1 (pengusiran)

135 11 1
                                        

╔═══════✰ೋ ✰════════╗ 
 ✥wellcome and Happy Reading✥   
╚═══════✰ೋ ✰════════╝


...

"Apa aku harus melakukan semua ini lagi?!" Ucap pria itu dengan lantang ke salah satu asisten ayahnya.

"Iya tuan. Ini permintaan ayahmu sendiri." Jawab asisten itu dengan takut.

"Bilang ke ayahku bahwa aku tak mau!" Bentaknya lagi menolak paksaan asisten ayahnya itu sedari tadi.

   Sudah cukup kesal laki laki itu membantu dan selalu menuruti perintah ayahnya.

   Apalagi kalau bukan bisnis ayahnya?

   Ayahnya selalu memaksa laki laki itu untuk membantu nya dalam bisnisnya yang sangat besar.

"Tuan tapi jika kamu menolaknya lagi, saya akan di marahi oleh ayah tuan," Ucap asisten itu lagi dengan sedikit rasa takut.

   Lalu laki laki itu pun berdiri di hadapan asisten tersebut.

   Badannya yang tinggi, cukup membuat asisten itu hanyut dalam rasa takut.

"Apa itu urusan ku? Yang ku urus sekarang adalah agar kau pergi dari sini!" Usir laki laki itu lagi tak jera.

"B-baik."

   Keadaan di kamar yang besar tadi pun kembali sunyi seperti biasa.

DUBRAK!!

"Reza kenapa kamu belum berangkat!!" Datang seorang wanita tua yang mendobrak pintu kamar laki-laki itu dengan kesal dan juga diiringi beberapa karyawannya.

   Laki-laki itu sudah tertera jelas bernama Reza. Reza hanya menghela nafas dan duduk di sofa empuknya.

"Aku lelah bu! Aku ingin istirahat! Aku masih umur 17 tahun! Seharusnya aku masih bersekolah di SMA! Bukannya malah sibuk membantu keperluan bisnis kalian!" Marah Reza ke sang ibunya beserta aduannya.

   Ibu dari laki-laki itu hanya bisa menghembuskan nafas berat.

"Oke besok ibu akan memasukkan kamu ke sekolah terfavorit di sini." Ucap wanita itu lagi dengan tegas lalu pergi meninggalkan anaknya.

"Oh baik lah aku akan jadi anak sekolah lagi." Gumam Reza setelah mendengar ucapan ibunya itu.

   Reza semenjak lulus SMP memang tidak melanjutkan sekolahnya.

   Yah itu semua adalah suruhan ayahnya. Karna Reza sudah pintar dan terpenuhi semuanya. Tinggal Reza saja yang tinggal memilih apa yang ia inginkan.

   Tapi Reza tidak berpihak kepada ide ayahnya. Akhirnya Reza pun dipaksa untuk menjadi bagian dari bisnis ayahnya saja.

   Tok tok tok

   Pintu kamar berwarna coklat nan besar milik Reza diketuk oleh salah satu dari puluhan pembantunya

"Jangan masuk."

   Krekk

"Sudah kubilang kan jangan masuk." Ucap Reza lagi. Ia memang tidak akrab dengan pembantu di rumahnya. Tidak satu pun!

"Tuan dibawah ibu tuan sedang memarahi pacar tuan."

"Apa?! Perempuan itu datang lagi? Dia bukan pacar saya dan berenti memanggilnya pacar saya." Ucap Reza tegas dengan tak menyangka juga nada kesalnya.

"I-iya m-maaf."

   Reza pun berjalan keluar dari kamarnya. Dari atas terlihat begitu jelas keadaan di bawah sana.
Tepatnya keadaan di rumah Reza sekarang.

   Ibu nya sedang membentak seorang perempuan yang sudah tak asing bagi orng orang yang ada di rumah Reza.

"Kamu ngapain kesini lagi ha?! Kurang puas apa kamu saya usir dengan cara yang kejam??" Ancam wanita tua itu ke perempuan tadi.

"S-saya c-cuma m-ma-mau liat Reza tan-"

"Jangan panggil saya tante!"

   Perempuan itu terdiam.

"Ada apa lagi ini." Sontak wanita tua dan perempuan tadi membalikkan badan dan menemukan reza dengan perasaan terkejut.

"R-rez-reza." Ucap perempuan itu terbata bata.

   Reza pun mengarahkan pandangannya ke perempuan tadi dengan tatapan tidak suka.

"Udah gua bilang kan jangan dateng kesini lagi?" Ucap Reza dingin dan menyeramkan.

   Perempuan itu hanya beku ditempat dan menatap Reza lekat.
Ya memang tujuannya kesini hanya untuk melihat Reza. Tak lebih.

   Ibu Reza pun yang sudah emosi duluan memilih pergi dari hadapan perempuan itu saja.

   Sudah biasa perempuan itu akan diusir oleh satpam yang sangat besar dan kekar nantinya setiap ia datang ke rumah Reza.

"Udah kan liat guanya? Sekarang pergi sebelum satpamnya gotong lu keluar." Usir Reza tak ambil pusing.

"Tapi nanti kalo aku kangen lagi gimana?" Kata perempuan itu sambil memberikan muka melasnya.

"Bukan urusan gua. Dan gua mohon buat lu untuk jangan datang ke rumah gua lagi! Apa gua perlu nyewa 3 satpam buat ngusir lu doang?" Ujar Reza dengan kesal.

   Perempuan itu hanya biasa saja. Sudah sering ia dapat ancaman dari orang orang di rumah Reza, jadi sudah cukup kebal dirinya melawan kalimat kalimat yang menusuk dan menohok baginya.

   Reza pun yang tak tahan berhadapan dengan perempuan itu pun membalik badan berniat kembali ke kamarnya.

   Belum sempat ia melangkah.

"Jangan." Ucap perempuan itu sambil menangkap tangan Reza mencegah Reza pergi.

   Reza pun segera menepis tangan perempuan itu.

"Lu maunya apa sih?! SATPAM!" Ucap Reza dan berteriak memanggil satpamnya. Sudah lelah sekali ia berbicara dengan perempuan ini.

   Perempuan tadi pun diangkat oleh 2 satpam Reza yng bertubuh besar dan kekar. Walaupun perempuan tadi sudah memberontak, percuma saja ia tidak bisa lepas.

"Gua pengen lu jadi milik gu-"

   Dukk

   Suara pintu yang keras tertutup dengan kasar hingga ucapan perempuan tadi terputus.

   Reza hanya melongo dan bergidik ngeri melihat kelakuan perempuan tadi.

"Bi!" panggil Reza ke salah satu pembantunya yang kebetulan lewat.

"Iya tuan Reza ada apa?" Tanya pembantu itu ke Reza.

"Tolong besok lebih dikeratkan lagi keamanan diluar. Pagar atasnya tolong diberi benda tajam sehingga tidak bisa dipanjat. Juga satpam di luar ditambahkan. Dan diluar di beri poster dengan gambar anti perempuan yng datang tadi." Jelas Reza kepada pembantunya. Lalu pergi berlalu kekamarnya.

   Pembantunya hanya mengangguk dan pergi ke kamar ibu Reza untuk melaporkan kejadian tadi.


┏━━━━ • ✿ • ━━━━┓
          Continued         
┗━━━━ • ✿ • ━━━━┛

REZA Donde viven las historias. Descúbrelo ahora