"Mana yang namanya Gadis?"
Seorang cowok jangkung dengan rambut terikat ke belakang berdiri, bersandar di ambang pintu. Tangan yang terlipat di atas perut dengan mata menyelidik ke penjuru kelas membuat beberapa orang di sana urung menatapnya.
"Gadis udah pulang, Kak," jawab salah satu cowok di ujung kelas memberanikan diri. Sosok yang dipanggil 'kak' itu melirik sesaat ke jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya seraya berdecak.
"Besok, suruh dia menghadap saya. Jangan melindungi teman yang salah. Mengerti?"
Beberapa orang mengangguk tanpa mau bersuara. Atmosfer horor barusan hilang bersamaan dengan cowok itu yang tertelan belokan kelas. Semua orang bernapas lega, seolah barusan malaikat pencabut nyawa lewat untuk menyeleksi siapa yang mati duluan.
"Keluar lo!" seorang cowok menendang meja di samping ia berdiri. Gadis sontak memukul betis cowok tersebut dengan amat keras hingga cowok itu menjerit dan mengusap area pukulan Gadis.
"Bangsat! Biasa aja dong!" lawan Gadis sambil ke luar dari kolong meja seperti seorang bayi dengan lutut sebagai tumpuan.
Dendi --cowok yang betisnya ditendang, sontak membalas dendam, menendang pantat Gadis sampai wajah Gadis mencium lantai disusul bunyi yang amat mengerikan. Entah setan apa yang memasuki Dendi beberapa menit lalu hingga berbohong demi melindungi Gadis. Harusnya Dendi umpankan saja cewek itu, kalau tahu balasannya tidak setimpal begini.
"Woi! Biasa aja kali!" Gadis menengok ke belakang sambari mengusap dahinya yang berdenyut.
"Cih! Bukannya bilang makasih!" Dendi mendelik lalu berjalan ke luar kelas melewati Gadis tanpa melirik lagi ke arah cewek itu. Gadis tak menggubris malah mendengus dan berdiri.
"Orang gila," gerutunya seraya merapikan kaos serta kemeja yang dikenakannya.
"Besok lo mau datengin Kak Aldi?" tanya Ira, teman sekelas Gadis, tiba-tiba berdiri di samping cewek itu.
Gadis mengedikkan bahu. "Bodo amat anjir! Emang dia presiden yang harus gue turutin?!"
"Kalo gitu, lo jangan jadiin kelas kita benteng trus dong, Dis!" sergah Dendi yang ternyata belum benar-benar meninggalkan kelas. "Lo tau kan kelas kita udah mulai terancam dikucilin?"
Gadis memutar matanya malas. "Justru gue lagi ngebela hak kalian. Jangan mau disuruh-suruh hal nggak jelas sama mereka. Suruh inilah-itulah, apa esensinya?" balas Gadis menggebu-gebu. Beberapa orang di sana terdiam. Termasuk Dendi yang tidak punya alasan untuk membalas.
"Asal lo nggak terus jadiin kelas kita sebagai tempat sembunyi lo, gue gapapa," kata Dendi berusaha mempertahankan egonya sebagai laki-laki.
"Pergi aja sana ke gerakan aneh lo itu!" Gadis memelotot mendengar kalimat usiran Dendi. Enak saja kelompoknya disebut aneh! Justru lebih aneh himpunan jurusannya yang memberikan tugas yang tidak masuk akal. Beberapa kali mengadakan screanning dengan alasan tidak jelas. Apa maksudnya? Mending kelompok Gadis, menaungi mahasiswa yang apatis terhadap himpunan. Tidak perlu ada tugas macam-macam. Di sana undek-undek setiap maba dikeluarkan semua. Dihujat sepuasnya. Agar tidak menjadi beban di dalam diri.
"Heh jangan ngehina kelompok gue ya!" Gadis mendatangi Dendi dengan langkah dientakkan. "Harusnya lo ngaca! Lo cuma cowok penakut yang nggak bisa ngelawan!"
"Udah, Dis," Ira menarik bahu kanan Gadis agar mundur agar tidak serta-merta menerjang Dendi. Ira tahu, teman sekelasnya ini terlalu tempramental kalau ada seseorang yang menyinggung harga dirinya. Gadis itu nekad ketika emosi tengah meletup di kepalanya.
"Berani gue itu ditempatin di tempat yang bener!" lawan Dendi tak mau kalah, namun cukup tahu diri untuk tidak mengeraskan suara di depan cewek.
"Alesan aja lo! Giliran dimarahin ciut lo," balas Gadis tak sekeras sebelumnya. Ia masih tahu diri kalau seenek apapun muka Dendi, cowok itu adalah salah satu teman sekelasnya yang mau melindungi Gadis dari sang musuh besar.
YOU ARE READING
There's You
Romance[Sequel Gadis] GEMATIS Gerakan Mahasiswa Apatis. Gadis yang mengusung nama kelompok ilegal itu untuk melawan himpunan mahasiswa di jurusannya yang tergolong keras dan nggak jelas. Tapi mau bagaimana pun kelompok itu menghindar, tetap akan tercium ol...
