"Ayah... maafkan Sharolyn."
Suara itu terdengar lirih di tengah sunyinya kamar rumah sakit.
Sharolyn menggenggam tangan Hary yang terbaring lemah di atas ranjang. Wajah lelaki yang selama ini menjadi satu-satunya tempatnya pulang terlihat semakin pucat. Selang infus terpasang di tangannya, sementara beberapa alat medis di samping ranjang terus mengeluarkan bunyi pelan yang justru membuat dada Sharolyn semakin sesak.
"Sharolyn mengambil keputusan sepihak untuk menjual rumah kita."
Jemarinya mengusap punggung tangan sang ayah perlahan.
"Sharolyn cuma ingin Ayah sembuh."
Matanya mulai berkaca-kaca.
Dia takut.
Takut kehilangan satu-satunya keluarga yang masih dia miliki.
Sudah tiga bulan Hary dirawat di rumah sakit karena leukemia yang dideritanya semakin memburuk. Kondisinya terus menurun dan biaya pengobatan yang harus ditanggung pun semakin besar.
Sharolyn hampir tidak pernah pulang ke rumah.
Hari-harinya terbagi antara bekerja sebagai waitress di Café Dandelion dan menunggui ayahnya di rumah sakit. Penghasilannya bahkan tidak seberapa jika dibandingkan dengan biaya pengobatan yang terus berjalan.
Padahal Sharolyn adalah seorang sarjana ekonomi.
Dia lulus dengan predikat cum laude.
Namun, gelar S1 dan nilai sempurna rupanya tidak serta-merta membuat seseorang mudah mendapatkan pekerjaan. Sebagai fresh graduate dengan minim pengalaman dan berasal dari universitas yang akreditasinya tidak terlalu diperhitungkan, berkali-kali lamaran pekerjaannya berakhir dengan penolakan.
Satu-satunya aset yang mereka miliki hanyalah rumah itu.
Dan hari ini, rumah tersebut sudah dia jual.
Keputusan yang sebenarnya tidak pernah ingin dia ambil.
Tetapi jika harus memilih antara mempertahankan rumah atau mempertahankan nyawa ayahnya, Sharolyn tidak membutuhkan waktu lama untuk menentukan pilihan.
Ayahnya jauh lebih berharga.
Malam itu, Sharolyn berjalan menyusuri lorong rumah sakit setelah menyelesaikan beberapa urusan administrasi.
Langkahnya terhenti ketika mendengar suara teriakan dari salah satu kamar.
"Shit! Why does this happen to me?!"
Sharolyn menoleh.
Suaranya terdengar penuh amarah.
Namun, dia segera menggelengkan kepala.
Bukan urusannya.
Dia tidak mengenal orang itu.
Sharolyn kembali berjalan.
Satu langkah.
Dua langkah.
Kemudian-
Prang!
Suara benda pecah terdengar keras dari kamar tadi.
Sharolyn spontan berhenti.
Jantungnya berdegup lebih cepat.
"Ah, sial..."
Dia mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya berbalik.
Entah mengapa kakinya membawanya kembali ke depan kamar tersebut.
YOU ARE READING
The Girl I Couldn't Forget
RomanceSetahun lalu, Fabian Romain Aldevaro bertemu dengan seorang perempuan asing di rumah sakit. Dia hanya tahu satu hal tentang perempuan itu. Namanya Nana. Tanpa foto. Tanpa alamat. Tanpa nama asli. Namun, satu pertemuan singkat itu cukup membuat Fabia...
