PASS

10 2 1
                                        

Aku yang saat itu hanya berbaring menikmati langit-langit kamarku mulai meneteskan air mata ,teringat kembali kejadian malam yang membuatku tidak mampu menahan air mataku yang sedari tadiku tahan .

"Kakak"

kata - kata itu muncul dengan sendirinya dengan mengulang kejadian malam itu seperti layaknya musik yang dapat diputar kembali .

Serigala peliharaannya naik ditempat tidur untuk menenangkan .

"Cleo , Cloe . Aku sedang tidak bersemangat "

Serigala yang diberikan kakaknya langsung menghentikan gerakannya . Entah kenapa serigalanya sangat menurut

"Good boy , good girl . Thank you for understanding me "

Suara ketukan pintu langsung memecah fokusnya dari serigalanya dengan suara tersebut

"Nona Alcena , sudah saatnya anda bangun . Anda harus bersiap untuk memperingati 40 hari Tuan Haska. "

alcena hanya terdiam dan dengan tubuh dan kaki yang terasa berat ia mulai membersihkan diri dan bersiap dengan setelan dress hitamnya .

Satu jam telah berlalu , suara ketukan mulai terdengar lagi . "Nona Alcena , izinkak saya masuk untuk membantu nona menyiapkan keperluan nona "

Alcena tidak bergeming untuk bersuara sedikitpun. Iya hanya menatap cermin dan mulai memegang kalung pemberian terakhir kakaknya .

"Kakak bodoh"

akhirnya Alcenapun keluar tanpa membiarkan pelayannya masuk dan mulai berjalan keruang tamu yang besar melihat bibi,paman,sepupunya duduk berdampingan dan banyaknya tamu duduk menikmati proses peringatan kematian kakaknya itu .

Alcena yang turun dengan anggunnya dan aura yang tajam membuat tamu yang duduk langsung memfokuskan pandangannya pada Alcena , tatapan kosong dan tajam namun tidak sedikit pria yang pria yang tergelitik melihat sosok Alcena yang menuruni tangga dan duduk terpisah dengan keluarganya saat itu .

"Cleo , Cloe . Sit "

Perintah Alcena , pada dia serigalanya itu.

"Alcena , apa kau membutuhkan sesuatu ? " Tanya lucia yang menghampiri dan berbisik kecil pada Alcena

Lucia adalah teman dekat kakaknya , Lucia setia datang untuk menemani Alcena untuk berbelanja , curhat , bermain bahkan datang memperingati kematian kakaknya , kadang Lucia menjenguk Alcena disela kesibukan kerjanya , hingga membuat Alcena sedikit terhibur sejak kakaknya pergi.

"Tidak" jawabnya ketus , namun Lucia tetap mengerti keadaan Alcena yang baru saja kehilanggan sosok yang berharga untuknya

Alcena mulai bosan berdiri dan menyusuri dapur hingga menangkap pembicaraan bibinya

" malam ini" kata - kata itu hanya di abaikan Alcena yang langsung menuju kamar mandi .

Acara yang berlangsungpun telah selesai , Alcena kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian dan bersiap keluar .

"Cleo , Cloe . Kenapa kalian tidak bisa diam sih"

Entah kenapa kali ini serigalanya sangat gelisah

"Kalian tunggu aku didisini okay, aku akan kembali "

Alcena mulai mengendarai mobilnya

"Bulannya terang sekali , tapi mobil itu .. " katanya sambil memperhatika kaca clip on yang berada dalam mobilnya.  "Sudahlah"

Alcena mulai memainkan lagunya namun tanpa sadar mobilnya kehabisan bensin dijalan yang hanya bersebelahan dengan hutan.

"Ah sial"

Alcena turun dari mobilnya tanpa disadari sosok pria yang wajahnya tertutup dengan masker menusuk perutnya .

"Apa aku harus menunggu sampai kamu mati dulu?"

Pria itu mulai mencabut pisau kecil itu dan mulai memainkan kembali pisaunya .

"Lari"

entah kata - kata itulah yang muncul dalam pikiran Alcena , dengan sedikit tertatih Alcena mulai berlari kecil ke arah hutan sambil memegang perutnya yang kesakitan tanpa menyadari darah yang menetes

Dengan santainya pria itu berjalan mengikuti Alcena

"Alcena , seharusnya saat itu kamu mati bersama kakakmu . Aku harus membuang waktuku lagi untuk membereskanmu"

"Kakak"

katanya dengan suara kecil sambil meneteskan air mata .  Hingga Alcena yang sedang berlari kecil terpeleset kedasar hutan , walau tidak cukup jauh namun berhasil membuat Alcena kesakitan

"Apa masih hidup?" Kata pria itu

Gerakan kecil wanita itu membuat Pria itu penasaran , saat hendak menuruni hutan

"Grmmm"

geraman serigala yang sedang makan malam sedang digangu , sontak pria itu langsung melarikan diri.

"Kurasa aku akan menyusul kalian"

Deraian air mata dikeluarkan Alcena yang tangan kirinya memegang perutnya dan tangan kanannya mencoba meraih kalung pemberian kakaknya itu langsung terhenti karena pandangan yang mulai kabur.

PASSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang