# FARISA PoV#
Di ujung jembatan gantung merah ini aku berdiri.
Sendiri tentunya.
Di usiaku yang menginjak 16 tahun ini, mustahil rasanya memiliki seorang pasangan.
Ya, lagian siapa yang peduli?
Hidup sendiri juga lebih baik kok.
Kebanyakan temanku yang sudah memiliki pasangan, hidupnya mungkin terlihat bahagia.
Tetapi dibalik kebahagiaan palsu itu, mereka gelisah ketika chatnya terlambat dibalas sedikit.
Dan yang utama, nafsu mereka menjadi bertambah.
Apalagi , kalau mereka putus cinta. Pasti paginya matanya sembab seperti habis disengat tawon.
Berat? Ya, pasti.
Kalau menurut opiniku, cinta itu bukan hanya bermain-main dan untuk sekedar pamer saja.
Tapi, cinta itu adalah suatu hal yang terjalin karna adanya perasaan saling nyaman dan saling sayang.
Bukan saling suka, ya!
Cinta dan Suka tentu berbeda jauh.
Suka itu adalah ketika kamu ingin memiliki seseorang.
Tapi kalau Cinta, itu saat kamu rela berkorban untuk seseorang.
Eh, bukan berarti aku JONES ya.
JOMBLO NGENES? salah besar, dong.
Aku justru bahagia hidup sendirian.
Terkadang dengan kesendirian ini aku lebih tahu akan makna hidup.
Tak ada pertengkaran, tak ada kebohongan, tak ada aturan dan tak ada keterpaksaan.
Aku bukan orang yang anti sosial yah! Namun, lebih suka sendiri saja. Dan juga menunggu untuk seseorang yang tepat bagiku..
***
"Farisa, kamu kok baru dateng sih?!" -Dinda, sahabat Farisa
"Iya,telat nih.Tadi nganterin si choky dulu, dia kan baru masuk SD, jadi minta diantar olehku"pintaku
"OSIS ada rapat tuh, buruan!"-Dinda
"Ih serius? Pagi-pagi begini? Kalo gitu aku telat,dong?!" Setelah tahu ada rapat OSIS, aku langsung berlari ke ruang OSIS dengan terburu-buru.
Sesampainya disana..
Semua mata tertuju padaku, aku sudah menduga ini akan terjadi.
"Telat lagi?!"-Kak Dinda, ketua OSIS
"Me..memangnya kapan aku pernah telat mengikuti rapat OSIS, kak? sepertinya ti.." belum selesai berbicara, kata-kataku dipotong oleh Kak Bayu, Wakil ketua OSIS :
"Kalau udah tahu salah, ya jangan ngelak! Sekarang kamu bersihkan kamar mandi sekolah terus bersihin lapangan!" Aku terkejut mendengar pernyataan tersebut.
Perasaan aku hanya telat 40 detik. Dengan pasrah, aku memutuskan untuk melaksanakan hukuman dari kak Bayu dan keluar dari ruangan tersebut.
Namun tiba-tiba..
"Ia hanya telat 40 detik. Kenapa menghukumnya keterlaluan?" Seorang lelaki? Siapa dia? Tubuhnya tinggi, tampan, dan wajahnya berwarna putih—kemerahan.
Siswa baru, mungkin?
Maaf baru dikit banget ya😭 baru pertama nulis cerita hehe, jangan lupa saran& vote:)
