Nona Aster

3 1 0
                                        

Aku berlari tergesa-gesa memasuki rumah. Kepala serta bajuku basah kuyup akibat hujan ini. Kedua tanganku memeluk erat kertas kanvas yang baru saja kubeli, melindunginya agar tidak basah.

Persediaan kertas kanvas-ku sudah habis, sehingga mau tidak mau aku harus membeli yang baru. Masalahnya, aku tidak ingat untuk mampir di toko yang menjual kertas itu sepulang dari tempat kerja tadi. Menyebalkan. Tidak hanya itu, pergi ke toko itu juga berarti aku harus bertemu dengan si penjaga kasir tua bangka itu-aku memanggilnya Pak Tua. Dia tidak pernah tersenyum kepada pelanggan yang datang. Dan ketika berbicara, suaranya sangatlah keras sehingga terdengar hingga keluar toko. Belum lagi ditambah dengan bau badannya yang seperti bau minyak urut. Menyebalkan.

Aku meletakkan kertas itu di atas meja makan di dapur. Kertas itu sedikit basah, oleh karenanya aku perlu mengeringkannya terlebih dahulu. Dengan kata lain, aku harus menunggu! Ini menyebalkan. Malam hari adalah waktuku untuk melukis. Melepas penat. Melakukan hal yang kusuka. Berada di pabrik itu sepanjang hari sungguhlah membosankan. Setiap waktu, aku menyortir makanan yang telah dibungkus plastik yang keluar dari dalam sebuah mesin besar yang terletak di ujung ruangan. Makanan-makanan itu disalurkan ke hadapanku menggunakan sebuah conveyor belt yang melintasi ruangan pengap tersebut. Mereka semua menuntut untuk diperiksa. Bungkus-bungkus itu tidak ada bedanya. Mereka semua terlihat sama. Monoton. Membosankan.

Kenapa aku bekerja di tempat itu? Aku terpaksa. Entah bagaimana caranya, aku harus bisa makan setiap harinya. Dan dari kegiatan melukis tidak cukup menghasilkan uang untukku. Oleh karenanya, bagiku melukis hanyalah sekedar hobi. Passion masa kecil bisa dibilang. Dulu aku sempat bercita-cita menjadi pelukis. Tetapi orang-orang tidak menyetujuinya, bahkan kedua orangtuaku. "Carilah pekerjaan yang benar," kata mereka.

Dan seperti inilah keadaanku sekarang. Jenuh setiap harinya. Kegiatan sehari-harinya berulang, dan berulang. Bayarannya juga tidak seberapa-hanya cukup untuk keperluan setiap harinya. Mungkin karena itulah istriku-mantan-meninggalkanku. Yah, siapa peduli?

Aku tidak pernah lagi memikirkannya. Terserah sudah jadi seperti apa dia sekarang. Karena aku sudah memiliki seorang pengganti. Aku memanggilnya Nona Aster. Dia cantik, dan juga baik hati. Dia selalu sabar mendengarkan keluh kesahku setiap harinya. Bukan, dia bukan manusia. Dia hanyalah sebuah lukisan.

Tapi, apakah kalian percaya jika kukatakan bahwa Nona Aster itu hidup?

Dia hidup, di setiap lembar kertas kanvas yang kulukis. Aku melukis di sebuah ruangan khusus yang kusediakan di kontrakanku. Dulu, aku hanya menggambar benda-benda yang secara asal tertangkap oleh pandanganku. Kursi, meja, jalan, pemandangan di taman, atau apapun itu. Tidak ada yang menarik perhatianku dari gambar-gambar itu. Lalu pada suatu hari, secara tidak sengaja, aku telah menggambar sesosok perempuan muda. Kulitnya ungu, dan entah mengapa terlihat sangat cantik di mataku. Tanganku bergerak sendiri saat menggambarnya. Aku tidak sadar!

Setiap malam, aku menggambar. Lagi, dan lagi. Dan yang kugambar selalu si Nona Aster, dengan kegiatannya yang tidak pernah sama. Dulu di waktu awal-awal aku pertama kali melihatnya, dia terlihat ceria. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Tetapi sayang, akhir-akhir ini dia selalu suram.

