KOPI

117 2 0
                                        

Bagaimana cara mengubah secangkir kopi menjadi sebuah karya? Dari dulu aku hanya ingin menjadi penulis. Melihat orang lain menulis dengan begitu mudahnya kadang membuatku heran, bagaimana cara mendapatkan ide dengan begitu cepatnya?

Kubuka sosial media para penulis yang aku tahu, dan kebanyakan isi sosial media mereka adalah, Kopi. Apa kopi adalah minuman yang begitu hebatnya sehingga bisa membuat banyak penulis di luar sana yang bisa mendapatkan ide untuk tulisan mereka dari secangkir kopi?

Saat menulis tulisan ini, aku tersadar sesuatu, aku bahkan mendapat ide menulis ini dari sesuatu yang bernama Kopi. Sambil menahan tawa karena saat ini aku sedang berada di sebuah café yang berlokasi di sebuah gedung yang dibuat untuk para insan kreatif oleh pemerintah di Kota Bandung, tentunya aku tidak ingin terlihat gila karena tertawa sendiri, maka aku hanya tersenyum kecil sambal melanjutkan tulisan yang saat ini tengah kubuat.

Aku belum tahu tulisan ini akan kubawa kemana, menjadi sebuah tulisan apa pun aku belum tahu. Karena apa? Karena aku baru duduk sekitar 10 menit disini, membuka laptopku, sambil mencoba menikmati secangkir kopi pahit yang padahal sudah kuminta diberikan tambahan gula. Jadi, anggap saja ini salam pembuka dariku yang masih mencoba mencari tahu, sehebat apa kopi pahit yang sudah kubeli dengan harga Rp. 28.000 ini.

Sambil menunggu ide datang, kucoba buka sejarah dari minuman bernama kopi ini. Syukurlah, café ini dilengkapi fasilitas wifi yang bisa membantuku mengusir bosan. Membuka sejarah kopi di internet, dan ternyata sejarahnya panjang. Apakah karena sejarah yang panjang itu maka kopi bisa memberikan inspirasi bagi setiap orang yang meminumnya? Sepertinya tidak. Karena, apa pengaruhnya sejarah kopi dengan inspirasi yang datang di pikiran orang yang meminumnya? Oke, sekarang aku akan mencari tahu pengaruh kopi dengan inspirasi.

Hasil penelurusanku bermuara di sebuah artikel, begini kurang lebih isi artikelnya,

" Kopi mengandung antioksidan yang dapat menangkal kerusakan pada sel-sel otak. Selain itu antioksidan juga membantu sel saraf untuk bekerja lebih optimal dan kerja otak lebih baik. Minum kopi dapat meningkatkan memori otak manusia dalam jangka pendek. Kafein yang terdapat dalam kopi diserap oleh darah dan diteruskan ke otak. Kafein bereaksi secara kimia sehingga merangsang memori untuk menangkap informasi dalam jangka pendek. Kinerja organ tubuh, sistem saraf dan fungsi otak akan optimal sehingga membantu tumbuhnya inspirasi atau gagasan baru. "

By. Matra Pendidikan

Baiklah, secara teori ternyata kopi memang bisa meningkatkan kinerja otak yang memungkinkan otak mendapat inspirasi baru. Tapi bagaimana denganku? Haruskah ku minum kopiku hingga habis agar aku bisa mendapatkan inspirasi untuk tulisanku?

Sial, kopi ini pahit sekali. Apa pelayannya lupa memberikan gula pada kopiku? Rasanya kopi yang biasa kubeli di minimarket tidak sepahit ini, padahal kopi yang ku pesan seharusnya memiliki rasa yang sama dengan kopi kemasan yang biasa ku beli, Cappucinno.

Sambil menyesap kopiku sedikit demi sedikit, mataku memutar melihat keseluruhan isi kafe kopi ini. Wah, sedikit hal yang baru aku sadari dari café ini. Ternyata café ini memiliki suasana yang menyenangkan. Kursi-kursi yang dibuat tidak memonopoli, orang-orang yang datang yang pastinya bukan datang hanya untuk sekedar nongkrong – ya, karena rata-rata mereka membawa laptop - , dan aku bahkan tidak melihat orang yang berpacaran disini. Menyenangkan. Itu yang aku tangkap dari café ini.

Kamu sedang berpikir kalau aku sedang mempromosikan café ini kan? Tidak. Aku tidak dibayar untuk menjelaskan café ini, bahkan aku yang membayar, ingat? Aku membayar dengan secangkir kopi pahit seharga Rp. 28.000. tapi kurasa tidak ada salahnya juga kalau aku sedikit mempromosikan tempat ini. Toh ini fasilitas pemerintah yang dibuat untuk orang banyak, siapa tahu kamu tertarik datang dan mencoba kopi disini.

Berbicara mengenai kopi di café ini, ternyata barista di café ini pernah mendapat Juara 3 Latte Art dari sebuah kompetisi barista entah dimana. Darimana aku tahu? Karena aku bisa melihat sertifikatnya yang disimpan di sebuah pajangan tidak jauh dari tempat aku duduk. Dan kebetulan, tempat duduk yang kupilih ini tepat menghadap meja barista, jadi aku bisa melihat para barista meracik kopi mulai dari masih berbentuk biji kopi hingga menjadi secangkir kopi yang bisa dinikmati oleh pembelinya.

Rupanya melihat barista meracik kopi itu menyenangkan ya. Wangi kopi yang tercium saat biji kopi itu diolah sepertinya akan menjadi wangi yang aku sukai. Bukan karena tampang si barista yang lumayan enak dilihat kok, walau sepintas mirip Vidi Aldiano, tapi karena aku lihat dia meracik dengan hati. Haha, seperti aku tahu saja yang bagaimana meracik dengan hati itu. Tapi jujur, ketika si barista meracik kopinya, matanya yang fokus, tangannya yang cekatan, dan wangi kopi yang semerbak membuatku yakin, ia meracik kopi dengan hatinya.

Wah,tanpa sadar ternyata aku terlalu lama memperhatikan si Barista. Sepertinya iasadar kalau tengah diperhatikan, karena ia memberiku senyuman ketika aku tengahsalah tingkah karena ketahuan memperhatikan kegiatan yang ia lakukan. Aku malusekali!    

Kedai KopiHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora