5. Rencana semesta

51 5 0
                                    

Ku pesan 2 aneka coklat, pastinya aku memilih untuk dalam keadaan panas. Deya, ia bercerita kesehariannya di New York, sudah hampir 2 tahun ia stay dan tidak pulang ke Indonesia, ia sepantaran denganku dan pastinya ia melanjutkan study kuliahnya disini. .

"udah sering ya bolak balik New York?" tanyanya saat selesai deya berbincang
"kalo gue pengen ya gue kesini, kalau banyak jam kuliah juga ya kalau gue mau ya gue lebih milih New York sih" jawabku sembari tertawa
"ada yang spesial ya qil disini?" tibatiba terlintas pertanyaan itu dari deya
"oh, engga ko dey cuma gue emang suka kota ini dari dulu" aku baru mengenalnya, belum waktunya aku mengenalkan ska pada deya
"boleh berkunjung ke apartmu?"
"dengan senang hati" jawabku

Tak lama, aku mengajak deya untuk berkunjung sebentar sembari meminjamkan salah satu barang yang ingin dia beli di Indonesia namun tak sempat. Tak sempat aku bereskan, laptop serta buku yang setia menemaniku untuk menulis keresahan tiap malamnya.

"eh sorry banget, gue tadi buru buru keluar soalnya suka banget kalo New York di cuaca tropis gini" kataku sembari membereskan
"lo kenal?" deya menunjukan foto ska padaku, mungkin itu terjatuh saat aku membereskan
"iya"
"dia tetangga aku sekitar 5 bulan yang lalu" ucap deya dan cukup buat ku terkaget akhirnya aku dapat kabar tentangmu
"hah lo serius? terus sekarang dimana? kasih tau gue dong dimana rumah lo?" aku yang langsung panik
"aqila pelan pelan nanyanya, benua udah lama pindah" Benua Aqsa, aku rindu nama itu semesta.

Mendengar kata deya aku lagi dan lagi menarik nafas dan terdiam

"aku bantu kamu cari benua ya?" kata deya sembari menepuk punggungku
"gue gabakal bisa ketemu ska, dey" pasrahku
"kamu gasalah qil, pasti waktu bakal kasih waktu sekali lagi buat kamu" ucap deya memberiku sedikit tangguh
"benua orang baik, kamu juga baik. Aku yakin pasti ini jalan Tuhan buat nyatuin kamu lagi" lanjutnya
"makasih ya dey, tunggu sini gue buatin sup" aku yang langsung menuju dapur

Apa ska begitu mudah mengenal perempuan baru dalam hidupnya? Mengapa deya mengetahui sangat baik bagaimana ska? Untuk apa kamu kirim deya buat nyari kamu ska?

🌯

"bisa tidur qil?" tanya ska membuka perlahan kamar tamu yang aku tempati saat ini
"sini ska, belum mau tidur"
"bentar ya cal, nanti aku telfon lagi" lanjutku, aku sedang menelfon ical dan pastinya harus aku matikan
"kenapa dimatiin? gue ganggu kan" kata ska mengambil tempat disebelah jendela menghadap langit
"ah kaku lo, oiya lo belum ngantuk?"
"qil"
"iya?"
"first crush lo haikal kan?"
"iyaa ska, gue seneng banget"
"senengnya?"
"gue punya cowo bad yang kayak di tokoh wattpad atau difilm yang cowonya tengil gitu kan lucu parah" jelasku dan ska hanya tersenyum
"kapan lo mau balap gue?" lanjutku
"balap apa? punya pacar juga?"
"udah ah gue ngantuk" ska langsung berdiri dan menuju pintu untuk keluar
"malam ska" teriakku

Pastinya setiap pagi pun aku selalu dengan ska, namun aku melihat kedatangan ical dirumah ska. Bunda ska pun heran melihat aku bukan dengan ska, memang seharusnya sudah terbiasa karena ical bagian dari aku dan ska sekarang, pikirku.

Lama sekali aku tak berbincang dengan adin, aku pun menceritakan secara detail. Namun adin tak mendukungku dengan ical rupanya

"yakin qil?"
"yakin apasi din?" tanyaku saat makan di kantin
"haikal" adin mengambil somay dari piringku
"kayaknya lo harus gue kenalin sama ical ya din" ucapku sembari menantang dan adin hanya tertawa
"itu ska, qil" tunjuk adin
"terus kenapa?"
"baik baik kan?" adin membuat pertanyaan banyak sekali hari ini
"adinn hellooo stop dong lo kenal gue kan?" aku langsung menarik adin kekelas, bawel

Jam pulang, itu yang insan tunggu agar bertemu dengan kekasih yang bisa aku anggap LDR, ah lebay aqila.

Aku mengizinkan adin pulang lebih dulu dan seperti biasa aku menunggu ical di gerbang sekolah. Tak kira berapa kali aku mengecek jam ditanganku, sudah hampir 2 jam aku menunggu ical sampai senja datang dan pak satpam menutup gerbang, sayangnya sore ini tak semudah aku bisa untuk pulang.

Hujan yang lebat menghambat aku kembali kerumah, ical tidak menghubungiku mengapa tak menjemputku, pikiranku terlintas oleh ska. Kemana?

"bagus deh lo neduh" aku menoleh, aku yang meneduh di halte bus dekat sekolah
"ska" ucapku
"pake ini" ska melepas hoodie abu nya dan ska menuntunku masuk mobilnya, aku menatap ska
"kenapa? baru sadar gue ganteng?" masih sama, ketika aku memujinya atau memandangnya ska akan menantang lebih dirinya
"dih gak banget"

"haikal gadateng kenapa?" tanya ska, dan aku melukis embun di jendela kaca mobil
"qil" sapanya lagi
"eh iya ska, kenapa?"
"haikal" kataku
"gatau ska" aku mengecek kembali ponselku, nihil
"ngopi yuk?" dan aku mengiyakan

"coklat panas ya mas, sama caramel latte" ska melirikku saat memilih caramel, ska selalu lupa apa minuman kesukaanku dan pastinya aku akan meminta ganti jika salah
"tunggu ya mas, mba"

Aku diam, memegang penuh hoodie ska, caffe ini membuatku berpikir kerasa tentang ical. Sedang apa? Apa kamu lupa sama aku? Seketika pikiran itu terlintas. Ska yang sibuk memainkan jarinya sembari menunggu coklat panasnya.

"ical kemana ya ska?" aku akhirnya membuka mulutku untuk bicara
"gue gatau dong qil, yang gue tau sekarang sahabat gue lagi galau" ska dengan tertawa
"ih lo mah nyebelin"

"kali ini gue gak salah pesen kan?" tan

🌯

"gimana dey, enak ga?" aku yang duduk rapi melihat deya menyantap sup buatanku, dan deya membalas dengan ibu jarinya pastinya dengan lesungnya
"oiya qil, kamu sama benua sama sama suka?" deya menanyakan hal yang sampai sekarang aku belum bisa menerima
"gue dulu bodoh banget dey, gue cuma anggep ska temen baik gue"
"kamu gasalah kok" deya menenangkan
"gue salah banget, sekarang gue tau ska ninggalin gue mungkin karena udah lama rasa yang harus dia kubur"

"benua itu orangnya susah diajak buat akrab qil, waktu dia jadi tetangga aku, aku coba buat punya teman satu komplek biar aku asik ngobrol gitu, gak gampang sih walaupun aku yang banyak nanya sama benua tapi dia gamau biarin aku asik sendiri juga. Setelah setahun dia sering ajak aku buat minum coklat panas" coklat panas, aku kira hanya aku yang tau hal itu ska, dalam hati

"tapi maaf aku gabisa inget lagi" dan semua cerita bergantung
"gapapa dey" aku menjawab dengan senyum pastinya
"aku ada urusan qil, besok pagi bisa anterin aku?"
"anytime" tak lama deya pamit dan kenangan bersamaku sekarang

Ska, entah berapa maaf yang harus gue sampaikan lagi dan lagi. Tolong jawab pesan gue, satu kata aja lo dimana?

Lagi dan lagi aku mengirim gmail padamu ska, mungkin gmail itu menumpuk dan tak tau kapan kamu akan membuka itu dan mengetahui kalau aku ingin bertemu sekali saja.
Semakin sore, tropis pun berganti menjadi langit jingga kesukaanmu. Salam dari New York, senja. Sampaikan maafku padanya yang aku tak tau dimana keberadaannya, katakan padanya aku sangat membutuhkannya saat ini. Entah sampai kapan hidupku yang kelabu ini tak kunjung berwarna.

sekiranya, hampir.  [completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang