yang mendapat shift jaga malam ini. Ia pun mendongak, mendapati tatapan penuh tanya bahkan ngeri dari mereka.
Sakura pun cepat-cepat mengganti mimik mukanya, "Aku mau beli kopi di cafe depan, ada yang titip?" ucapnya untuk mengalihkan perhatian namun hanya dijawab dengan kediaman oleh rekan-rekannya.
Ya, ia hanya butuh pergi dari suasana tidak mengenakkan karena novel sialan itu.
Tidak mendapat respon setelah cukup menunggu, ia segera bangkit dan berjalan keluar dengan langkah panjang.
🍁🍁🍁🍁
Di sisi lain Sapporo, dalam sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. Darah terus menetes dari lengannya, sedikit lagi ia akan sampai ke rumah sakit terdekat. Oh sial, ternyata bukan hanya lengan tapi dadanya kini juga merasakan nyeri dari peluru panas yang bercokol di dalamnya. Ia sadar untuk harus segera menepi, kesadarannya sudah menipis.
Tapi tunggu, dimana dia sekarang? Sapporo kah? Jika iya, berarti dia sudah aman.
Aman?
Ckitttt brukkk.
Ia berhasil menginjak rem, 25 meter lagi sampai ke Rumah Sakit. Tapi kesadarannya sudah timbul tenggelam, ia tidak sanggup menyetir sampai sana. "Seseorang, tolong aku!"
🍁🍁🍁🍁
Tiinnn tiiinnnn
Bunyi klakson yang memekakkan telinga pada akhirnya membuat Sakura berhenti dan berbalik. Seorang lelaki paruh baya berkacamata terlihat bersungut-sungut, "Nona, cepatlah baik ke mobil jemputanmu itu! Kau tidak lihat kemacetan yang kau timbulkan?"
YOU ARE READING
Just a Little Bit
FanfictionSakura mencoba untuk keluar dari lingkaran itu. Lingkaran dimana ia akan menghabiskan setengah gajinya dalam sebulan, hanya untuk menata rambut saat makan malam -atau menguras setengah deposit apartemennya untuk pergi dengan gaun butik ternama. Ia b...
