Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Jungkook memandang bosan suasana pesta yang dihadirinya saat ini, kemanapun matanya memandang yang tampak di mata bulatnya hanyalah sekumpulan orang dengan stelan gaun dan jas mahal, dengan segelas wine di tangan kanan mereka. Jungkook sudah menduga sejak awal, jika pesta yang diadakan di ballroom hotel bintang lima di Korea ini akan tetap membosankan seperti sebelum-sebelumnya, tapi dia tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah appanya yang sedang terbaring di rumah sakit.
“Hei, jangan melamun terus.” Sapa Yoongi, yang baru saja tiba di pesta beberapa saat yang lalu.
“Kau datang juga.” Tanggap Jungkook dengan ekspresi datar. Dipandanginya dengan seksama, penampilan sahabatnya sejak SMA itu. Hobinya berganti rambut menjadi ciri khasnya tetap tidak hilang bahkan setelah mereka menyelesaikan kuliah mereka satu tahun yang lalu. Kali ini dia memilih warna putih, kontras dengan kulit putihnya.
“Tidak, yang datang kembaranku.” Jawab Yoongi malas. 3 bulan tidak bertemu dengan Jungkook, cowok itu tetap sama. Kelihatan cantik dengan wajah baby facenya, dan mudah bosan di acara-acara formal seperti ini. Tapi, justru itu yang membuatnya dengan mudah mengenali Jungkook di tempat ramai ini. Dia bahkan tidak mau repot-repot untuk berbaur.
“Kau tau kan aku sama sekali tak tertarik buat belajar. aku benci akuntansi.” Ujar Jungkook cepat, wajahnya berubah kelam jika harus diminta memikirkan tentang bisnis.
“Bagaimana dengan Jin?” Yoongi dengan cepat mengalihkan pertanyaan tentang adik Jungkook saat melihat wajah sahabatnya yang berubah kelam.
Jungkook mendengus mendengar pertanyaan Yoongi. Seolah itu adalah pertanyaan terlucu yang didengarnya hari ini. “Jin itu lebih parah dariku, dia mungkin lebih memilih disuruh lonncat ke jurang daripada meneruskan bisnis appa. Kau tau sendiri dia itu lebih tertarik ke bidang seni dan musik seperti aku.”
“Lalu bagaimana dengan perusahaan Jeon?”
“Tidak tau, lihat saja nanti.” Saat asyik-asyiknya bercakap dengan Yoongi, Jungkook tersentak saat hanphonenya tiba-tiba disambar oleh anak kecil yang kira-kira berumur 10 tahun, dia berlari ke arah kolam renang.
“Handphoneku.” Jungkook memandang horor anak yang membawa lari HP kesayangannya. “Pegang ini!” ucapnya kemudian menyerahkan gelasnya pada Yoongi yang tersenyum kecil melihat reaksi Jungkook yang menurutnya sedikit berlebihan.
“TUNGGU ANAK KECIL. KEMBALIKAN HANDPHONEKU!” teriak Jungkook gusar, persetan dengan jaga image. Itu adalah handphone pemberian almarhum eommanya, jadi dia tidak akan membiarkan orang lain mengambilnya. Bayangan tentang ulang tahun ke-17 dimana mamanya memberi hadiah itu berkelebat di memorinya.
Sementara itu seorang cowok dengan stelan jas biru sedang asyik mengobrol dengan sahabatnya, tidak menyadari kedatangan Jungkook yang berlari mengejar anak yang membawa handphonenya. Saat dia berbalik, tabrakan dengan Jungkook tidak bisa lagi dihindarinya.
BYUURRR Mereka berdua sukses tercebur ke kolam renang. “uhuk..uhuk.. kau tidak punya mata hah?” sembur Jungkook dengan wajah garang pada cowok di hadapannya yang memasang wajah dingin. Heran karena cewek yang menabraknya tadi malah memarahinya, bukannya minta maaf.
“Kau yang menabrakku.” Ucapnya berusaha tenang. Dilepasnya jas birunya yang terasa berat. Membuat cewek-cewek yang sedang memperhatikan mereka berdecak kagum melihatnya. Keduanya memiliki paras yang sempurna.
“Kau harusnya menghindar bodoh. Bukannya sok pahlawan dengan menangkapku.” Omel Jungkook dengan wajah juteknya, dia kemudian mengalihkan pandangannya ke sekeliling kolam, mencari anak biang masalah yang menyebabkannya jadi tontonan. Matanya kemudian bertemu pandang dengan Yoongi, yang tersenyum geli melihatnya, dilihatnya tangan Yoongi yang sudah memegang handphonenya.
“Hei, minta maaf! aku sama sekali tidak berniat untuk menolong kau tadi.” Perintah cowok itu dengan nada angkuh.
“Tidak mau!” tolak Jungkook tegas, ditatapnya kedua mata cowok itu dengan sorot mata yang tajam juga. Menunjukkan bahwa dia bukan tipe cewek yang mudah tunduk pada perintah orang lain. “Kuberi kartu namaku, supaya kau bisa mengirim permintaan ganti rugi.”
Jungkook berenang dengan angkuhnya ke pinggir kolam. Mengabaikan tatapan para tamu lain yang tertuju padanya. Dia kemudian naik dan menghampiri Yoongi.
“Terima kasih, kemana bocah tengil itu pergi?” tanya Jungkook dengan raut wajah kesal.
“Kabur, aku sama sekali tidak tertarik melihat kau melakukan penyiksaan terhadap makhluk kecil yang imut itu.” Jawab Yoongi dengan wajah sok polosnya. Tapi pujiannya terhadap anak itu tidaklah main-main, karena anak itu memang begitu mempesona hingga menguapkan amarah Yoongi yang mengejarnya.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
“Kau pikir kau mau kemana hah?” Jungkook dikejutkan oleh cekalan kuat di tangan kanannya, matanya langsung adu pandang dengan sepasang mata berwarna biru. Rambut hitam legam, basah dan menetes di wajahnya. Jungkook kemudian buru-buru mengalihkan pandangannya. Ganteng, bangsat. Rutuknya dalam hati, karena sempat mengagumi paras laki-laki di depannya tersebut. “Lepas!” Jungkook berusaha melepas cekalan tangan cowok itu padanya, namun usahanya sia-sia.
Cowok itu kemudian melakukan sesuatu yang membuat Jungkook lupa cara bernafas. Cowok itu menciumnya di depan orang banyak. “Kurasa ini cukup sebagai ganti rugi.” Cowok itu kemudian tersenyum mengejek, melepaskan cekalannya pada Jungkook yang masih belum memperoleh kesadarannya.