0 - Prolog || SURAT RINDU UNTUK SAHABAT

6 3 1
                                        

Hai Kamu!
Sudah lama kita tak berjumpa. Sepertinya tak perlu kutanya lagi bagaimana kabarmu di pembukaan suratku ini. Sebab aku yakin, kau pasti selalu baik-baik saja kapanpun dan dimanapun itu. Itu semua karena do'a orang-orang yang menyanyangimu selalu.. Dan pula aku yang mendoakanmu dari sini seperti halnya mereka.

Aku tak pernah menghitung berapa lama kita tak berjumpa dan bersenda gurau bersama. Namun yang jelas aku masih begitu jelas mengingatmu. Iya, Aku sangat begitu mengingatmu, sahabat terbaikku. Aku selalu harap aku selalu mengingatmu hingga kapanpun. Sebab kau adalah orang yang pantas untuk diingat dan dikenang sebagai orang yang baik.

Ah tentu saja. Bagiku kau adalah orang yang paling mengerti dan peka meskipun aku tak pernah mengucapkan sepatah katapun padamu untuk memahami apa maksud dan keinginanku. Sungguh, menemukan orang sepertimu diantara jutaan manusia bagiku itu adalah sebuah hadiah terindah.

Aku tahu aku terlalu berlebihan dalam melukiskan kebahagianku karena telah mengenalmu. Tetapi harus bagaimana lagi? Kenyataannya engkau memanglah seperti itu. Begini saja, bagaimana kalau kita hitung berapa banyak kita bertengkar?

Sebentar...

Bukankankah hanya sekali?
Iya sekali. Dan itupun singkat. Hahaha.. kalaau diingat-ingat lagi rasanya itu lucu sekali.

Kita bertengkar atas sesuatu yang tak pernah kita duga. Waktu itu aku marah sekali. Rasanya begitu kesal, aku marah hingga ubun-ubunku panas dan wajahku memerah karena tak suka. Saat tak ada seseorangpun disekitar kita aku memukul punggungmu dengan begitu keras. Aku hanya bisa marah dengan tertunduk tanpa kata. Kaupun hanya diam dan pasrah menerima pukulan dariku. Hening. Sebuah pertengkaran hening di bulan Ramadan. Bulan dimana kita seharusnya menahan amarah dan bersabar. Tetapi sungguh, memendam emosi sama sekali bukan keahlianku.

Hanya tiga hari. Sebab aku selalu ingat pesan bahwa kita tidak boleh bertengkar dengan saudara kita selama lebih dari 3 hari. Maka sepulang kita bertengkar waktu itu aku hanya mengurung diri meredam emosi dan belajar memaafkan. Rasanya berat. Tapi bukan ikhlas namanya jikalau tidak berat dilakukan bukan? Kucari-cari cara untuk menghibur hatiku yang kecewa. Berpuluh-puluh kali aku katakan pada diriku sendiri alasan-alasan tentang mengapa aku harus memaafkanmu secepat mungkin. Alasan bahwa itu bukan kesalahanmu, alasan bahwa kau tidak sengaja, dan alasan bahwa kau tidak tahu menahu sebelumnya, dan berbagai alasan lain agar hatiku ikhlas memaafkanmu.

Lalu akhirnya kita bertemu di sebuah acara buka bersama tepat di hari ketiga setelah pertengkaran yang bungkam.

Itu batas waktu pertengkaran kita. Jika hari itu kita tak saling berbaikan maka rusak sudah persabatan kita. Apalagi disaat bulan suci seperti itu. Aku tak mau menambah dosaku dan merontokkan pahalaku karena tak berbaikan denganmu. Maka kuberanikan diri untuk maju didepanmu. Kusenggol lenganmu pelan dan mengulurkan tanganku didepanmu bermaksud meminta maaf. Masih tanpa kata dan hening, nyatanya kau langsung paham apa maksudku. Kaupun mengulurkan tanganmu dan menjabat tanganku. 3 detik yang singkat. Namun sebuah jabat tangan selama 3 detik itulah yang mengupakan segala emosi, pertengkaran, dan frustasi selama 3 hari. Aku lega.

Seindah itu persahabatan kita. Aku belajar banyak hal saat bersamamu. Kata-kata itu benar, bahwa bukan seberapa banyak kita meminta maaf dan memaafkan orang lain, melainkan seberapa tuluskah engkau melakukannya. Dan kita telah membuktikannya saat itu.

3 detik. Saat kita tulus meminta maaf dan memaafkan maka kesalahan paling burukpun dapat kita kenang dengan indah untuk dikemudian hari.

Terimakasih.

Untukmu, Sahabat yang paling memahami dalam diam.

2018 || 1 Tahun setelah kelulusan SMA

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 07, 2018 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Menghunus EmbunWhere stories live. Discover now