#INTROVERT1

98 15 9
                                        

    Renata Devidryana. Gadis remaja dengan rambut sehabu yang berwarn sedikit kecoklatan, lesung pipi kiri, serta bibir tipis yang dimilikinya. Renata bukan tergolong murid famous di SMA pelita, karena Sekolah ini merupakan salah satu sekolah terkenal yang didalamnya berisikan murid tajir serta kece. Renata lebih menyukai kesendirian, keheningan dan kesunyian. Karena menurutnya dengan hal itu dirinya bebas mengekspresikan hari-harinya.
                              ☺☺☺

   Pagi ini memang cerah, matahari tanpa malu malu lagi menyapa berjuta umat di dunia. Kesejukan pagi ini tidak ada artinya bagi  Renata, karena dengan sialnya ia harus datang terlambat kesekolah dan satu lagi jangan di lupakan, pelajaran pertama adalah Bu Endang yang merupakan guru Fisika sekaligus salah satu guru ter- killer di sekolah ini. Sebenarnya Pr fisika hanya 5 soal saja, namun yang sangat disesali Renata mengapa anak cucunya harus ikut juga? Renata tidak lemah dalam pelajaran fisika, akan tetapi hanya keberuntungan lah Renata bisa mengerjakan pekerjaan tersebut dengan baik. Artinya jika ada mood mengutak-atik rumus, maka Renata tidak akan segan mengisinya sampai cicit sekalipun. 
       
"Lo anak baru?" tanya seorang cowok yang entah Renata tahu siapa namanya. Cowok tersebut sedari tadi terus saja mengoceh menanyai namanya, kelas berapa, bahkan kalimat yang baru di tanyakan pun sudah ke-5 kalinya ia lontarkan.

"Bukan."

Cowok tersebut mengangguk dan paham bahwa perempuan disampingnya bukan murid baru, namun keberadaannya baru terlihat oleh dirinya. Entah mungkin karena ia sering membolos atau karna cewek tersebut jarang bergaul? menurutnya opsi pertama lebih baik.

"Okey sepertinya gak ada jalan lain supaya bisa masuk sekolah, selain manjat pagar belakang." Sial! Sudah telat, pr fisika juga lupa di kerjain lagi, dan sekarang gak ada pilihan lain selain manjat pagar yang biasanya di pake jalan pintas buat murid- murid yang suka membolos. Renata menggeleng.

"Beneran gak ada jalan lain? Gue takut ketahuan guru piket."

"Ck. Lo kalo mau lewat gerbang depan sih gak masalah, tapi resikonya Lo harus tanggung sendiri dan gue ogah banget kalo berurusan sama mang Oji," jelas cowok tersebut. Fyi mang Oji adalah satpam penjaga gerbang di SMA Pelita, mulut embernya sungguh tidak di sukai murid - murid, jika ketahuan saja ada anak telat bahkan mang Oji tidak segan untuk langsung melaporkannya ke guru piket.

"Gue ikut Lo." Dengan niat yakin Renata mengikuti langkah cowok di depannya, sekarang dia merasa pasrah saja. Toh jika masuk kelas  pun Pr nya belum selesai dan resikonya sudah menunggu di depan mata.

"Lo bisa manjat kan?" tanya cowok tersebut setelah sampai di depan pagar.

"Gu--gue pake androk" pagar nya tidak tinggi, tapi kan Renata pake androk dan otomatis akan kelihatan jika harus manjat seperti itu.

"Saat loe manjat gue balikin badan, jangan lupa lempar tas nya dulu supaya gak ribet." Renata mengangguk mendengarnya.

Sumpah demi Tuhan Renata gak akan pernah melakukan hal seperti ini lagi. Manjat memanjat bukan Renata jagonya, apalagi di saat genting gini. Huh Renata menarik napas panjang saat dirinya sudah berada di balik pagar tersebut, tas yang dia lempar pun sudah dipakai kembali di kedua bahunya. Melihat cowok yang masih membalikkan badannya Renata memanggil.

"Hey, gue udah ada di dalam nih."

Cowok tersebut berbalik menghadap Renata yang sudah didalam area sekolah,
"Tunggu gue manjat dulu, baru nanti ke kelas bareng - bareng." Sebenarnya ia gak tahu kalo cewe itu kelas berapa, toh baru liat. Mungkin karena kasihan aja dirinya berbuat baik kayak gini, biasanya juga hari- hari sekolah ia membolos.

"Lo kelas berapa?" tanya cowok tersebut. Setelah mereka berhasil melewati pagar, sekarang adalah saatnya mereka main petak umpat dengan guru piket yang sedang jaga di lorong kelas.

"XII IPA 2," jawab Renata.

"Kalo gue XII IPS 3, kok gue asing liat muka Lo yah?"

Sudah menjadi pertanyaan lumrah bagi orang yang baru mengenal Renata, mereka selalu berkata sama hal nya dengan cowok ini tanyakan, kok jarang liat? asing banget wajah Lo? Dan Renata hanya bisa tersenyum menanggapi.

"Malah senyum lagi, tambah manis aja. Itu ada pak Ramdhoni lagi piket."

Benar saat Renata melihat arah tunjuk cowok disampingnya, ternyata ada pak Ramdhoni yang sedang keliling tidak lupa ditangannya ada pentongan yang selalu dibawa ketika keliling mencari anak - anak yang ketahuan telat dan bolos.

"Njing tot ngapain Lo di situ berduaan lagi sama cewek?" tiba-tiba saja Tio lewat, Tio adalah salah satu murid di SMA pelita yang terkadang suka buat onar, nah dari situ Renata mengenal Tio, karna Tio sering sekali bulak-balik kantor Bp yang letaknya tidak jauh dari kelas Renata.

" Ekh sialan Lo, coba tuh liat pak Ramdhoni masih jaga gak?" Renata hanya mendengar. Jika dikaitkan ternyata mereka berdua berteman.

Tio pun melihat arahan cowok yang ia tadi panggil. Memang benar, di lorong tersebut masih ada pak Ramdhoni dengan pentongan ditangannya. Sepintas ide muncul. Tio berbisik pada cowok tersebut atas ide brilliant yang ia dapatkan.

Cowok tersebut tersenyum dan  memberikan acungan jari jempol saat Tio akan menjalankan aksinya, "Dia gak bakal lakuin hal yang aneh kan?" tanya Renata. Merasa hanya diam sedari tadi, membuat dirinya kepo akan hal yang akan dikukan Tio.

Cowok tersebut menoleh kesampingnya, " gak kok, justru dia bantuin kita terlepas dari pak Ramdhoni."

Rena mengangguk mengerti, semoga memang yang dikatakan cowok ini benar supaya ia bisa cepat-cepat ke kelas.

"Pak piket mulu, gak bosen apah pak?" Tio sudah ada di hadapan pak Ramdhoni, sejujurnya ia takut. Tapi apa boleh buat temannya itu lebih penting dari segala- galanya, eakk.

"Kamu Tio! bukannya masuk kelas malah kelayaban, siapa guru mapel kamu?"

"Bu Sri pak, kebetulan Bu Sri gak masuk jadi di kelas juga free," Jawab Tio jujur. Toh memang benar Bu Sri sekarang gak masuk. Itu kata si Roni ketua kelasnya yang memberi info tadi.

"Gak di kasih tugas? Terus kamu dari mana?"

"Gak ada pak.... Saya juga dari WC pak, biasa setor heheh" cengiran Tio membuat Pak Ramdhoni geleng kepala.

"Bapak keliling lagi, siapa tau nemu anak yang bolos. Kamu masuk kelas sana!" Setelah mengucapkan kalimat itu Tio menatap punggung guru tersebut mulai menjauh. Dan Tio pun memberi kode pada cowok yang masih bersembunyi agar cepat keluar dari persembunyiannya.

"Pak Ramdhoninya udah pergi."

Renata menengok dan benar saja sudah tidak ada guru di tempat tadi, hanya terlihat seorang lelaki tersenyum puas kearah mereka berdua.

"Gue sampai disini aja, selebihnya atas bantuan Lo sama temen Lo itu gue ucapin terima kasih" Renata melihat jam dipergelangan tangannya, Shit. Bisa di bolosin kalo gini.

"Ekh tapi kita belum ke----nalan" ucap  Fadil setengah memelan. Terima kasih sih terima kasih, tapi kan gue belum kenalan, Sial.

"Kantin yok, kebetulan pelajaran pertama free" ajak Tio seraya menggandeng bahu Fadil, mereka berjalan beriringan menuju kantin yang sudah pasti Tio minta traktir atas jasanya tadi.

"Kayak biasa aja."

"Sep."

Terselip name tag di jari Fadil yang tidak sengaja ia temukan di lantai tadi. Pikirnya mungkin itu milik perempuan yang bersamanya barusan, Renata Devidryana.

TBC..
Say hello sampai jumpa di bab selanjutnya:)

INTROVERTCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang