We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Lima

7 1 0
                                        

Bayangkan semua yang ada di dunia ini diterjemahkan oleh matamu dengan lensa berwarna indigo, setiap partikel gas di udara dikenal oleh kulitmu sebagai titik-titik dingin dan setiap tarikan napas yang kau tarik tak lagi seringan kapas. Taehyung berharap ia hanya sedikit dramatis pagi ini, namun mungkin demikianlah adanya. Ia benci menyadari kalau ia tak dapat mengendalikan pikirannya seperti yang ia mau, namun mungkin inilah proses yang harus ia lewati.

Hari kelima.

Taehyung terbangun pagi itu. Hari minggu. Pukul tujuh pagi. Ia sudah menghancurkan seisi hari kerjanya minggu itu, rasanya seperti ada rongga besar dalam dadanya yang entah sejak kapan ada di sana. Lingkaran besar itu terasa kering dan setiap napas yang ditariknya seakan menarik setiap bulir air dari dinding lingkaran aneh itu, meninggalkan perasaan tidak nyaman yang tak bisa enyah dari kepalanya. Kinerjanya menurun drastis dan banyak orang di sekitarnya khawatir, namun saat ia menjelaskan apa yang terjadi, semua orang nampaknya paham seketika dan mengatakan kalau ia hanya harus belajar kembali menguasai dirinya seperti sedia kala.

Andai kenyataan bergulir semudah melontarkan sebaris kalimat dari mulut manusia.

Ia tak mau mengalah dan mengatakan kalau hidupnya hancur setelah Jimin, pria yang disayangi oleh ibunya lebih dari dirinya sendiri sebagai anak, pria yang pertama kali dilihatnya setiap alarm berbunyi di pagi hari selama hampir tiga tahun lamanya, pria yang mengubah hidupnya, pria yang hangat senyumnya mengubah biru dunia menjadi oranye, pri—

Ia tak mau mengalah pada kenyataan dan mengatakan kalau hidupnya hancur setelah Jimin memastikan kalau ia meninggalkan Taehyung "untuk kebaikan semua pihak". Ia hanya tak terbiasa dengan agenda patah hati, dan ia yakin kalau ia hanya perlu menelan semuanya sampai semua rasa pahit itu hilang dari dinding mulutnya. Sampai kapan? Andai ada yang tahu, namun yang pasti ia akan mencoba walau tak tahu harus memulai dari mana.

Ia menarik punggungnya dan duduk bersandar dinding di atas kasur. Taehyung merasa proses melepaskan ini sangat sulit, dan sisa-sisa keberadaan Jimin di kamarnya membuat memori akan pria kecil itu rawan terapung kembali ke permukaan. Ia pergi meninggalkan rumah dengan pikiran dikabuti rasa sakit setiap harinya, dan pulang untuk terus menerus diingatkan soal perginya pria yang pernah, mungkin masih, ia sayangi setiap kali ia menggerakkan matanya atau melangkahkan kakinya.

Sebuah ide akhirnya muncul dalam kepalanya. Sambil menurunkan kedua kakinya menyentuh lantai kayu yang hangat, ia memutuskan untuk menyisihkan hal-hal kecil yang ditinggalkan oleh Jimin di kamarnya. Menyatukannya dalam satu wilayah kecil dan hanya tuhan yang tahu mau diapakan semua itu. Tubuhnya berdiri mematung untuk sesaat, lalu kepalanya mengangguk. Memberikan sinyal baik untuk dirinya.

Mungkin ini yang terbaik untuk dirinya.

Barang pertama: mesin pembuat kopi

Hanya tuhan yang paham seberapa besar ketidaksukaan Taehyung terhadap kopi. Ia tidak pernah bisa mengerti mengapa sekian juta manusia di muka bumi bisa terobsesi dengan minuman yang rasanya aneh seperti itu, menjadikan biji-biji gosong dengan rasa kurang menyenangkan itu sebagai komoditas yang laris diperdagangkan. Namun Jimin adalah satu dari mereka dan pria itu menegak secangkir kopi setiap pagi, menyesap habis kopinya dan membagi aroma yang hangat dengan seisi apartemen yang hening. Ia adalah saksi hidup dari kebiasaan ini, sementara mesin ini adalah saksi bisunya.

Taehyung teringat bagaimana senyum di wajah Jimin berangsur melebar saat mengetahui kalau ia mendapat hadiah natal berupa mesin pembuat kopi yang sudah sangat ia idamkan selama beberapa bulan belakangan. Taehyung juga tak dapat menahan senyum yang mengembang di wajahnya saat ia juga teringat kalau senyum indah itu disebabkan oleh hadiah natal yang ia beli seminggu sebelumnya.

LimaStories to obsess over. Discover now