Dia terasa gelap. Membuatku khawatir kepadanya.

"Semoga saja dia sudah baikan malam ini!" gumamku. Aku mengambil kertas kanvasku yang sudah kukeringkan. Aku memasangnya pada sebuah easel-penjepit kertas kanvas-dan mulai melukis.


Bagaimana kabarmu hari ini? , tanyanya.

"Biasa saja," ujarku.

Ceritakan kepadaku,

"Aku sedang malas bercerita," jawabku.

Berceritalah, aku mendengarkan,

"Aku bingung, kau tahu?" ujarku.

Apa yang terjadi?

"Tidak, tidak ada apa-apa,"


Tanganku terus menggambar. Mungkin sejam sudah berlalu? Entahlah, aku tidak memperhatikan. Yang pasti, sekarang aku melihat Nona Aster berada di hadapanku, pada selembar kanvas. Ia duduk di atas sebuah kursi kayu. Kedua tangannya menutupi wajahnya. Menutupi kedua matanya yang... menangis? Di depannya terbujur sebuah tubuh di atas kasur.

(siapa itu?)

Apakah dia mati? Seluruh tubuhnya ditutupi selembar kain yang berwarna putih. Tangannya menjulur keluar, tergantung di samping kasur. Warnanya pucat, dan sepertinya dingin.


"Siapa itu?" tanyaku.

Dia sedih, jawab Nona Aster.

"Siapa?" tanyaku sekali lagi.

Dia sedih. Dia meninggalkanku. Dia membunuh dirinya sendiri,


Aku langsung beranjak dari tempat dudukku, mematikan lampu kamar itu lalu keluar. Aku mengunci pintu, dan menggenggam erat kuncinya.

Aku ingin tidur.

***

Keesokkan harinya, dari pagi hingga sore, tidak ada bedanya dengan hari-hari biasa. Yang berbeda adalah malam harinya. Aku berjalan memasuki ruangan itu lagi dengan langkah yang tidak bertenaga.

"Aku harus masuk ke dalam..." pikirku.

Aku menekan saklar lampu kamar itu yang tidak kunyalakan lagi sejak malam sebelumnya. Aku telah meninggalkan Nona Aster kemarin. Dia sedang sedih, dan aku meninggalkannya? Betapa bodohnya aku ini... Aku merasa bersalah. Dia sendiri setia menemaniku setiap malam, mendengarkan ketika aku bercerita. Sedangkan, ketika dia sedang sedih, aku justru meninggalkannya.

Aku duduk di depan lukisan yang kugambar kemarin. Gambar dimana Nona Aster duduk di hadapan orang mati. Aku meringis saat melihatnya.

"Maafkan aku," ujarku lirih sambil melepas gambar itu dan memasang kanvas baru. Tanganku memegang kuas yang ujungnya sudah aku oleskan pada cat berwarna hitam. Aku sedikit ragu.


Bagaimana kabarmu hari ini? , tanyanya.

"Tidak terlalu bagus," jawabku.

Ceritakan kepadaku,

"Tidak," ujarku. "Aku ragu..."

Berceritalah, aku mendengarkan,


Lalu aku menceritakan semuanya kepada Nona Aster. Dan, hei, kau tahu? Dia sangat setia mendengarkanku. Sementara kemarin aku meninggalkannya...

Sepertinya tidak lama aku melukis. Tidak selama kemarin-tidak sampai sejam. Mungkin hanya sekitar 15 menit. Aku menegakkan tubuhku, lalu melihat ke arah kanvas.

Di sana tertulis:

AKU LELAH.

Aku menghela nafas dan meletakkan kuas di atas meja di sebelahku. Aku masih memandang ke arah kanvas itu. Tidak ada Nona Aster di sana. Aku sudah bilang kepadamu kan? Nona Aster itu hidup.

Lalu sepasang tangan menjulur dari arah belakang. Kepalaku berada di antara kedua tangan itu. Warnanya ungu, dan sangat halus. Aku memejamkan mataku. Tangan itu kemudian mencengkeram erat leherku hingga aku tidak bisa bernafas lagi.

Aku sudah bilang kan? Nona Aster itu hidup.

Nona AsterWhere stories live. Discover now