Perihal Jodoh: Kisah Cinta Maria & Basyar

8 2 0
                                        

Waktu itu, di jam sebelas lewat lima puluh malam sudah deg degan. Menunggu apa, tebak? Iya, kuota malam telkomsel dari jam 00 sampai jam 6. Kebiasaan zaman dulu beli telkomsel 30GB sebulan, kuota lokal sudah habis lebih dulu, kuota videomaxnya mubadzir, sisalah kuota malam. Aku ceritakan lagi ya. Ada seseorang yang ku tunggu insta storiesnya, atau postingan lucu yang ia share ke direct message instagramku setiap hari. Aku menanti pesannya via Whatsapp, atau status-status kerennya yang ia bagikan melalui aplikasi itu. Untungnya ketika disini dini hari, di benua Afrika bagian utara masih sore menjelang malam. Jadi kami bisa berbalas kabar atau sekedar basa-basi. Sekarang sudah tidak lagi. Mengapa?

Sebelum bercerita terlalu jauh. Kukenalkan dulu, namanya Basyar. Pemuda asal Jawa Barat yang melanjutkan studinya di Universitas Al-Azhar, Cairo. Aku mengenalnya karena ia guru bahasa Arab magang di sekolahku. Ia masih muda tetapi memiliki perusahaan kecil-kecilan yang ia bangun sendiri. Ayahnya seorang pengasuh pondok pesantren di salah satu kota di Jawa Barat. Dari sekian banyak murid yang ia didik, ia hanya akrab denganku, Maria, murid kelas IPS yang tidak terlalu cantik juga tidak terlalu pintar. Keakraban kami dimulai ketika ia meminjam ponselku untuk meminta nomor ponsel sewaktu sekolah kami mengadakan study tour di Bali. Awalnya aku biasa saja, bahkan tidak terlalu suka dengan sikapnya yang caper dengan muridnya.

Satu tahun berlau, tidak tahu angin apa yang membawaku mencarinya kembali. Kami menjalin keakraban. Sampai pada akhirnya melalui pesan singkat ia niatnya bahwa ia ingin melamarku. Sontak kutolak dengan tegas. Saat itu aku masih kelas 2 SMA dan ku anggap itu hanya sebuah candaan. Ia sering membagikan potret kesehariannya padaku, seperti keadaan asrama di sana, bagaimana rupa pasar di Mesir, masjid Mesir, makanan khas Afrika Utara dan lainnya yang membuatku tertarik untuk bertahan pada obrolan ini. Aku yang pemalu tidak selalu mengirim potret keseharianku, sebab lokasi keseharianku hanya di dua tempat: sekolah dan rumah. Kami masih tetap berhubungan sampai sebelum aku diterima di salah satu perguruan tinggi di Jawa Barat.

Oke aku akan lanjutkan perihal mengapa kami sudah tidak lagi berhubungan. Ada sesuatu yang tidak bisa aku ceritakan secara merinci. Kurasa ia menyukaiku, tetapi aku berpura-pura acuh. Karena hubungan kami terhalang kuota, juga kesibukan masing-masing yang mana aku harus sibuk menyiapkan perbekalan untuk masuk kuliah. Kami pun akhirnya putus hubungan tanpa salam. Setelah beberapa bulan kami tidak berkabar, aku melihat insta storiesnya seperti ada sesuatu yang aneh. Kamu tahu apa? Iya, salah. Dia melamar perempuan shalihah, Mbak Salafy sapaannya, yang jauh di atasku dari segi apapun. Jauh sebelum aku tahu hal ini, kukira aku akan mengalami kepatahatian yang tidak terbayang ketika ia benar-benar menikah dengan perempuan lain. Aku membayangkannya seperti yang ada di film Ayat-ayat Cinta yang sangat ku sukai alur ceritanya. Ternyata qodarullah, aku tidak merasakan kesakitan itu. Tidak seperti Nur yang dalam film Ayat-ayat Cinta menangis meraung meratapi cintanya yang bertepuk sebelah tangan. I am so happy to him. Walaupun tidak dapat dipungkiri ada rasa tak percaya dan sedikit kecewa.

