Cerita cintanya pasaran, dia menyukai laki-laki yang tidak menyukainya. Normal kan? sama seperti manusia manusia lainnya yang cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Awalnya biasa saja, tapi seiring berjalannya waktu muncul keinginan untuk memiliki.
Menjadi penggemar rahasia mungkin mudah dijalani oleh orang lain, tapi tidak dengan perempuan yang satu ini, Jovanka Leteshia. Baginya, menyimpan perasaan bukanlah hal yang wajar. Sebagai manusia sebaiknya menyampaikan apa yang dirasakan, tidak baik memendam perasaan sendirian.
Tidak, Hal itu tidak berlaku saat ini, ia menyukai seseorang yang sangat sempurna, dan beruntungnya Jovanka satu organisasi dengan orang yang disukainya itu. Melihatnya saja sudah membuatnya cukup bahagia, ada di sampingnya membuat jantung berdebar debar.seperti itu kan rasanya jatuh cinta?
Benarkah cinta tak harus memiliki? atau memiliki tapi tak harus dicintai? kalian pilih yang mana? Cinta pada pandangan pertama atau cinta karena terbiasa? yang benar yang mana?
***
"sekian rapat hari ini, makasih yang udah sempetin dateng,next rapat tolong lebih kondusif ya, ngga ada lagi yang ada rapat di dalam rapat."
"selesai juga anjir, gila kali ya dengerin dia ngomong sambil duduk pegelnya sama kayak upacara" Ucap Vanka sambil membereskan barang-barang nya yang masih bertebaran di meja.
"yakalı pegelnya sama" ujar Darren sambil tertawa, membuat dunia vanka tiba tiba terhenti untuk sesaat.
"hah? iya haha sama" sebodoh ini kah dirinya jika ia jatuh cinta? berbicara pun lupa cara.
Darren hanya membalas dengan senyuman,tetapi tetap melelehkan hati perempuan itu.
Perempuan itu langsung pergi keluar ruangan begitu saja, takut dirinya terlihat semakin bodoh dihadapan laki laki idamannya itu.
"woy sa, gue nebeng lu yak kita kan searah"
Orang yang merasa disebut namanya itu menoleh."pala lu searah, rumah gue aja dimana, lu dimana, lagian jadi orang modal kek, di dunia ini udah ada yang namanya Go-jek"
Vanka yang baru saja ditolak pengajuan nebeng nya oleh Sasa cukup merasa sedih, bukan karena pertama kalinya ia ditolak untuk pulang bareng, tetapi karena selalu ditolak.
"Pelit amat jadi temen lo, awas aja kalo gue udah boleh naik motor, gamau gue nebengin lu"ucap sasa sambil melangkah jauh dari sasa.
"orang kebal sekali pun kalau naik motor sama lu tetep aja bisa mati" ujar sasa walaupun sama sekali tidak terdengar dikuping Vanka.
Vanka tak pantang menyerah, ia meminta ucup, dimas , johan dan 5 orang lainnya. Tetapi sama saja jawabannya.
"emang rumah lo dimana?"
"Hah?apa?" mengapa ia selalu gugup jika berada disamping Darren.
"Rumah lo dimana" Ulang darren sekali lagi.
"ohh,di Pondok cabe, kenapa mau nganterin?" ucapnya dengan pede, ia tak mungkin terus terusan kaku dihadapan orang yang disukainya. Vanka tidak ingin Darren merasa kalau ia menyukainya.
"iyaudah sama gue aja, searah kok"
Saat itu juga Darah vanka berhenti mengalir. ok lebay.
Darren jalan duluan, vanka mengikuti dibelakang sambil menahan senyumnya yang ingin sekali ia keluarkan. "apa dia suka gue juga ya?"
***
Hallo,
So ini cerita pertama aku yang baru berani di publish. Hope y all like itt
YOU ARE READING
DarreN
Teen FictionAku yang terlalu berharap? Atau dia yang terlalu memberi harapan lebih? Jovanka menyukai seorang lelaki bernama Darren, yang sangat sempurna,dan juga baik hati. Tapi apa daya Jovanka menganggap dirinya tidak sesuai dengan darren Mau tau kelanjutanny...
