Earphone yang sedang kupakai belum kucabut dari ponsel, ponsel masih mengalunkan suara-suara yang dinamis. Sekarang aku hanya ingin dunia mengalun disekitar daun telingaku, berevolusi dan berotasi disekitarku. Namun, terkadang angin berbicara kepadaku dengan mengelus tiap-tiap helai bulu mataku. Itu semua menjadi sela-sela privasiku, dimana tidak ada orang yang dapat mengganggu.
Aku mencoba untuk menjadi lebih percaya diri, aku ingin mengungkapkan. Tapi, ternyata hatiku masih lemah, belum bisa bangkit dan berdiri tegar, hanya bisa terduduk memeluk lutut disudut kamar. Jika hatiku tidak terus dilatih, akan sampai sejauh mana aku berjalan? Apa untuk satu langkah saja aku tak mampu? Berdiri di tempat pun kakiku ngilu.
Apakah disetiap waktu senggangku, aku harus berkata bahwa hatiku sedang sepi? Haruskah aku berkata bahwa pundakku butuh topangan? Tapi, itu akan sangat memalukan jika aku bertindak percaya diri (Tanpa rasa malu).
Apakah kamu yakin bahwasanya aku tidak lebih dari seonggok daging yang mesti dibenci ? Menurutku itu tak benar, aku hanya suka menjadi diriku sendiri ; aku hanya senang menjadi sepi. Walaupun begitu jika aku terus-menerus berada di dunia lain, maka seonggok daging ini akan menjadi pecah dan berserakan.
Ada sewaktu ketika suasana kelas menjadi hening, lalu diam-diam ‘sepi’ menyentuhku. Lalu aku berteriak, “ Jangan sentuh aku.” Tapi yang terdengar sebenarnya setengahnya adalah kebohongan, jauh didalam sudut hatiku ada yang merasa bahwa sebenarnya sepi mungkin adalah pilihan yang tepat. Jika kamu belum memecahkan pot tanaman, maka kamu belum tahu biji apa yang sedang dirawat dan disiram. Jika kamu belum manghancurkan hati ini, maka kamu tidak akan tahu benih-benih apa yang tengah ia rawat baik-baik. Mungkin aku memilih untuk tidak tahu.
Ketika ada sekumpulan manusia yang terlihat menikmati keramaian dan kesenangan, maka aku harus terus keluar dari arus yang deras itu. Aku takut bila kembali terseret, maka aku akan kembali dicampakkan di muara. Dari awal aku sudah memikirkan hal ini, bila aku adalah bagian dari kumpulan itu, mengapa kerapkali ketika aku mencoba menikmati keramaian, malah aku yang terlihat paling berbeda?
Ketika waktu kembali senggang haruskah aku meminta mereka untuk menjadi teman(ku) ? Aku ingin sekali keluar dari arus yang mulai membosankan ini, tapi harga diriku masih belum memberi izin kepadaku untuk menjadi bagian dari mereka. Aku tidak mau tahu bahwa mungkin saja aku adalah manusia yang paling egois ; atau aku tak mau memikirkan siapa aku.
Karena aku tak pernah menjadi bagian dari mereka, aku pun memohon kepada Tuhan di sepertiga malam untuk memberiku hati yang tak akan pernah hancur lagi ; hati baja.
Apakah aku harus mengatakan lagi bahwa hatiku lagi-lagi kembali sepi ? Tapi bila aku kembali mengungkapkan hal itu maka aku akan menjadi seorang pecundang yang seperti tak mengenal kata kalah.
Sejenak kulepas earphone-ku dari daun telingaku yang sudah sedikit pegal karena suara-suara dinamis. Lalu aku melangkah menuju pinggiran jendela kelas, aku sedikit menghelah nafas. Lalu di bawah aku melihat sesosok gadis yang terlihat seperti melambai kepadaku. Aku tak yakin bahwa aku yang tengah ia coba panggil, sampai suara kecilnya merambat melalui angin yang selalu menemaniku, namaku yang ia sebut.
-none