Sebelumnya kami tidak memiliki hubungan lebih dari seorang guru dan murid. Ia adalah guruku, yang menjadi abang, juga teman cerita sehari-hari waktu itu. Cerita ini dibuat saat istrinya sedang mengandung trimester kedua. Aku sangat senang mendengarnya. Terlepas dari prasangka kepatahan hatiku yang belum dan tidak pernah terjadi. Aku berterimakasih. Aku move on. Meminta ampun kepada Allah SWT atas segala dosa berkedok kenangan. Melupakan segala yang pernah terjadi untuk diambil sari baiknya, dan mengambil segala ibrah yang ada dalam kisah Maria dan Mas Basyar. Aku fokus dengan memperbaiki diriku dan berjanji tidak mengulangi dosa yang sama. Aku fokus ber-wirul walidain pada kedua orangtuaku selagi masih ada kesempatan bagiku.

Aku merasakan kisah Hafsah, Muhammad SAW, Utsman, dan Ummu Kulsum dalam kisahku sendiri. Meskipun rasa kisahku tidak akan pernah benar-benar sebanding seperti apa yang terjadi pada zaman para nabi dan shohabiyyah.  Dalam sebuah cerita dikatakan, ketika Umar bin Khattab melamarkan putrinya (Hafsah) untuk Abu Bakr, ditolaklah ia. Ketika Umar bin Khattab melamarkan putrinya (Hafsah) untuk Utsman bin Affan, ditolaklah ia sebab Utsman bin Affan barusaja kehilangan istrinya (Ruqayyah binti Muhammad). Umar bin Khattab pun kecewa, lantas Rasulullah Muhammad berkata: "Utsman akan menikah dengan orang yang lebih baik daripada Hafsah, dan Hafsah akan menikah dengan orang yang lebih baik daripada Utsman". Tak lama berselang Utsman menikah dengan Ummu Kulsum binti Muhammad, adik dari Ruqayyah anak Rasulullah. Dan Hafsah menikah dengan Rasulullah. Betapa indahnya kisah ini.

Mas Basyar menikah dengan istrinya, seorang muslimah shalihah yang baik untuk dia, yang sama sepertinya seorang penghafal Al-Quran, putri pemilik pondok pesantren di salah satu kota yang terletak di Kalimantan Timur. Begitu pula denganku saat ini. Aku masih dalam proses peng-khitbahan yang in shaa Allaah calon suamiku lebih baik dari Mas Basyar, dan paling baik untuk diriku dari Allah SWT. Namanya Guntur Abdurrahman, seorang dokter muda lulusan Universitas Padjajaran yang bekerja di salah satu Rumah Sakit Umum Daerah Palembang. Guntur adalah temanku satu organisasi saat kuliah, kami masuk dan lulus di tahun yang sama. Kapan kapan jika Allah SWT berkehendak aku akan menceritakannya padamu. Mohon do'a restunya agar dilancarkan segala prosesnya menuju pernikahan.

Firman Allah memang tidak pernah salah, janji-Nya selalu benar. Mengapa aku bisa mendapat jodoh seperti yang ku ingini? Silahkan lihat Quran Surah An-Nur ayat 26 yang artinya;
"Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula); dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)..."
Allah tidak pernah salah memasangkan seseorang sebagai jodoh dunia akhirat.
Sekian.

Naabot mo na ang dulo ng mga na-publish na parte.

⏰ Huling update: May 12, 2022 ⏰

Idagdag ang kuwentong ito sa iyong Library para ma-notify tungkol sa mga bagong parte!

Perihal Jodoh: Kisah Cinta Maria & BasyarMga kuwentong kahuhumalingan mo. Tumuklas ngayon